Jika Sampai Waktuku
Sore itu seperti biasa
Radit berbincang-bincang dengan pak haji, gurunya yang sekaligus pengasuh
pondok Al-Hidayah, pondok yang telah lima tahun ia tinggali dan tempati untuk
belajar dan memperdalam ilmu agama. Hanya saja, sore ini mungkin akan menjadi
sore terakhirnya di Al-Hidayah, karena besok pagi dia akan segera berangkat ke
Jogyakarta, melanjutkan kuliahnya di kota pelajar itu. Dia berhasil mendapatkan
beasiswa dari Depdiknas atas prestasinya yang gemilang dan cukup membanggakan.
“Terima kasih Pak, terima
kasih untuk semua kebaikan bapak selama ini pada Radit. Sekiranya bukan karena
Bapak, apalah jadinya saya, anak berandalan yang tidak memiliki tujuan hidup”
haru Radit berucap. Sudut matanya terasa panas ketika perkataan itu diucapkan.
Dia teringat akan masa jahiliyahnya dulu. Masa ketika dia menjadi anak genk
yang bisanya hanya membuat keonaran, keributan dan meresahkan masyarakat
sekitar bersama teman-temannya di gang SEPUH. Dia hidup sebatang kara kala itu
dan memilih jalan hidup yang keras dengan menjadi berandalan. Dia bergabung
dengan Bang Maman di genk SEPUH. Pak haji datang padanya dengan mengulurkan
tangan, menyelamatkan dan membimbingnya penuh kasih saat dia sekarat dan hampir
mati karena over dosis.
“Jangan terlalu sungkan,
Nak. Kau sudah Bapak anggap seperti anak sendiri” ujar pak haji bijak. Tatapan
matanya teduh penuh kasih. Tatapan mata yang senantiasa membawa kedamain di
hati Radit kala kalut melanda. Tatapan mata yang sejuk seperti telaga yang
menggambarkan kejernihan hati pemiliknya yang senantiasa sabar membimbingnya ke
jalan Tuhan. Tatapan mata yang senantiasa mengajarinya untuk berkata jujur dan
berterus terang. Tatapan mata yang tentunya akan selalu dirindukannya di
Jogyakarta nanti. Dia sungguh tidak menduga ada orang sebaik pak haji
terhadapnya. Karena selama ini dia merasa hidup tidaklah ada artinya. Bahkan dia
sendiri terkucilkan dan terbuang hingga akhirnya memutuskan untuk melarikan
diri dari lingkungannya dan bergabung dengan genk SEPUH untuk menunjukkan
eksistensinya kepada mereka yang senantiasa mencibir dan mencemoohnya.
“ Radit tahu Bapak orang
baik, bahkan terlalu baik pada Radit yang bukan siapa-siapa bapak. Radit jelas
tidak bisa membalas semuanya. Radit berjanji, Insya Allah akan kembali setelah
lulus nanti, meneruskan cita-cita bapak membangun pondok ini ” ucapnya yakin.
Pak haji tersenyum simpul. Dia menatap pemuda di hadapannya yang sudah dianggap
sebagai anaknya sendiri. Dia amat menyayangi Radit.. Berat rasanya berpisah
setelah lima tahun lamanya pemuda itu bersamanya, merawatnya dengan penuh kasih
dan berbakti padanya seperti layaknya anak kandung. Apalagi sejak kematian
istrinya, dia hidup sendiri memimpin pondok
Al-Hidayah.
“ Semua yang bapak lakukan
benar-benar Lillahi Ta’ala, Nak. Sama sekali tidak pernah mengharapkan balasan
apa-apa darimu. Tapi jika kau berniat kembali ke pondok ini setelah lulus
nanti, tentu bapak akan sangat senang sekali. Karena bapak memang mengharapkan
begitu. Tapi bapak sama sekali tidak ingin mengekangmu, karena bapak tahu
cita-citamu dari dulu, menjadi dokter spesialis, seperti yang sering kau
lamunkan setiap hari ” kata-kata pak haji bijak terdengar.
“ Insya Allah cita-cita Radit tidak menghalangi keinginan Radit untuk
berdakwah, Pak. Karena Radit yakin, seorang dokterpun bisa menjadi seorang
muallim”
“ Alhamdulillah jika kau berpikiran seperti itu. Memang tidak salah dulu Naila,
mengenalkan bapak dengan kamu “ ucap pak haji menerawang. Radit mengeryitkan
dahi tidak mengerti. Apalagi ketika dilihatnya raut wajah Pak haji berubah
sendu. Siapa Naila? Apa hubungannya dengan dia? Radit penasaran tidak mengerti.
