Aku Bertahan Demi Anakku
Berdasarkan
kisah seorang teman
“Aku bertahan demi anakku”
Begitu ujar mbak Mia dulu padaku, dua
tahun lalu. Saat aku menyarankan padanya untuk meninggalkan mas Riyan, suaminya
yang pengangguran dan selalu menyakitinya.
Saat sore ini tanpa sengaja kutemui dirinya
lagi, kulihat dia tampak semakin rapuh. Meskipun bibirnya menghadirkan senyum,
tapi matanya tak dapat berbohong bahwa dia menderita. Apalagi sembab matanya
seakan berkata bahwa dia baru saja menangis. Tubuh kurusnyapun seakan turut
mempertegas kondisi jiwanya yang sebenarnya.
“Mbak baik-baik saja kan?”
“Mengapa tidak pulang saja mbak. Abah sangat
merindukan mbak. Jika mbak pulang ke rumah, abah pasti sangat senang” ujarku
pelan.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, hanya
senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Sembari menarik nafas berat, dia
berkata.
“Aku seorang ibu Lin. Prioritas utamaku saat ini
adalah kebahagiaan putriku, bukan kebahagiaanku. Jika aku pulang ke rumah,
berarti aku memilih bercerai dari suamiku. Aku tidak mau anakku menjadi anak
orang lain. Karena aku tidak yakin mas Riyan akan selamanya mengurus Naela
sendirian”
“Bawa saja Naela bersama mbak, tinggal sama
abah. Ada aku dan Lia yang juga akan turut membantu mengurusnya” ujarku
meyakinkan. Mendengar ucapanku, kembali mbak Mia tersenyum.
“Tidak semudah itu Lin. Jika masalahnya hanya
cukup dengan bercerai, membawa Naela tinggal bersama abah dan melanjutkan
hidup, tentunya itu sangat mudah. Dari dulu mungkin sudah kulakukan itu. Tapi
permasalahannya kan tidak semudah itu. Permasalahannya terletak pada mas Riyan.
Dia tidak akan semudah itu melepaskan aku dan Naela dari hidupnya. Dan Naelapun
sudah terbiasa hidup dengan ayahnya selama ini. Karena aku bekerja, sebagian
besar waktu Naela dihabiskan bersama ayahnya”
“Tapi kan mas Riyan sudah semena-mena sama mbak
selama ini. Dia tidak menghargai mbak sebagai istri, dia selalu menghina dan
menyakiti mbak. Dia tidak pantas dijadikan suami dan imam keluarga”
Lagi, mbak Mia tetap membela suaminya.
“Bagaimanapun keadaannya, dia tetap suamiku.
Lelaki yang dulu kupilih dengan yakin sebagai imamku. Jika pada kenyataannya
setelah kita hidup bersama dia tidak sebaik yang aku kenal dulu, maka itu sudah
menjadi takdirku. InsyaAllah aku ikhlas dengan semuanya Lin. Seikhlas aku
menjalani hidup sebagai ibu dan juga tulang punggung keluarga”
Kembali aku kesal dengan pendirian teguh mbak
Mia untuk satu hal ini. Padahal sudah jelas-jelas mas Riyan bukan suami yang
baik dan tidak pantas dijadikan imam keluarga, masih saja dia ngotot
mempertahankan rumah tangganya.
“Kau belum menikah dan belum memiliki anak. Jadi
mungkin kau sulit mencerna dan mengerti dengan semuanya. Jika suatu saat nanti
kau sudah menikah dan punya anak, insyaAllah kau akan mengerti dengan jalan
yang aku pilih”
“Banyak alasan yang membuat seorang istri
mempertahankan rumah tangganya. Seberat apapun masalah dan penderitaan yang
ditanggungnya, dia tidak lantas berbalik arah dan berlalu dari jalan yang telah
dipilihnya. Kadang kala anak, orang tua, rasa malu dan hal yang lain menjadi
alasannya bertahan. Tidak melulu karena rasa cinta dan sayang, seseorang
mempertahankan rumah tangganya. Karena setelah berumah tangga, lima puluh
persen rasa cinta dan sayang itu kadang terkikis oleh banyak hal”
“Karena sebenarnya tidak ada rumah tangga yang
benar-benar bahagia dan sakinah seratus persen. Pastinya, semua pernah
mengalami masalah, meskipun berbeda-beda bentuknya”
Aku hanya terdiam mendengar penuturan panjang
mbak Mia. Hingga akhirnya aku tersadar saat dia pamit untuk pulang, karena
Naela menunggunya di rumah. Kucium tangan mbakku itu dan kulihat dia berjalan
meninggalkanku. Tubuh kurusnya semakin menjauh dan hilang di tikungan jalan.
Meskipun kurus, ternyata hati mbak Mia tidak serapuh badannya. Karena dia mampu
bertahan dalam badai rumah tangganya yang kutahu tidaklah mudah untuk
melaluinya selama bertahun-tahun. Ya Allah, mudah-mudahan dia sanggup bertahan
sampai akhir dengan niat mulia dan tulusnya. Berikan dia kekuatan-Mu ya Robb.
Amien…
Semoga artikel Aku Bertahan Demi Anakku bermanfaat bagi Anda.