Minggu, 18 November 2012

Karena Jejak Yang Tertinggal



29 Februari 2008
            Pagi yang cerah, secerah hati Radit saat ini. Karena tepat pada hari ini dia genap berusia dua puluh  tujuh tahun. Usia yang tidak muda lagi baginya, tapi juga tidak terlalu tua. Entah mengapa, setelah shalat subuh satu jam yang lalu, Radit sama sekali tidak ingin beranjak dari duduknya. Dia masih betah bersila di atas sajadah, suatu kebiasaan yang tidak pernah dilakukannya sebelum-sebelum ini. Karena biasanya, setelah menunaikan sembahyang dua raka’at, pemuda itu melakukan jogging di sekitar rumah atau melanjutkan mimpinya yang tertunda ke pulau kapuk, apalagi jika semalaman dia begadang menonton pertandingan sepak bola atau menghabiskan malam bersama teman-temannya dengan bermain kartu.
Saat ini Radit bersyukur sekali, karena di hari pertama di usianya yang kedua puluh tujuh, dia mendapat kesadaran baru tentang bagaimana seharusnya dia menjalani hidup yang sudah dianugerahkan-Nya selama ini. Dia bertekad untuk menata kembali hidupnya agar lebih baik. Dia benar-benar ingin memaknai usia dua puluh tujuh tahun yang telah diberikan padanya. Dia ingin terlahir kembali sebagai manusia baru. Yang tidak hanya mementingkan diri sendiri, yang tidak hanya berpikir mencari kebahagiaan dunia semata seperti tahun-tahun sebelumnya.
Jika dipikir dan dihitung-hitung, sudah terlalu banyak nikmat yang telah diberikan-Nya kepadanya. Sudah begitu banyak kebahagiaan dan kesenangan yang dirasakannya. Yang paling utama, adalah kesempatan hidup selama dua puluh tujuh tahun dalam keadaan sehat wal afiat. Keluarga yang utuh dan menyayanginya, pekerjaan yang hasilnya telah dia nikmati selama kurang lebih lima tahun, meskipun tidak bisa dibilang oke banget, paling tidak sudah mengurangi beban kedua orang tuanya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, kesempatannya melanjutkan kuliah tahun ini setelah empat tahun tertunda dan seorang Tunangan yang benar-benar sesuai dengan apa yang diimpikannya selama ini, meskipun hadirnya karena dijodohkan oleh orang tua, serta masih banyak lagi nikmat lain yang tidak akan bisa dia hitung secara keseluruhan. Untuk semuanya, Radit benar-benar bersyukur pada Yang Maha Pengasih, yang luas kasih sayang-Nya tak terhingga.
Tapi di balik semua bahagia yang dirasakannya kini, ada perasaan sesal yang mengganjal dalam hatinya. Perasaan sesal akan jalan hidup yang pernah dipilihnya. Jika saja hidup bisa diulang, Radit ingin mengulang masa beberapa tahun yang telah lewat, mendelete sebagian kisahnya dan menggantinya dengan sebuah kisah yang lebih bermakna. Tapi toh semua sudah terjadi, tidak ada gunanya lagi dia berandai-andai. Yang bisa dilakukannya kini hanyalah memanfaatkan sisa umur yang masih tersisa untuk melakukan pengabdian seutuhnya pada DIA yang Maha segalanya.
Satu hal yang baru disadarinya kini adalah tentang kehanifan diri seorang muslim, termasuk juga dirinya. Dia baru menyadarinya kemarin, tepatnya setelah dia menonton film Ayat-ayat Cinta di bioskop. Selama ini Radit memang sering menyaksikan berbagai macam film, tapi kesemuanya tidak terlalu berkesan baginya apalagi sampai membuat Radit berpikir jauh dan berkaca pada dalam dirinya. Berkaca kepada Fahry, sosok bersahaja pemeran utama dalam film ayat-ayat Cinta yang baru saja ditontonnya, membuat Radit  merasa malu. Betapa tidak, dengan kesederhanaan dan kehanifannya, Fahry yang hanya seorang mahasiswa biasa, telah memikat hati empat orang wanita sekaligus. Mereka adalah Maria, Aisyah, Noura dan Nurul. Keempat-empatnya adalah gadis yang cantik dan baik. Tapi hal itu sama sekali tidak membuat Fahry besar kepala. Dia tetap menjaga kehanifannya dengan selalu menjaga hati dan pandangan. Bukan memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mencari kesenangan.