“ Naila,… siapa dia Pak ?” tanya itu terlontar juga dari bibirnya.
“ Dia keponakan bapak yang lima tahun lalu datang ke pondok ini, meminta pada
bapak agar mengajakmu kejalan-Nya” maka, mengalirlah cerita panjang dari pak
haji yang membuat Radit menganga tak percaya. Cerita tentang asal mula pak haji
datang padanya ketika itu di gang SEPUH. Cerita tentang seorang gadis yang
bernama Naila, keponakan pak haji.
@@@
Perlahan Radit membuka lembar pertama diary biru yang diberikan Pak haji
padanya sore tadi. Dari harum baunya, dia tahu sekali diary itu adalah milik
seorang gadis. Apalagi ketika di lembar pertama dilihatnya foto seorang dara
ayu dengan jilbab biru tersenyum menyambutnya. Tertulis di sana nama “
Naila Assyifa” dengan huruf yang terukir indah. Agak ragu
tangannya membuka lembar selanjutnya. Semacam ada perasaan tidak enak membaca
sesuatu yang amat pribadi milik orang lain, apalagi milik seorang gadis yang
tidak pernah dikenalnya. Tapi, dia telah diperkenankan untuk membacanya. Bahkan
pak haji yang menyuruhnya untuk melakukan hal itu. Karena dari Diary itulah dia
akan tahu cerita yang sebenarnya. Cerita tentang seorang Naila yang menjadi pencerah
baginya.
12 Maret 1996
Ya Allah, jika sampai waktuku, aku ingin meninggalkan semuanya dengan damai.
Meskipun aku yakin ajal itu Engkau yang menentukan tapi aku tidak berani
mengharapkan keajaiban itu. Mengharapkan kesembuhan seperti yang senantiasa
Bunda katakan untuk menghiburku. Aku pasrah. Jika sampai waktuku, aku
ingin benar-benar ikhlas dengan semua taqdir ini.
22 Maret 1996
Segala puji bagi-Mu ya Allah karena Engkau telah Menyelamatkanku dari aib itu.
Jika bukan karena pertolongan-Mu apalah jadinya seorang Naila yang dhoif ini.
Terima kasih pula karena Engkau telah mengirimkan seseorang untuk menolongku,
sehingga aku punya kesempatan mengenal seorang anak brandalan yang masih
memiliki hati nurani. Meskipun ia terlihat sangar dan kasar, tapi dia begitu
baik dan berhati lembut. Alhamdulillah ……
25 maret 1996
Dari kania, aku tahu tentangnya. Dia bernama Radit. Siswa SMP Nusa Dua yang
didrop out setahun lalu karena kenakalan dan kebandelannya. Apalagi setelah
terbukti dia memakai obat-obatan terlarang, pihak sekolah benar-benar tidak
bisa mentoleran lagi. Dia dikeluarkan dari sekolah meskipun prestasi
akademisnya lumayan bagus.
Akhir Maret 1996
Entah mengapa perkataan Kania tempo hari tentang Radit sama sekali tidak
seperti yang kurasakan. Dia memang ugal-ugalan Tapi dia baik hati. Contohnya
beberapa waktu lalu, dia menyelamatkanku dari kejahatan teman-temannya. Semua
yang ada padanya tidaklah buruk keseluruhan. Sepertinya, dia membutuhkan
seseorang yang bisa membimbingnya kembali ke jalan yang lurus. Aku yakin dia
masih bisa diajak kembali pada-Nya.
Pertengahan April
1996
Dari tangis bunda yang
kudengar di ruang tengah, aku tahu hidupku tidak akan lama lagi. Apalagi
rambutku yang semakin menipis dari hari ke hari serta mata dan wajahku
yang semakin menirus. Aku tahu, aku hanya tinggal menunggu waktu. Menunggu
waktu hingga malaikat maut datang menjemputku. Karena leukimia ini memang telah
lama bersarang di tubuhku. Tepatnya sejak aku dianugerahi-Nya kekuatan untuk
bernafas dan menghirup udara.
