Senin, 26 November 2012

Jika Sampai Waktuku


Sore itu seperti biasa Radit berbincang-bincang dengan pak haji, gurunya yang sekaligus pengasuh pondok Al-Hidayah, pondok yang telah lima tahun ia tinggali dan tempati untuk belajar dan memperdalam ilmu agama. Hanya saja, sore ini mungkin akan menjadi sore terakhirnya di Al-Hidayah, karena besok pagi dia akan segera berangkat ke Jogyakarta, melanjutkan kuliahnya di kota pelajar itu. Dia berhasil mendapatkan beasiswa dari Depdiknas atas prestasinya yang gemilang dan cukup membanggakan.
“Terima kasih Pak, terima kasih untuk semua kebaikan bapak selama ini pada Radit. Sekiranya bukan karena Bapak, apalah jadinya saya, anak berandalan yang tidak memiliki tujuan hidup” haru Radit berucap. Sudut matanya terasa panas ketika perkataan itu diucapkan. Dia teringat akan masa jahiliyahnya dulu. Masa ketika dia menjadi anak genk yang bisanya hanya membuat keonaran, keributan dan meresahkan masyarakat sekitar bersama teman-temannya di gang SEPUH. Dia hidup sebatang kara kala itu dan memilih jalan hidup yang keras dengan menjadi berandalan. Dia bergabung dengan Bang Maman di genk SEPUH. Pak haji datang padanya dengan mengulurkan tangan, menyelamatkan dan membimbingnya penuh kasih saat dia sekarat dan hampir mati karena over dosis.
“Jangan terlalu sungkan, Nak. Kau sudah Bapak anggap seperti anak sendiri” ujar pak haji bijak. Tatapan matanya teduh penuh kasih. Tatapan mata yang senantiasa membawa kedamain di hati Radit kala kalut melanda. Tatapan mata yang sejuk seperti telaga yang menggambarkan kejernihan hati pemiliknya yang senantiasa sabar membimbingnya ke jalan Tuhan. Tatapan mata yang senantiasa mengajarinya untuk berkata jujur dan berterus terang. Tatapan mata yang tentunya akan selalu dirindukannya di Jogyakarta nanti. Dia sungguh tidak menduga ada orang sebaik pak haji terhadapnya. Karena selama ini dia merasa hidup tidaklah ada artinya. Bahkan dia sendiri terkucilkan dan terbuang hingga akhirnya memutuskan untuk melarikan diri dari lingkungannya dan bergabung dengan genk SEPUH untuk menunjukkan eksistensinya kepada mereka yang senantiasa mencibir dan mencemoohnya.
“ Radit tahu Bapak orang baik, bahkan terlalu baik pada Radit yang bukan siapa-siapa bapak. Radit jelas tidak bisa membalas semuanya. Radit berjanji, Insya Allah akan kembali setelah lulus nanti, meneruskan cita-cita bapak membangun pondok ini ” ucapnya yakin.
Pak haji tersenyum simpul. Dia menatap pemuda di hadapannya yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Dia amat menyayangi Radit.. Berat rasanya berpisah setelah lima tahun lamanya pemuda itu bersamanya, merawatnya dengan penuh kasih dan berbakti padanya seperti layaknya anak kandung. Apalagi sejak kematian istrinya, dia hidup sendiri memimpin pondok Al-Hidayah.               
“ Semua yang bapak lakukan benar-benar Lillahi Ta’ala, Nak. Sama sekali tidak pernah mengharapkan balasan apa-apa darimu. Tapi jika kau berniat kembali ke pondok ini setelah lulus nanti, tentu bapak akan sangat senang sekali. Karena bapak memang mengharapkan begitu. Tapi bapak sama sekali tidak ingin mengekangmu, karena bapak tahu cita-citamu dari dulu, menjadi dokter spesialis, seperti yang sering kau lamunkan setiap hari ” kata-kata pak haji bijak terdengar.
“ Insya Allah cita-cita Radit tidak menghalangi keinginan Radit untuk berdakwah, Pak. Karena Radit yakin, seorang dokterpun bisa menjadi seorang muallim”
“ Alhamdulillah jika kau berpikiran seperti itu. Memang tidak salah dulu Naila, mengenalkan bapak dengan kamu “ ucap pak haji menerawang. Radit mengeryitkan dahi tidak mengerti. Apalagi ketika dilihatnya raut wajah Pak haji berubah sendu. Siapa Naila? Apa hubungannya dengan dia? Radit penasaran tidak mengerti.
“ Naila,… siapa  dia Pak ?” tanya itu terlontar juga dari bibirnya.
“ Dia keponakan bapak yang lima tahun lalu datang ke pondok ini, meminta pada bapak agar mengajakmu kejalan-Nya” maka, mengalirlah cerita panjang dari pak haji yang membuat Radit menganga tak percaya. Cerita tentang asal mula pak haji datang padanya ketika itu di gang SEPUH. Cerita tentang seorang gadis yang bernama Naila, keponakan pak haji.
@@@