Bukan tidak pernah Radit diingatkan tentang arti sebuah kehanifan. Seorang teman lama pernah menyinggung dan mengingatkannya untuk melakukan hal itu. Tapi mungkin karena caranya yang kurang benar, Radit tidak bisa menerima nasehat yang sempat dilontarkan untuknya. Bukannya berterima kasih karena telah diingatkan, yang terjadi justru sebaliknya, dia merasa kesal dan marah padanya. Bahkan yang lebih parah, dia sempat berpikiran bahwa yang bersangkutan berlagak sok suci dan sok alim. Astaghfirullah….  

Desember 2005
R : Malam La, gimana kabarnya?
N : Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri gimana?  Baik juga kan?
R : Kayaknya lagi nggak deh. Coz aku baru patah hati. Minta obat dong!!!
N : Emangnya aku dokter, pake’ minta obat segala. Apa iya orang kayak kamu bisa patah hati? Sapa coba yang udah matahin hati kamu. Entar ta’ balas kupatahkan hatinya. Hehehe…
R : La, aku serius nih. Aku nggak sedang bercanda…
N : Lho, kamu pikir aku nggak serius ta? Aku nih malah dua rius sama perkataanku.
R : Shasa La. Dia ninggalin aku. Sakit… banget rasanya. Coz aku udah terlanjur sayang sama dia.
N : Ko’ bisa? Emang kenapa?
R : Dia minta putus coz mau kuliah katanya. Selain itu, ortunya juga nggak setuju kalo aku sama dia. Aku sih nggak bisa nolak. Coz aku sadar banget dengan keadaan aku yang emang nggak setara sama dia. Meski dengan berat hati, akhirnya aku penuhi permintaannya. Jomblo lagi deh jadinya. Menyedihkan. Hik hik hik
N : Ya udah, nggak usah sedih gitu. Shasa kan bukan cewek satu-satunya di dunia ini. Katanya sih kalo kita putus sama seseorang yang kita sayangi, itu namanya bukan jodoh. Kalo nggak jodoh, berarti dia bukan yang terbaik bagi kita atau malah sebaliknya, kita bukanlah yang terbaik bagi dia. So, santai aja man..
R : Yah, kamu sih gampang ngomong gitu coz bukan kamu yang lagi patah hati.
N : Emang iya sih, tapi apa gunanya juga kamu sedih, toh Shasa nggak bakalan balik lagi. Kalo kamu emang sayang sama dia, kamu harus mendukung keputusannya. Coz dia pergi untuk kuliah, untuk masa depannya. Iya kan?
R : Iya sih… tapi aku kan jadi kesepian.
N : Emang kamu lagi apa sekarang?
R : Dengerin pengajian…
N : Dengerin pengajian ko’ SMSan. Udah ah, yang konsen dengerin pengajiannya biar bisa nambah ilmu
R : Hehehe… iya deh Bu nyai. Makasih udah denger curhatku. Met malem aja ya…
N : Malam juga….

            Itulah sekilas curhat Radit pada Naela, sahabat lama yang hadir kembali dalam hari-harinya setelah hampir tujuh tahun mereka tidak saling bertemu. Saat itu Radit sedang patah hati. Dia agak kalut dan bingung kepada siapa harus berbagi. Tiba-tiba saja dia berinisiatif menghubungi Naela, dan entah karena apa, dengan santainya dia bercerita pada gadis itu tentang putusnya dia dengan Shasa. Dia tidak menyangka justru Naelalah yang menjadi tempat curhatnya saat itu. Padahal sudah lumayan lama juga dia tidak berbagi cerita dengan gadis itu, tepatnya sejak komunikasi mereka terputus bertahun tahun lalu, ditambah lagi dengan kepergian Naela untuk melanjutkan sekolah ke kota lain.