25 April 1996
Mengingat waktuku yang hampir sampai, aku ingin dia bisa menggunakan sisa umur
yang dianugerahkan-Nya untuk kembali ke jalan-Nya. Karena dia telah
menyelamatkanku dari aib itu. Tapi, aku tidak mungkin melakukan semuanya
sendiri. Aku butuh bantuan orang lain. Ya Allah, tunjukkan jalan-Mu, berikanlah
kemudahan bagi hamba dalam hal ini.
05 mei 1996
Alhamdulillah, aku bersyukur sekali mendengar perkataan paman Hasan tadi sore.
Beliau bersedia memenuhi permintaanku untuk mengenal dan membimbingnya.
Semoga saja semua ini mendapat ridha dari-Nya. Amien….
12 mei 1996
Jika sampai waktuku, aku
ingin kembali pada-Nya tanpa meninggalkan beban. Jika sampai waktuku, aku ingin
dia kembali ke jalan-Nya sebagai muslim yang kaffah. Kembali kepada fitrahnya
sebagai seorang hamba. Setelah itu, aku tidak akan merasa berhutang budi lagi padanya.
Aku akan meninggalkan dunia ini dengan tenang dan damai. Ya Allah, bukakan
pintu hatinya, anugerahkanlah hidayah-Mu.
Akhir desember 1997
Jika hidup adalah anugerah yang harus disyukuri, maka aku ingin dia benar-benar
mensyukuri semuanya dengan tidak menyia-nyiakannya. Karena aku tidak akan punya
banyak waktu untuk mensyukurinya, mengingat waktuku yang terbatas. Tapi aku
amat bersyukur mendengar kabar dari paman Hasan, dia sudah mulai berubah
sedikit demi sedikit. Meskipun terkadang masih sering kambuh. Ya Allah,
permudah jalan baginya untuk kembali kepada-Mu. Amien….
@@@
Radit yang tengah berusaha memejamkan mata karena begadang
semalaman urung melanjutkan petualangannya ke pulau kapuk. Didengarnya suara
seseorang berteriak histeris minta tolong. Suara seorang gadis. Kali pertama
dicobanya untuk tidak perduli, mengacuhkannya. Karena matanya benar-benar sudah
tidak bisa diajak kompromi. Tapi semakin dicobanya untuk cuek, suara itu
semakin mengusiknya, semakin deras mengetuk-ngetuk gendang telinganya. Suara
itu berubah menjadi serak, hampir menangis dan putus asa di sela tawa
teman-temannya yang membahana. Satu hal yang paling dibencinya. Meskipun
dia nakal dan urakan, tapi sama sekali dia tidak setuju jika ada temannya
melecehkan seorang wanita. Karena kesal dan merasa terganggu, akhirnya ia pun
bangkit dengan geram.
Tak jauh dari markas genk SEPUH, tampak teman-temannya sedang mengepung seorang
gadis yang mulai terpojok di jalan buntu. Mereka tertawa bahagia melihat
mangsanya ketakutan dan terpojok tidak menemukan jalan untuk melepaskan diri.
Dia tahu teman-temannya masih dalam pengaruh alkohol. Karena semalam mereka
bersama menenggak bir di markas genk SEPUH. Dilihatnya Fery, salah seorang
teman sekaligus rivalnya mendekati gadis itu. Dengan tawanya yang jelek dia
semakin merangsek ke depan mendekati gadis di hadapannya yang wajahnya semakin
memucat karena takut. Tangannya terulur hendak menjamah jilbab yang dikenakan
gadis itu.
“ Hentikan !!!” lantang suara Radit mengejutkan semua yang ada di tempat itu.
Ferypun urung melanjutkan aksinya. Entah mengapa tiba-tiba saja emosi Radit
naik dan membuncah melihat perbuatan Fery yang dianggapnya tidak senonoh. Fery
yang dibentak tampak terkejut dan marah pula kepadanya. Dia merasa tidak senang
ada yang menghalangi niatnya, meskipun itu temannya sendiri.
“ Apa maksud loe, Dit ? Loe juga nafsu ya sama nih gadis? “tanya Fery sinis.
Mendengar ucapan itu Radit semakin muak. Apalagi dilihatnya sikap Fery yang
menantang dan mencibir ke arahnya.
“ Loe ga’ usah sok jago Fer ! Loe tahu, gue nggak suka kalian nganggu wanita. Pantang!!