Perlahan Radit membuka lembar pertama diary biru yang diberikan Pak haji padanya sore tadi. Dari harum baunya, dia tahu sekali diary itu adalah milik seorang gadis. Apalagi ketika di lembar pertama dilihatnya foto seorang dara ayu dengan jilbab biru tersenyum menyambutnya. Tertulis di sana nama “ Naila Assyifa”  dengan huruf yang terukir indah. Agak ragu tangannya membuka lembar selanjutnya. Semacam ada perasaan tidak enak membaca sesuatu yang amat pribadi milik orang lain, apalagi milik seorang gadis yang tidak pernah dikenalnya. Tapi, dia telah diperkenankan untuk membacanya. Bahkan pak haji yang menyuruhnya untuk melakukan hal itu. Karena dari Diary itulah dia akan tahu cerita yang sebenarnya. Cerita tentang seorang Naila yang menjadi pencerah baginya.

12  Maret 1996
Ya Allah, jika sampai waktuku, aku ingin meninggalkan semuanya dengan damai. Meskipun aku yakin ajal itu Engkau yang menentukan tapi aku tidak berani mengharapkan keajaiban itu. Mengharapkan kesembuhan seperti yang senantiasa Bunda katakan untuk menghiburku. Aku pasrah. Jika sampai waktuku,  aku ingin benar-benar ikhlas dengan semua taqdir ini.

22 Maret 1996
Segala puji bagi-Mu ya Allah karena Engkau telah Menyelamatkanku dari aib itu. Jika bukan karena pertolongan-Mu apalah jadinya seorang Naila yang dhoif ini. Terima kasih pula karena Engkau telah mengirimkan seseorang untuk menolongku, sehingga aku punya kesempatan mengenal seorang anak brandalan yang masih memiliki hati nurani. Meskipun ia terlihat sangar dan kasar, tapi dia begitu baik dan berhati lembut. Alhamdulillah ……
               
25 maret 1996
Dari kania, aku tahu tentangnya. Dia bernama Radit. Siswa SMP Nusa Dua yang didrop out setahun lalu karena kenakalan dan kebandelannya. Apalagi setelah terbukti dia memakai obat-obatan terlarang, pihak sekolah benar-benar tidak bisa mentoleran lagi. Dia dikeluarkan dari sekolah meskipun prestasi akademisnya lumayan bagus.

Akhir Maret 1996
Entah mengapa perkataan Kania tempo hari tentang Radit sama sekali tidak seperti yang kurasakan. Dia memang ugal-ugalan Tapi dia baik hati. Contohnya beberapa waktu lalu, dia menyelamatkanku dari kejahatan teman-temannya. Semua yang ada padanya tidaklah buruk keseluruhan. Sepertinya, dia membutuhkan seseorang yang bisa membimbingnya kembali ke jalan yang lurus. Aku yakin dia masih bisa diajak kembali pada-Nya.

Pertengahan April 1996       
Dari tangis bunda yang kudengar di ruang tengah, aku tahu hidupku tidak akan lama lagi. Apalagi rambutku yang semakin menipis dari hari ke hari serta mata dan wajahku  yang semakin menirus. Aku tahu, aku hanya tinggal menunggu waktu. Menunggu waktu hingga malaikat maut datang menjemputku. Karena leukimia ini memang telah lama bersarang di tubuhku. Tepatnya sejak aku dianugerahi-Nya kekuatan untuk bernafas dan menghirup udara.