Maret 2006
            “ La, ternyata Shasa bohongin aku ”
            “ Maksudmu? ”
            “ Yah… dulu kan dia minta putus coz katanya mau kuliah. Ternyata, bukan kuliah. Tapi pacaran sama orang lain yang lebih dari aku. Kamu tahu, aku kecewa banget. Hatiku lebih sakit dari saat dia mutusin  aku dulu. Sakiiit… banget plus benci tentunya ”
            Di tempatnya, Naela hanya terdiam. Pikirannya berkecamuk. Masak sih Shasa mengkhianati Radit seperti cerita pemuda itu barusan. Setahunya, Shasa begitu polos dan baik. Meskipun Naela tidak terlalu kenal dekat dengannya, dia pernah tahu gadis itu. Dia adalah adik kelasnya di Pesantren. Shasa juga teman sekelas adiknya. Jadi, sedikit banyak Naela tahu tentang gadis itu.
            “ Bener ta Dit Shasa udah ngianatin kamu?”
            “ Iya, masak aku bohong. Ngapain juga ngarang-ngarang cerita. Kayak nggak ada kerjaan aja”
            “ Ya Udahlah Dit, anggap aja ini sebagai balasan atas perbuatan kamu selama ini. Dengan begini kan kamu jadi tahu bagaimana nggak enaknya patah hati”
            “ Maksud kamu apa La? Balasan untuk perbuatanku yang mana?”
            “ Mungkin aja balasan buat kamu coz selama ini sering mainin cewek, sekarang kamu kena batunya”  
 “ Loh!!, Ko’ kamu bilang gitu sih La? Emang aku pernah mainin sapa? Bukannya kamu yang mutusin aku duluan? Coz itu, aku selalu diputusin sama cewek-cewekku ”
“ Iya emang bukan aku yang kamu mainin. Tapi yang lain. Habis putus sama yang ini, kamu nyambung dengan yang itu. Putus sama yang di sana, nyambung sama yang di sini. Kayak piala bergilir aja ”
“ Piala bergilir?? Mungkin iya. Tapi aku nggak pernah nyakitin mereka ” Ujar Radit agak kesal. Maunya dia curhat sama Naela, eh malah dapat khotbah. Kontan saja pemuda itu meradang.
“ Mana mungkin bung? Yang namanya putus nyambung itu pasti nyakitin hati ”
“ Tapi suer ko’. Aku nggak pernah nyakitin siapapun. justru sebaliknya, aku selalu berusaha jaga perasaan mereka dan sebisa mungkin nggak melukai hati siapapun. Aku paling nggak bisa nyakitin perasaan cewek. Coz, aku juga punya adik cewek. Aku nggak mau adikku disakitin siapapun ”
“ Udah ah Dit. Nggak usah mungkir. Bohong itu dosa ”
“ Emangnya kamu tau ta aku berhubungan sama sapa aja selama ini? Kamu kan nggak pernah tau selama tujuh  tahun ini aku gimana. So, jangan asal nuduh gitu dong! Itu fitnah namanya, La ”
“ Mungkin aku nggak tau banyak tentang kamu. Tapi setidaknya, aku tau gimana cerita kamu yang pernah mengkhianati Afnia,  tunangan kamu itu. Dan itu udah cukup membuat aku yakin kalo kamu emang nggak bisa setia sama satu wanita ”
“ Huh…..terserahlah La gimana kamu mandang dan nilai aku. Yang jelas, kamu nggak akan pernah ngerti aku. Makasih karena kamu udah mau dengerin curhat-curhat aku selama ini. Maaf kalo aku udah ganggu dan ngabisin waktu istirahat kamu. Sekali lagi makasih tuk semuanya”
Agak kesal Radit mengakhiri perbincangannya dengan Naela dan menutup telpon. Lagian, sepertinya sia-sia meyakinkannya. Anggapan gadis itu sudah terlanjur memburuk terhadapnya. Tapi sungguh, Radit benar-benar kesal dengan perkataan Naela barusan. Bisa-bisanya gadis itu mengatakan dia suka mempermainkan wanita. Padahal, tahu apa dia tentang dirinya. Toh mereka sudah tujuh tahun lebih tidak bertemu sejak lulus dari sekolah menengah dulu. Pun kalau satu tahun terakhir ini mereka berhubungan kembali, saling bertukar kabar dan berita, itupun hanya melalui telpon atau sms. Tapi hanya sesekali saja. Jika ada waktu senggang bertukar kabar. Selebihnya, mereka sibuk dengan dunia masing-masing.