So, tinggalkan dia, atau loe berurusan sama gue” Ujarnya mengancam. Radit
menunjuk muka Fery dan menatap tajam ke arahnya. Fery hanya mencibir. Dari dulu
sebenarnya dia tidak pernah menyukai Radit. Meskipun dia anggota genk, tapi dia
benar-benar muak dan tidak suka dengannya. Apalagi dia senantiasa iri melihat
Radit yang selalu dipuji-pui oleh Bang Maman, ketua genk.
“ Bahh…, enak saja loe bilang gitu. Nih anak udah jadi inceran gue dari
dulu. Mana bisa barang bagus kayak dia dilepas begitu saja. Itu nggak
mungkin ..!!”
“ Oke, loe mau berurusan sama gue rupanya. Gue tantang loe untuk gadis itu.
Jika loe bisa ngalahin gue, loe ambil dia. Jika nggak, lepaskan dia.
Gimana, Setuju?”
Berang, Radit menatap tajam ke arah Fery. Yang ditatap sama sekali tidak merasa
gentar. Selama ini, sebenarnya Fery senantiasa mencari kesempatan
untuk menjatuhkan dan menendang Radit ke luar dari genk. Tapi tak pernah ada
momen bagus. Hari ini, hari yang sama sekali tidak disangkanya ini, dia ingin
anak itu benar-benar pergi dan tidak kembali lagi. Toh, kalaupun dia mati dalam
berduel nanti tidak akan ada yang membela dia. Karena Radit memang gembel yang
pantas enyah dari dunia ini. Fery tersenyum mendapatkan pikiran bagus yang
datang tiba-tiba itu.
Akhirnya terjadilah
perkelahian seru satu lawan satu. Perkelahian Radit dengan Fery. Anggota
genk yang lain menjadi juri sekaligus saksi buat mereka. Karena masih belum
fit, untuk pertama kalinya Radit benar-benar kewalahan melayani
serangan-serangan Fery yang amat bernafsu dan membabi buta. Apalagi
ditilik dari postur fisik, badan Fery jelas lebih besar dibandingkan Radit. Dia
sendiri merutuk dalam hati mengapa memilih jalan konyol ini. Tapi demi
dilihatnya gadis berjilbab itu begitu memelas ketakutan di tembok jalan buntu
tiba-tiba saja kekuatan itu datang. Kekuatan untuk melindungi seseorang yang
begitu mirip dengan Bundanya yang malang. Bunda yang membuatnya terlahir ke
dunia karena perbuatan bejat Prakoso, preman kampung yang telah merenggut
kegadisan beliau di usia muda. Karena hal itulah Bunda harus hidup
sebatang kara dan terlunta-lunta. Tapi perempuan itu memilih melahirkan dan
membesarkannya meski harus menebalkan telinga mendengar ucapan dan gunjingan
para tetangga yang senantiasa melukai hati. Radit tahu benar betapa Bunda
menderita karena aib yang tidak semestinya terjadi itu. Sekiranya dulu ada
seseorang yang memiliki hati dan berani menyelamatkannya dari cengkraman preman
bejat itu. Mungkin Bunda tidak akan bernasib malang dan menderita seumur
hidup.
Mengingat kemalangan bunda
dan penderitaan panjang yang dialaminya tiba-tiba saja Radit menjadi
kuat. Dengan segenap kekuatan yang dimilikinya, dia menghajar Fery
habis-habisan. Dia benar-benar kalap. Radit sama sekali tidak memberi
kesempatan bagi Fery untuk memberikan perlawanan balik. Dia benar-benar tidak
main-main. Bahkan dia tidak lagi menghiraukan ucapan Bang Maman yang
berteriak-teriak menyuruh mereka berhenti berkelahi. Dia hanya ingin
melampiaskan seluruh kemarahannya saat ini. Marah semarah marahnya pada orang
seperti Fery yang bejat dan jahat.
Setelah cukup lama menjadi
bulan-bulanan Radit, akhirnya Fery ambruk, terjerembab di atas tanah. Dari
mulutnya mengalir darah segar. Wajahnya babak belur tak lagi berbentuk. Yang
terdengar dari mulutnya hanya ringisan kesakitan, sedang dia tak lagi
mampu menggerakkan badan. Anggota genk yang lain tidak ada yang berani
mendekat. Apalagi wajah sangar Radit kala itu masih mengobarkan emosi.