25 April 1996
Mengingat waktuku yang hampir sampai, aku ingin dia bisa menggunakan sisa umur yang dianugerahkan-Nya untuk kembali ke jalan-Nya. Karena dia telah menyelamatkanku dari aib itu. Tapi, aku tidak mungkin melakukan semuanya sendiri. Aku butuh bantuan orang lain. Ya Allah, tunjukkan jalan-Mu, berikanlah kemudahan bagi hamba dalam hal ini.

05 mei 1996
Alhamdulillah, aku bersyukur sekali mendengar perkataan paman Hasan tadi sore. Beliau bersedia memenuhi permintaanku untuk  mengenal dan membimbingnya. Semoga saja semua ini mendapat ridha dari-Nya. Amien….
               
12 mei 1996
Jika sampai waktuku, aku ingin kembali pada-Nya tanpa meninggalkan beban. Jika sampai waktuku, aku ingin dia kembali ke jalan-Nya sebagai muslim yang kaffah. Kembali kepada fitrahnya sebagai seorang hamba. Setelah itu, aku tidak akan merasa berhutang budi lagi padanya. Aku akan meninggalkan dunia ini dengan tenang dan damai. Ya Allah, bukakan pintu hatinya, anugerahkanlah hidayah-Mu.

Akhir desember 1997
Jika hidup adalah anugerah yang harus disyukuri, maka aku ingin dia benar-benar mensyukuri semuanya dengan tidak menyia-nyiakannya. Karena aku tidak akan punya banyak waktu untuk mensyukurinya, mengingat waktuku yang terbatas. Tapi aku amat bersyukur mendengar kabar dari paman Hasan, dia sudah mulai berubah sedikit demi sedikit. Meskipun terkadang masih sering kambuh. Ya Allah, permudah jalan baginya untuk kembali kepada-Mu. Amien….
@@@