Memang susah ngomong sama orang yang berlainan dunia. Apalagi sama Naela yang sekolah di pesantren. Jelas saja semuanya salah bagi dia. Yang benar, yang suci dan yang tau agama hanya dia seorang. Sedang Radit hanyalah orang biasa yang tidak tau apa-apa, yang katanya kerjaannya hanya mempermainkan wanita. Pokoknya, amit-amit deh dia menghubungi Naela lagi. Meskipun sekedar say Hallo dan bertanya kabar, dia tidak akan pernah menghubungi dia duluan. Kapok. 
@@@

Mengingat-ingat masa lalu, membuat Radit merasa sesak di dada. Meskipun tidak pernah melakukan dosa besar dan penyimpangan yang fatal, setidaknya dia pernah melakukan kesalahan yang selama ini dianggapnya sebagai hal biasa. Radit baru menyadari bahwa jalan hidup yang sudah dilaluinya sedikit meyeleweng dari garis yang ditetapkanNya. Radit menarik nafas berat. Dihirupnya udara banyak-banyak, untuk kemudian dihempaskannya kuat-kuat seperti hendak membuang semua beban yang terasa berat menggelayuti pundaknya. Jika dipikir dan diingat lagi, memang banyak gadis yang singgah dalam hari-harinya. Dengan sendirinya dia mengenal dan  berhubungan dengan mereka. Dia sendiri tidak pernah mencari dan mengejar gadis-gadis itu. Semuanya datang, hadir dan pergi begitu saja dalam hidupnya. Awalnya dia mengenal mereka sebagai teman, lalu mereka dekat dengannya untuk kemudian hubungan mereka berlanjut menjadi lebih serius. Saling bersimpati dan menyayangi satu sama lain.
            Seingat Radit, sampai saat ini dia sudah enam kali pacaran dan satu kali bertunangan. Tapi semuanya kandas, bahkan beberapa bulan lalu dia baru putus dengan Alya Prameswati yang terhitung sebagai pacarnya yang ketujuh. Dalam sepuluh tahun dengan tujuh wanita yang resmi menjadi pacarnya, merupakan rekor yang lumayan. Lain lagi para wanita yang pernah dilirik dan dikaguminya secara diam-diam. Benar-benar telah mengotori hati dan pikirannya. Radit beristigfar dalam hati mengingat perbuatannya di masa lalu.
            Lalu, jika ada yang menjulukinya sebagai play boy cap kucing, pantaskah dia marah padanya? Dan jika ada yang mengatakan dia suka gonta ganti pacar, pantaskah dia tidak terima dengan perkataan itu? Sekarang Radit baru menyadari bahwa bukan salah mereka jika beranggapan demikian. Karena memang dia sendiri yang mencetak cap itu pada dirinya. Bukan salah Naela juga, jika gadis itu pernah menganggapnya suka mempermainkan wanita dan menyalahkannya karena pernah mengkhianati tunangannya. Awalnya dia agak kesal pada Naela yang dianggapnya sok suci dan sok alim. Gadis itu selalu menyalahkan dan  menasehatinya, membuat Radit malas berbicara dan curhat padanya. Karena jika Radit bercerita, ujung-ujungnya akan diberi ceramah dan nasehat olehnya.
            Dari tujuh wanita, Cinta monyet Radit tapi bukan cinta pertama baginya adalah Naela As-Syifa’. Berawal dari saling menggojlok, pada akhirnya Radit dan Naela dekat sebagai sahabat. Dan ternyata, kedekatan itu membuat Naela simpati padanya. Awalnya Radit bangga dan tersanjung karena disukai oleh Naela yang selalu menjadi bintang kelas. Meskipun tidak cantik, tapi setidaknya Naela tidak jelek-jelek amat untuk dijadikan pacar hehehe J. Mungkin karena belum cukup umur, Radit masih belum memiliki perasaan apa-apa padanya, hanya sekedar rasa sayang sebagai sahabat, atau mungkin tepatnya perasaan sayang seorang kakak pada adiknya, karena Radit adalah anak sulung dengan seorang adik perempuan. Agar tidak mengecewakan Naela yang sudah lumayan dekat dengannya, akhirnya Radit menjadi kekasih gadis itu. Tapi kisah cintanya dengan gadis itu tergolong unik dan menggelikan. Masak, pacaran cuma satu bulan. Seperti main-main saja. Maklum, monyet gitu loh. He..he..he..