Satu persatu teman-temannya
beranjak, meninggalkan tempat kejadian sambil menggotong tubuh Fery yang luluh
lantak. Di tempatnya kini, hanya tinggal dia seorang dan gadis yang memojok di
tembok jalan buntu. Perlahan dia mendekat. Dipungutnya tas gadis yang
berserakan di tanah. Diulurkannya tas itu pada empunya. Tapi gadis itu malah
mundur, menghindarinya. Gadis itu masih gemetar, ketakutan. Wajahnya masih
pias, meski tak sepias sebelumnya.
“ Perbaiki jibab loe !
Sudah sore, gue antar loe pulang !”
Entah dari mana dia
mendapat ide baik itu. Dia sendiri heran. Karena selama ini dia menduga telah
kehilangan hati nurani. Bahkan dia merasa hati nuraninya telah lama mati karena
kekerasan hidup yang dijalaninya. Ternyata dugaannya salah. Tiba-tiba saja dia
merasa menyesal mengucapkannya. Tapi sudah terlanjur, pikirnya. Sekalian saja
berbuat baik. Tidak tanggung-tanggung. Sekali lagi, bisikan hati kecilnya
membuat Radit terheran pada diri sendiri. Tapi gadis itu tidak percaya. Dia
masih belum yakin, pemuda di hadapannya ini benar-benar baik. Meskipun dia
telah menyelamatkan dirinya, toh tidak menutup kemungkinan dia setali tiga uang
dengan temannya yang tadi. Dia bergeming.
“ Mau pulang nggak? “ tanya
Radit sekali lagi
“ Ta…tapi……..”
“ Loe takut ma gue?.
Tenang, gue tahu gue bajingan. Tapi pantang bagi gue nyakitin perempuan.
Apalagi gadis seperti loe. Karena gue juga punya nyokap. Cepat, nanti bokap dan
nyokap loe cemas nyariin loe”
Mendengar perkatan
pemuda itu, gadis segera berkemas dan diikutinya langkah Radit menuju sepeda
besarnya. Dia agak ragu untuk naik. Apalagi berboncengan dengan pemuda
brandalan sepertinya. Dan Radit menangkap keraguan itu di sorot jernih mata
gadis di samping motornya itu.
“ Loe risih jalan ma gue?
Tenang, gue agak ke depan nggak bakalan nyentuh loe. Percayalah, gue tulus
ngelakuin semuanya Lilllahi,”
Mendengar pemuda itu
menyebut nama Allah, tidak lagi tersisa di hati gadis keraguan terhadapnya.
Karena menurut feelingnya, sejahat-jahatnya orang ketika dia benar-benar
mengingat Tuhannya berarti dia masih memiliki hati nurani. Tidak terkecuali
pemuda brandalan yang telah babak belur menyelamatkannya beberapa menit lalu.
Segera dia naik dan berpegangan pada bagian belakang sepeda Radit. Tampaknya
Radit mengerti. Dijalankannya motor perlahan. Tidak ngebut seperti
biasanya. Dia pun menuruti intruksi gadis yang menunjukkan arah jalan
pulang ke rumahnya.
Menjelang magrib, Radit
sampai di rumah gadis yang ditolongnya. Dia hendak menjalankan motornya kembali
ketika suara gadis itu mencegahnya.
“ Tidak diobati dulu
lukanya? Ayo mampir!” ucapnya tiba-tiba. Radit tersenyum mendengar tawaran
gadis itu.
“ Nggak usah, Udah malem.
Gue bisa ngobatin ini sendiri. Lagian, gue nggak ingin digebukin ma nyokap loe
melihat anak gadisnya dateng malem-malem ma gue. Cepet sana masuk! Lain kali
aja gue mampir”
Mendengar ucapan
Radit, gadis itupun ikut tersenyum.
“ Oke, makasih banyak ya!
Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan yang lebih baik. Oya, Jangan lupa, lain
kali mampir di rumahku” ucapnya dengan senyum tulus.
Setelah mengakhiri
ucapannya, gadis itu membuka pintu pagar dan masuk ke dalam rumah. Radit
menungguinya hingga ia hilang di balik pintu. Serta merta dia menstater kembali
motor besarnya. Dia tersenyum simpul. Ternyata, masih ada yang percaya padanya.