Radit yang tengah berusaha memejamkan mata karena begadang semalaman urung melanjutkan petualangannya ke pulau kapuk. Didengarnya suara seseorang berteriak histeris minta tolong. Suara seorang gadis. Kali pertama dicobanya untuk tidak perduli, mengacuhkannya. Karena matanya benar-benar sudah tidak bisa diajak kompromi. Tapi semakin dicobanya untuk cuek, suara itu semakin mengusiknya, semakin deras mengetuk-ngetuk gendang telinganya. Suara itu berubah menjadi serak, hampir menangis dan putus asa di sela tawa teman-temannya yang membahana.  Satu hal yang paling dibencinya. Meskipun dia nakal dan urakan, tapi sama sekali dia tidak setuju jika ada temannya melecehkan seorang wanita. Karena kesal dan merasa terganggu, akhirnya ia pun bangkit dengan geram.
                Tak jauh dari markas genk SEPUH, tampak teman-temannya sedang mengepung seorang gadis yang mulai terpojok di jalan buntu. Mereka tertawa bahagia melihat mangsanya ketakutan dan terpojok tidak menemukan jalan untuk melepaskan diri. Dia tahu teman-temannya masih dalam pengaruh alkohol. Karena semalam mereka bersama menenggak bir di markas genk SEPUH. Dilihatnya Fery, salah seorang teman sekaligus rivalnya mendekati gadis itu. Dengan tawanya yang jelek dia semakin merangsek ke depan mendekati gadis di hadapannya yang wajahnya semakin memucat karena takut. Tangannya terulur hendak menjamah jilbab yang dikenakan gadis itu.
                “ Hentikan !!!” lantang suara Radit mengejutkan semua yang ada di tempat itu. Ferypun urung melanjutkan aksinya. Entah mengapa tiba-tiba saja emosi Radit naik dan membuncah melihat perbuatan Fery yang dianggapnya tidak senonoh. Fery yang dibentak tampak terkejut dan marah pula kepadanya. Dia merasa tidak senang ada yang menghalangi niatnya, meskipun itu temannya sendiri.
                “ Apa maksud loe, Dit ? Loe juga nafsu ya sama nih gadis? “tanya Fery sinis. Mendengar ucapan itu Radit semakin muak. Apalagi dilihatnya sikap Fery yang menantang dan mencibir ke arahnya.
                “ Loe ga’ usah sok jago Fer ! Loe tahu, gue nggak suka kalian nganggu wanita. Pantang!! So, tinggalkan dia, atau loe berurusan sama gue” Ujarnya mengancam. Radit menunjuk muka Fery dan menatap tajam ke arahnya. Fery hanya mencibir. Dari dulu sebenarnya dia tidak pernah menyukai Radit. Meskipun dia anggota genk, tapi dia benar-benar muak dan tidak suka dengannya. Apalagi dia senantiasa iri melihat Radit yang selalu dipuji-pui oleh Bang Maman, ketua genk.
                “ Bahh…, enak saja loe bilang gitu. Nih anak udah jadi inceran gue dari dulu.  Mana bisa barang bagus kayak dia dilepas begitu saja. Itu nggak mungkin ..!!”
                “ Oke, loe mau berurusan sama gue rupanya. Gue tantang loe untuk gadis itu. Jika loe bisa ngalahin gue, loe ambil dia. Jika nggak, lepaskan dia.  Gimana, Setuju?”
                Berang, Radit menatap tajam ke arah Fery. Yang ditatap sama sekali tidak merasa gentar.  Selama ini, sebenarnya  Fery senantiasa mencari kesempatan untuk menjatuhkan dan menendang Radit ke luar dari genk. Tapi tak pernah ada momen bagus. Hari ini, hari yang sama sekali tidak disangkanya ini, dia ingin anak itu benar-benar pergi dan tidak kembali lagi. Toh, kalaupun dia mati dalam berduel nanti tidak akan ada yang membela dia. Karena Radit memang gembel yang pantas enyah dari dunia ini. Fery tersenyum mendapatkan pikiran bagus yang datang tiba-tiba itu.
Akhirnya terjadilah perkelahian seru satu lawan satu. Perkelahian Radit  dengan Fery. Anggota genk yang lain menjadi juri sekaligus saksi buat mereka. Karena masih belum fit, untuk pertama kalinya Radit benar-benar kewalahan melayani serangan-serangan Fery yang amat bernafsu dan membabi buta.  Apalagi ditilik dari postur fisik, badan Fery jelas lebih besar dibandingkan Radit. Dia sendiri merutuk dalam hati mengapa memilih jalan konyol ini. Tapi demi dilihatnya gadis berjilbab itu begitu memelas ketakutan di tembok jalan buntu tiba-tiba saja kekuatan itu datang. Kekuatan untuk melindungi seseorang yang begitu mirip dengan Bundanya yang malang. Bunda yang membuatnya terlahir ke dunia  karena perbuatan bejat Prakoso, preman kampung yang telah merenggut kegadisan beliau di usia muda.  Karena hal itulah Bunda harus hidup sebatang kara dan terlunta-lunta. Tapi perempuan itu memilih melahirkan dan membesarkannya meski harus menebalkan telinga mendengar ucapan dan gunjingan para tetangga yang senantiasa melukai hati. Radit tahu benar betapa Bunda menderita karena aib yang tidak semestinya terjadi itu. Sekiranya dulu ada seseorang yang memiliki hati dan berani menyelamatkannya dari cengkraman preman bejat itu.  Mungkin Bunda tidak akan bernasib malang dan menderita seumur hidup.