            Setelah putus dengan Naela As-Syifa’, ada Bening An-Nada, yang mengisi hari-harinya. Gadis lugu dan baik hati itu begitu saja mengusik perhatiannya. Selain cantik, kepintarannya juga lumayan mengusik. Apalagi, dia tergolong cewek tenar yang banyak dibicarakan cowok-cowok di sekolah. Tapi, masa berhubungan dengannya hanya berjalan satu tahun. Memang tidak terlalu lama, tapi setidaknya lebih lama bila dibandingkan dengan Naela yang hanya berumur satu bulan. Penyebab putusnya hubungan Radit dengan Bening hanyalah masalah jarak. Setelah lulus, secara otomatis Radit akan  berjauhan dengan gadis itu. Dan dia paling tidak bisa menjalani hubungan Long Distance. Dari pada nanti ada apa-apa, lebih baik diantisipasi terlebih dahulu. Dan putus menjadi pilihan mereka berdua. Lagian, setelah mereka tidak menjadi sepasang kekasih, toh mereka masih bisa menjadi sahabat. Itulah pertimbangan Radit dan Bening ketika itu. Setelah putus dengan Bening, hubungannya dengan gadis itu masih berjalan dengan baik sebagai seorang sahabat. Dia juga sesekali masih main ke rumah gadis itu. Yach, seperti sebelum-sebelumnya. Tidak terlalu banyak perubahan. Mungkin yang berubah hanyalah status mereka. Bening sudah tidak lagi menjadi pacarnya, dan begitupun sebaliknya.
            Selang beberapa waktu dia putus dengan Bening, tiba-tiba saja orang tuanya menjodohkan Radit dengan seorang gadis yang bernama Afnia Kalyana. Gadis cantik dan lembut, tetangga sekaligus famili jauhnya. Meskipun rumah Afnia tidak terlalu jauh dengan rumahnya, Radit tidak terlalu mengenal gadis itu. Dia juga tidak memiliki perasaan apa-apa padanya. Tapi demi baktinya pada orang tua, mau tidak mau Radit harus menerima pertunangan yang sudah terjadi. Sebenarnya Radit tidak mau dijodohkan. Karena menurutnya, perjodohan itu hanya ada pada zaman Siti NurBaya. Sedangkan dia sekarang sudah ada di zaman milenium dan cowok pula, bukan cewek pingitan seperti Siti Nurbaya.Tapi mau bagaimana lagi, mungkin sudah menjadi garis nasibnya.
            Orang bilang, takdir itu tidak bisa ditebak. Mungkin hal itulah yang terjadi pada Radit. Ketika itu dia kebetulan ikut temannya bertandang ke rumah pacarnya. Di sanalah Radit mengenal Imtiyazul Ula. Gadis yang terbiasa dipanggil Tiyaz ini lumayan energik dan berani. Tanpa malu-malu dia berkata jujur bahwa dia menyukai Radit dan ingin menjadi pacarnya. Radit benar-benar tidak menyangka. Padahal ketika itu Radit masih bertunangan dengan Afnia. Agar tidak menyakiti perasaan Tiyaz, Radit berterus terang padanya bahwa dia sudah bertunangan. Tapi ternyata itu tidak masalah bagi Tiyaz. Dan akhirnya, Radit menjalin hubungan dengan Tiyaz meskipun ketika itu dia masih berstatus sebagai tunangan resmi Afnia. Awalnya semua baik-baik saja. Bersama Tiyaz, Radit merasakan hari-hari yang penuh warna, tidak lagi merasa sepi seperti sebelum-sebelumnya, sejak Bening An-nada berlalu beberapa waktu lalu. Tapi karena hubungan mereka dijalani sambil lalu saja, akhirnya semuanya kandas. Tiyazpun berlalu begitu saja. Tapi itu tidak masalah bagi Radit. Karena selama ini dia hanya menganggap gadis itu sebagai teman. Hanya agar tidak menyakiti hatinya saja, Radit memenuhi permintaan gadis itu dan mau berpacaran dengannnya.
