Renunganku
Hari ini hujan mengguyur bumi Cibubur. Lumayan deras dengan suara guntur yang bersahut sahutan. Di dalam kar aku berdua dengan anakku, mendekapnya dan melindunginya dari suara suara yang membuatnya terkejut dan takut. Aku dan anakku terlindungi dari deras dan dinginnya air hujan. Berselimut tebal tuk mengusir dingin yang menggigit. Tapi suamiku, entah dia ada di mana. Bagaimana dia, kedinginan atau tidak. Basah kuyup ataukah ada tempat berteduh untuknya. Dia pergi mencari nafkah, untuk kami keluarganya.
Seorang suami saat dia ke luar rumah untuk mencari nafkah, tak
pernah berfikir apakah ia akan kedinginan atau kepanasan di luar sana. Yang
penting baginya adalah melaksanakan kewajibannya, mendapatkan uang tuk memenuhi
kebutuhan anak dan istrinya. Betapa mulia keikhlasannya. Terkadang dia
mendapatkan apa yang dicarinya, tapi tidak jarang pula dia kembali dengan
tangan hampa, tidak seperti harapannya. Tapi dia tidak pernah putus asa dalam
berusaha, yang penting baginya adalah berusaha, untuk hasilnya dia selalu
memasrahkan sepenuhnya kepada yang kuasa.
Saat aku memikirkan bagaimana keadaannya di luar sana, di tengah
hujan dan suara guntur yang bersahutan, suamiku masih menyempatkan diri
menelfonku. Menanyakan keadaanku dan anakku. Bagaimana kami di rumah, apakah
baik-baik saja. Apakah anak kami rewel atau tidak. Apakah aku takut sendirian
karena hujan, angin dan guntur yang bergemuruh. Ya Allah, hatiku benar-benar
tersentuh dengan perhatiannya. Seharusnya akulah yang bertanya begitu, karena
saat ini dia sedang di luar rumah.
Terima kasih suamiku untuk cinta, perhatian dan pengorbanannmu.
Semoga semua yang kau lakukan menjadi amal yang diterima oleh-Nya dan menjadi
sebaik-baiknya bekalmu kelak ketika menghadap kepada-Nya. Amien…
Semoga artikel Renunganku bermanfaat bagi Anda.