Mengingat kemalangan bunda dan penderitaan panjang yang dialaminya tiba-tiba saja Radit  menjadi kuat. Dengan segenap kekuatan yang dimilikinya, dia menghajar Fery habis-habisan. Dia benar-benar kalap. Radit sama sekali tidak memberi kesempatan bagi Fery untuk memberikan perlawanan balik. Dia benar-benar tidak main-main. Bahkan dia tidak lagi menghiraukan ucapan Bang Maman yang berteriak-teriak menyuruh mereka berhenti berkelahi. Dia hanya ingin melampiaskan seluruh kemarahannya saat ini. Marah semarah marahnya pada orang seperti Fery yang bejat dan jahat.
Setelah cukup lama menjadi bulan-bulanan Radit, akhirnya Fery ambruk, terjerembab di atas tanah. Dari mulutnya mengalir darah segar. Wajahnya babak belur tak lagi berbentuk. Yang terdengar dari mulutnya hanya ringisan kesakitan, sedang dia  tak lagi mampu menggerakkan badan. Anggota genk yang lain tidak ada yang berani mendekat. Apalagi wajah sangar Radit kala itu masih mengobarkan emosi.
Satu persatu teman-temannya beranjak, meninggalkan tempat kejadian sambil menggotong tubuh Fery yang luluh lantak. Di tempatnya kini, hanya tinggal dia seorang dan gadis yang memojok di tembok jalan buntu. Perlahan dia mendekat. Dipungutnya tas gadis yang berserakan di tanah. Diulurkannya tas itu pada empunya. Tapi gadis itu malah mundur, menghindarinya. Gadis itu masih gemetar, ketakutan. Wajahnya masih pias, meski tak sepias sebelumnya.
“ Perbaiki jibab loe ! Sudah sore, gue antar loe pulang !”
Entah dari mana dia mendapat ide baik itu. Dia sendiri heran. Karena selama ini dia menduga telah kehilangan hati nurani. Bahkan dia merasa hati nuraninya telah lama mati karena kekerasan hidup yang dijalaninya. Ternyata dugaannya salah. Tiba-tiba saja dia merasa menyesal mengucapkannya. Tapi sudah terlanjur, pikirnya. Sekalian saja berbuat baik. Tidak tanggung-tanggung. Sekali lagi, bisikan hati kecilnya membuat Radit terheran pada diri sendiri. Tapi gadis itu tidak percaya. Dia masih belum yakin, pemuda di hadapannya ini benar-benar baik. Meskipun dia telah menyelamatkan dirinya, toh tidak menutup kemungkinan dia setali tiga uang dengan temannya yang tadi. Dia bergeming.
“ Mau pulang nggak? “ tanya Radit sekali lagi
“ Ta…tapi……..”
“ Loe takut ma gue?. Tenang, gue tahu gue bajingan. Tapi pantang bagi gue nyakitin  perempuan. Apalagi gadis seperti loe. Karena gue juga punya nyokap. Cepat, nanti bokap dan nyokap loe cemas nyariin loe”
Mendengar  perkatan pemuda itu, gadis segera berkemas dan diikutinya langkah Radit menuju sepeda besarnya. Dia agak ragu untuk naik. Apalagi berboncengan dengan pemuda brandalan sepertinya. Dan Radit menangkap keraguan itu di sorot jernih mata gadis di samping motornya itu.
“ Loe risih jalan ma gue? Tenang, gue agak ke depan nggak bakalan nyentuh loe. Percayalah, gue tulus ngelakuin semuanya Lilllahi,”
Mendengar pemuda itu menyebut nama Allah, tidak lagi tersisa di hati gadis keraguan terhadapnya. Karena menurut feelingnya, sejahat-jahatnya orang ketika dia benar-benar mengingat Tuhannya berarti dia masih memiliki hati nurani. Tidak terkecuali pemuda brandalan yang telah babak belur menyelamatkannya beberapa menit lalu. Segera dia naik dan berpegangan pada bagian belakang sepeda Radit. Tampaknya Radit mengerti. Dijalankannya motor perlahan. Tidak ngebut seperti biasanya.  Dia pun menuruti intruksi gadis yang menunjukkan arah jalan pulang ke rumahnya.
Menjelang magrib, Radit sampai di rumah gadis yang ditolongnya. Dia hendak menjalankan motornya kembali ketika suara gadis itu mencegahnya.
“ Tidak diobati dulu lukanya? Ayo mampir!” ucapnya tiba-tiba. Radit tersenyum mendengar tawaran gadis itu.
“ Nggak usah, Udah malem. Gue bisa ngobatin ini sendiri. Lagian, gue nggak ingin digebukin ma nyokap loe melihat anak gadisnya dateng malem-malem ma gue. Cepet sana masuk! Lain kali aja gue mampir”