            Tiyaz, gadis ketiga dalam kehidupan Radit berlalu. Dan disusul pula dengan kepergian Afnia Kalyana. Radit tidak menyangka, bahwa pertunangan yang sempat tidak diterimanya, berakhir pula. Padahal awalnya, semua baik-baik saja. Setahu Radit, Afnia sangat mencintainya. Sedang dia sendiri, meskipun belum bisa mencintai Afnia, saat itu sedang berusaha menumbuhkan perasaan sayangnya untuk gadis pilihan orang tuanya itu. Tapi apa mau dikata, jika takdir berkata lain. Pertunangan mereka putus. Mungkin saja, Afnia merasa dikhianati oleh Radit yang menjalin hubungan dengan Tiyaz. Meskipun gadis itu mencintainya, tapi dia tidak bisa menerima pengkhianatan yang dilakukannya. Dan sekali lagi, putus menjadi pilihan terbaik bagi pertunangan mereka. Radit sendiri tidak terlalu tahu bagaimana perasaannya ketika pertunangannya dengan Afnia putus. Bahagia mungkin iya, karena dari semula dia kurang setuju dengan perjodohannya. Sedih, mungkin juga. Karena ternyata dalam hati kecilnya, Radit sudah mulai menyayangi Afnia. Tapi, namanya juga bukan jodoh, mereka berpisah dan Radit kembali menjomblo.
Sepertinya, Radit tidak perlu terlalu lama menjomblo. Karena berselang waktu, ada seorang gadis yang lumayan cantik di tempat kerjanya. Dia bernama Rena Permata. Sosoknya yang tinggi, putih, murah senyum dan modis, telah mencuri hati Radit. Pokoknya, semua kriteria Radit benar-benar ada pada diri Rena. Pertama kali melihatnya, jantung Radit berdetak kencang, hatinya tertawan. Sepertinya, hanya Rena yang benar-benar memenuhi semua kriteria Radit tentang seorang wanita. Renalah yang benar-benar bisa membuat Radit jatuh cinta untuk pertama kalinya. Selain cantik, Rena juga tampak dewasa dan mandiri. Mungkin karena  usia Rena yang lebih tua dari Radit, membuat gadis itu benar-benar tampak matang dalam bersikap, bertindak dan berpikir. Tapi toh usia tidak bisa menjadi ukuran sebuah perasaan. Usia juga tidak bisa menjadi penghalang timbulnya perasaan suka dan cinta.
Bersama Rena, Radit belajar menjadi dewasa (katanya sih hehehe). Bersama Rena, Radit mendapat kebahagiaan dan pengalaman baru. Hari-hari mereka lalui dengan penuh suka dan bahagia. Apalagi mereka satu tempat kerja, yang membuat keduanya secara otomatis sering bertemu dan bersama. Tapi seperti pepatah yang mengatakan “Tak ada pesta yang tak berakhir”, hubungan Radit dan Renapun telah habis masa berlakunya. Seperti halnya masa kerja Rena di tempat Radit yang juga telah habis masanya. Rena harus kembali ke kota asalnya dan pergi meninggalkan Radit yang dicintainya. Padahal ketika itu, cinta mereka masih sedang mekar-mekarnya. Ibarat bunga, cinta mereka baru bersemi dan mewangi. Radit ingin mempertahankan cintanya, meski berjauhan, dia tidak ingin hubungannya dengan Rena berakhir seperti kisahnya dengan Bening. Karena itu, Long Distancepun sanggup Radit jalani. Tapi berhubung kedua orang tua, terutama ibu tidak merestui dan menyetujui pilihan hatinya, akhirnya radit menyerah pada takdir dan keadaan. Untuk yang kesekian kalinya, radit harus rela membiarkan orang yang dicintainya melangkah pergi.