Pada anak brandalan dan preman sepertinya. Gadis yang telah ditolongnya itu
begitu baik dan tulus tersenyum padanya. Bahkan gadis itu menyuruhnya mampir
lain kali. Padahal selama ini, orang-orang yang telah lama dikenalnyapun tidak
pernah menganggap keberadaannya. Karena bagi mereka dia adalah sampah.
@@@
Pagi itu, matahari masih malu-malu menampakkan diri. Bias sinarnya menggoreskan
rona kemerahan yang cerah di ufuk timur. Bunga kamboja yang melayu dan
berguguran menggambarkan suasana pekuburan yang khas dan sepi. Beberapa nisan
yang sudah lama tampak berlumut karena dimakan waktu. Di sebuah kuburan yang
masih tampak bersih dan terawat, Radit duduk bersimpuh. Dia memanjatkan do’a di
samping kuburan Naila. Dulu, tepatnya dua bulan lalu, Radit dan Pak Haji ikut
serta mengantarkan jenazahnya. Ketika itu, dia tidak mengetahui kalau jenazah
yang disembahyangi dan diantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya
itu adalah Naila, gadis yang lima tahun lalu pernah ditolongnya. Diapun tidak
pernah tahu sebelumnya bahwa atas inisiatif gadis itulah pak Haji mengangkatnya
sebagai anak. Sungguh, seandainya waktu bisa diulang, Radit ingin kembali
mengulangnya. Mengulang ke masa di mana Naila masih bisa ditemuinya. Dia ingin
sekali berterima kasih pada gadis baik hati itu. Pada gadis yang begitu peduli
pada jalan hidupnya. Tapi semuanya tentu tidak mungkin. Karena takdir tidak
bisa ditolak. Maka, yang bisa Radit lakukan saat ini, sebelum dia berangkat
siang nanti ke Jogyakarta, adalah memanjatkan do’a setulus-tulusnya untuk Naila
agar dia diberi kelapangan oleh-Nya dan diampuni dosanya di alam sana.
Masih dalam kekhusukan do’anya, Radit mendengar suara langkah kaki mendekat.
Ditolehnya ke belakang. Seraut wajah paruh baya didapati Radit sedang menatap
ke arahnya. Dia ingat, beliau adalah ibunda Naila, yang diperkenalkan pak haji
kepadanya dua bulan lalu ketika mereka ta’ziah. Garis wajah dan perawakannya
sangat mirip dengan Naila. Beliau tersenyum hangat ke arahnya. Segera Radit
mendekat ke arah perempuan itu. Dengan ta’dzim diciuminya tangan ibunda Naila.
“ Mohon do’a dan restu Bu. InsyaAllah siang nanti Radit berangkat ke
Jogyakarta” ujarnya penuh hormat. Lembut, Radit merasakan tangan wanita itu
membelai lembut kepalanya penuh kasih. Dia jadi teringat pada Bundanya yang
telah lama perpulang ke haribaan-Nya beberapa tahun silam.
“ Semoga sukses Nak. InsyaAllah Naila turut bangga dan bahagia melihat
keadaanmu sekarang.” ujarnya perlahan. Radit tersenyum getir. Dia dapat
merasakan kepedihan dan kegetiran wanita di hadapannya, yang baru dua bulan
lalu ditinggalkan Naila, putri semata wayangnya. Tapi Radit tahu, beliau adalah
wanita yang tegar.
Akhirnya, mereka bersama memanjatkan do’a untuk Naila. Kicauan burung yang
bernyanyi di ranting-ranting pohon seakan turut berdo’a untuk Naila saat itu.
Dua anak manusia beda generasi itu memanjatkan do’a untuk Naila, yang terbaring
di rumah abadinya.
“ Terima kasih untuk
kebaikan hatimu. Terima kasih karena kau sudah mengahargaiku melebihi dari
siapapun yang pernah kukenal. Insya Allah aku tidak akan menyia-nyiakan
anugerah hidup yang telah dianugerahkan-Nya padaku. Aku berjanji, akan
menjadi orang berguna. Jika Allah meridhai, suatu saat aku akan kembali menjadi
pencerah bagi mereka yang terperangkap gelap sepertiku dulu. Semoga
kelapangan dan kebahagiaan senantiasa dianugerahkan-Nya padamu.
Amien………….”
Semoga artikel Jika Sampai Waktuku bermanfaat bagi Anda.