Mendengar  ucapan Radit, gadis itupun ikut tersenyum.
“ Oke, makasih banyak ya! Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan yang lebih baik. Oya, Jangan lupa, lain kali mampir di rumahku” ucapnya dengan senyum tulus.
Setelah mengakhiri ucapannya, gadis itu membuka pintu pagar dan masuk ke dalam rumah. Radit menungguinya hingga ia hilang di balik pintu. Serta merta dia menstater kembali motor besarnya. Dia tersenyum simpul. Ternyata, masih ada yang percaya padanya. Pada anak brandalan dan preman sepertinya. Gadis yang telah ditolongnya itu begitu baik dan tulus tersenyum padanya. Bahkan gadis itu menyuruhnya mampir lain kali. Padahal selama ini, orang-orang yang telah lama dikenalnyapun tidak pernah menganggap keberadaannya. Karena bagi mereka dia adalah sampah.
@@@
                Pagi itu, matahari masih malu-malu menampakkan diri. Bias sinarnya menggoreskan rona kemerahan yang cerah di ufuk timur. Bunga kamboja yang melayu dan berguguran menggambarkan suasana pekuburan yang khas dan sepi. Beberapa nisan yang sudah lama tampak berlumut karena dimakan waktu. Di sebuah kuburan yang masih tampak bersih dan terawat, Radit duduk bersimpuh. Dia memanjatkan do’a di samping kuburan Naila. Dulu, tepatnya dua bulan lalu, Radit dan Pak Haji ikut serta mengantarkan jenazahnya. Ketika itu, dia tidak mengetahui kalau jenazah yang disembahyangi dan diantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya  itu adalah Naila, gadis yang lima tahun lalu pernah ditolongnya. Diapun tidak pernah tahu sebelumnya bahwa atas inisiatif gadis itulah pak Haji mengangkatnya sebagai anak. Sungguh, seandainya waktu bisa diulang, Radit ingin kembali mengulangnya. Mengulang ke masa di mana Naila masih bisa ditemuinya. Dia ingin sekali berterima kasih pada gadis baik hati itu. Pada gadis yang begitu peduli pada jalan hidupnya. Tapi semuanya tentu tidak mungkin. Karena takdir tidak bisa ditolak. Maka, yang bisa Radit lakukan saat ini, sebelum dia berangkat siang nanti ke Jogyakarta, adalah memanjatkan do’a setulus-tulusnya untuk Naila agar dia diberi kelapangan oleh-Nya dan diampuni dosanya di alam sana.
                Masih dalam kekhusukan do’anya, Radit mendengar suara langkah kaki mendekat. Ditolehnya ke belakang. Seraut wajah paruh baya didapati Radit sedang menatap ke arahnya. Dia ingat, beliau adalah ibunda Naila, yang diperkenalkan pak haji kepadanya dua bulan lalu ketika mereka ta’ziah. Garis wajah dan perawakannya sangat mirip dengan Naila. Beliau tersenyum hangat ke arahnya. Segera Radit mendekat ke arah perempuan itu. Dengan ta’dzim diciuminya tangan ibunda Naila.
                “ Mohon do’a dan restu Bu. InsyaAllah siang nanti Radit berangkat ke Jogyakarta” ujarnya penuh hormat. Lembut, Radit merasakan tangan wanita itu membelai lembut kepalanya penuh kasih. Dia jadi teringat pada Bundanya yang telah lama perpulang ke haribaan-Nya beberapa tahun silam.
                “ Semoga sukses Nak. InsyaAllah Naila turut bangga dan bahagia melihat keadaanmu sekarang.” ujarnya perlahan. Radit tersenyum getir. Dia dapat merasakan kepedihan dan kegetiran wanita di hadapannya, yang baru dua bulan lalu ditinggalkan Naila, putri semata wayangnya. Tapi Radit tahu, beliau adalah wanita yang tegar.
                Akhirnya, mereka bersama memanjatkan do’a untuk Naila. Kicauan burung yang bernyanyi di ranting-ranting pohon seakan turut berdo’a untuk Naila saat itu. Dua anak manusia beda generasi itu memanjatkan do’a untuk Naila, yang terbaring di rumah abadinya.
“ Terima kasih untuk kebaikan hatimu. Terima kasih karena kau sudah mengahargaiku melebihi dari siapapun yang pernah kukenal. Insya Allah aku tidak akan menyia-nyiakan anugerah hidup yang telah dianugerahkan-Nya padaku.  Aku berjanji, akan menjadi orang berguna. Jika Allah meridhai, suatu saat aku akan kembali menjadi pencerah bagi mereka yang terperangkap gelap sepertiku dulu.  Semoga kelapangan dan kebahagiaan senantiasa  dianugerahkan-Nya padamu. Amien………….”




Semoga artikel Jika Sampai Waktuku bermanfaat bagi Anda.

Hikayat Kita - All Right Reserved.Powered By Blogger
Theme Designed Kumpulan artikel Menarik