Kamis, 20 Desember 2012

Aku Bertahan Demi Anakku


Berdasarkan kisah seorang teman

 “Aku bertahan demi anakku”
Begitu ujar  mbak Mia dulu padaku, dua tahun lalu. Saat aku menyarankan padanya untuk meninggalkan mas Riyan, suaminya yang pengangguran dan selalu menyakitinya.
Saat sore ini tanpa sengaja kutemui dirinya lagi, kulihat dia tampak semakin rapuh. Meskipun bibirnya menghadirkan senyum, tapi matanya tak dapat berbohong bahwa dia menderita. Apalagi sembab matanya seakan berkata bahwa dia baru saja menangis. Tubuh kurusnyapun seakan turut mempertegas kondisi jiwanya yang sebenarnya.
“Mbak baik-baik saja kan?”
“Mengapa tidak pulang saja mbak. Abah sangat merindukan mbak. Jika mbak pulang ke rumah, abah pasti sangat senang” ujarku pelan.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, hanya senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Sembari menarik nafas berat, dia berkata.
“Aku seorang ibu Lin. Prioritas utamaku saat ini adalah kebahagiaan putriku, bukan kebahagiaanku. Jika aku pulang ke rumah, berarti aku memilih bercerai dari suamiku. Aku tidak mau anakku menjadi anak orang lain. Karena aku tidak yakin mas Riyan akan selamanya mengurus Naela sendirian”
“Bawa saja Naela bersama mbak, tinggal sama abah. Ada aku dan Lia yang juga akan turut membantu mengurusnya” ujarku meyakinkan. Mendengar ucapanku, kembali mbak Mia tersenyum.
“Tidak semudah itu Lin. Jika masalahnya hanya cukup dengan bercerai, membawa Naela tinggal bersama abah dan melanjutkan hidup, tentunya itu sangat mudah. Dari dulu mungkin sudah kulakukan itu. Tapi permasalahannya kan tidak semudah itu. Permasalahannya terletak pada mas Riyan. Dia tidak akan semudah itu melepaskan aku dan Naela dari hidupnya. Dan Naelapun sudah terbiasa hidup dengan ayahnya selama ini. Karena aku bekerja, sebagian besar waktu Naela dihabiskan bersama ayahnya”
“Tapi kan mas Riyan sudah semena-mena sama mbak selama ini. Dia tidak menghargai mbak sebagai istri, dia selalu menghina dan menyakiti mbak. Dia tidak pantas dijadikan suami dan imam keluarga”
Lagi, mbak Mia tetap membela suaminya.
“Bagaimanapun keadaannya, dia tetap suamiku. Lelaki yang dulu kupilih dengan yakin sebagai imamku. Jika pada kenyataannya setelah kita hidup bersama dia tidak sebaik yang aku kenal dulu, maka itu sudah menjadi takdirku. InsyaAllah aku ikhlas dengan semuanya Lin. Seikhlas aku menjalani hidup sebagai ibu dan juga tulang punggung keluarga”
Kembali aku kesal dengan pendirian teguh mbak Mia untuk satu hal ini. Padahal sudah jelas-jelas mas Riyan bukan suami yang baik dan tidak pantas dijadikan imam keluarga, masih saja dia ngotot mempertahankan rumah tangganya.
“Kau belum menikah dan belum memiliki anak. Jadi mungkin kau sulit mencerna dan mengerti dengan semuanya. Jika suatu saat nanti kau sudah menikah dan punya anak, insyaAllah kau akan mengerti dengan jalan yang aku pilih”
“Banyak alasan yang membuat seorang istri mempertahankan rumah tangganya. Seberat apapun masalah dan penderitaan yang ditanggungnya, dia tidak lantas berbalik arah dan berlalu dari jalan yang telah dipilihnya. Kadang kala anak, orang tua, rasa malu dan hal yang lain menjadi alasannya bertahan. Tidak melulu karena rasa cinta dan sayang, seseorang mempertahankan rumah tangganya. Karena setelah berumah tangga, lima puluh persen rasa cinta dan sayang itu kadang terkikis oleh banyak hal”
“Karena sebenarnya tidak ada rumah tangga yang benar-benar bahagia dan sakinah seratus persen. Pastinya, semua pernah mengalami masalah, meskipun berbeda-beda bentuknya”
Aku hanya terdiam mendengar penuturan panjang mbak Mia. Hingga akhirnya aku tersadar saat dia pamit untuk pulang, karena Naela menunggunya di rumah. Kucium tangan mbakku itu dan kulihat dia berjalan meninggalkanku. Tubuh kurusnya semakin menjauh dan hilang di tikungan jalan. Meskipun kurus, ternyata hati mbak Mia tidak serapuh badannya. Karena dia mampu bertahan dalam badai rumah tangganya yang kutahu tidaklah mudah untuk melaluinya selama bertahun-tahun. Ya Allah, mudah-mudahan dia sanggup bertahan sampai akhir dengan niat mulia dan tulusnya. Berikan dia kekuatan-Mu ya Robb. Amien…


Semoga artikel Aku Bertahan Demi Anakku bermanfaat bagi Anda.

Hikayat Kita - All Right Reserved.Powered By Blogger
Theme Designed Kumpulan artikel Menarik