            Setelah kepergian Rena, agak lama Radit menjomblo. Hingga suatu saat di tempatnya mengajar ada seorang guru tugas baru, Putri Salsabila lumayan mengusik hatinya yang sepi. Berawal dari kedekatan mereka yang manis, semuanya semakin manis. Bermula dari curhat-curhatan, akhirnya hati mereka saling tercuri. Radit merasa bahwa Shasa adalah gadis terakhir yang dikirim Tuhan untuknya. Dia sangat menyayangi dan mencintainya. Dalam hati dia bertekad untuk menjadikan Shasa sebagai pelabuhan terakhir hatinya. Apalagi selama ini, Radit sudah lelah dengan hubungan-hubungan cintanya yang selalu berakhir. Tapi ternyata, Shasa bukanlah gadis terbaik seperti yang diyakininya selama ini. Karena nyatanya dia telah mengkhinati dan menorehkan luka di hatinya begitu dalam. Dengan sepenuh hati Radit menyayangi dan mempercayai gadis itu. Bahkan, separuh jiwanya telah dia serahkan pada gadis itu saking percayanya. Tapi siapa menduga, Shasa yang selama ini baik di depannya, tiba-tiba memintanya memutuskan hubungan. Awalnya Radit tidak terima, tapi alasan yang dikemukakan Shasa membuat Radit tidak bisa menolaknya. Shasa ingin memfokuskan diri pada kuliah dan memutuskan untuk tidak berpacaran. Belakangan ini Radit baru tahu bahwa kuliah hanya dijadikan Shasa sebagai alasan untuk bisa memutuskan hubungan dengannya. Yang benar adalah Shasa telah mengkhianatinya.
            Pengkhiatan Shasa sempat membuat Radit trauma. Sengaja dia menenggelamkan diri dalam kesendirian. Hampir dua tahun Radit menikmati asyiknya menjomblo. Meskipun sepi, paling tidak Radit merasa enjoy dan bebas melangkah ke manapun ia pergi. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Alya Prameswati, seorang penyiar radio yang akhirnya menjadi pacar ketujuh Radit. Berawal dari sekedar ikut-ikutan teman, Radit menjadi terbiasa nongkrong di sebuah stasiun radio swasta di kotanya. Di sanalah dia mengenal Alya. Seorang gadis manis yang supel dengan lesung pipitnya membuat hati Radit kembali tertawan. Tapi hubungannya dengan Alyapun tidak bertahan lama. Sikap Alya yang terlalu banyak menuntut dan agak childies membuat Radit kembali menempuh jalan putus, meskipun hubungan mereka baru berjalan beberapa bulan.
            Mungkin dulu, Radit menganggap memiliki pacar atau kekasih adalah sebuah prestasi. Karena dengan begitu, eksistensi dirinya diakui oleh kaum hawa. Tapi saat ini Radit baru menyadari bahwa anggapannya selama ini adalah salah. Kehadiran wanita-wanita itu dalam kehidupannya adalah ujian kehanifan untuk dirinya. Dan selama sepuluh tahun ini, ternyata dia tidak lulus ujian. Saat inilah, di sisa umurnya dia ingin lulus dari ujian itu. Dia ingin benar-benar menjadi pribadi muslim yang baik dan hanif. Yang senantiasa menjaga pandangan, hati dan perkataan. Biarlah hanya Kamidia Cantika, perempuan pilihan orang tuanya itulah yang benar-benar mengisi hatinya saat ini.  Karena InsyaAllah kalau Allah meridhai, perempuan lembut dan baik hati inilah yang akan dipersuntingnya bulan depan. Dia ingin menjadi yang terbaik untuk Tika, sebagaimana keinginannya selama ini, Tika menjadi yang terbaik untuknya.


Berdasarkan kisah seorang teman, dengan perubahan seperlunya.
Thank’s tuk inspirasinya. Semoga perjalanan panjang yang kau lalui akan menjadikanmu lebih dewasa dan bijaksana menghadapi hidup. Amien…




Semoga artikel Karena Jejak Yang Tertinggal bermanfaat bagi Anda.

Hikayat Kita - All Right Reserved.Powered By Blogger
Theme Designed Kumpulan artikel Menarik