Karena Jejak Yang Tertinggal
29 Februari 2008
Pagi
yang cerah, secerah hati Radit saat ini. Karena tepat pada hari ini dia genap
berusia dua puluh tujuh tahun. Usia yang tidak muda lagi baginya,
tapi juga tidak terlalu tua. Entah mengapa, setelah shalat subuh satu jam yang
lalu, Radit sama sekali tidak ingin beranjak dari duduknya. Dia masih betah
bersila di atas sajadah, suatu kebiasaan yang tidak pernah dilakukannya
sebelum-sebelum ini. Karena biasanya, setelah menunaikan sembahyang dua
raka’at, pemuda itu melakukan jogging di sekitar rumah atau melanjutkan
mimpinya yang tertunda ke pulau kapuk, apalagi jika semalaman dia begadang
menonton pertandingan sepak bola atau menghabiskan malam bersama teman-temannya
dengan bermain kartu.
Saat ini Radit bersyukur
sekali, karena di hari pertama di usianya yang kedua puluh tujuh, dia mendapat
kesadaran baru tentang bagaimana seharusnya dia menjalani hidup yang sudah
dianugerahkan-Nya selama ini. Dia bertekad untuk menata kembali hidupnya agar
lebih baik. Dia benar-benar ingin memaknai usia dua puluh tujuh tahun yang
telah diberikan padanya. Dia ingin terlahir kembali sebagai manusia baru. Yang
tidak hanya mementingkan diri sendiri, yang tidak hanya berpikir mencari
kebahagiaan dunia semata seperti tahun-tahun sebelumnya.
Jika dipikir dan
dihitung-hitung, sudah terlalu banyak nikmat yang telah diberikan-Nya
kepadanya. Sudah begitu banyak kebahagiaan dan kesenangan yang dirasakannya.
Yang paling utama, adalah kesempatan hidup selama dua puluh tujuh tahun dalam
keadaan sehat wal afiat. Keluarga yang utuh dan menyayanginya, pekerjaan yang
hasilnya telah dia nikmati selama kurang lebih lima tahun, meskipun tidak bisa
dibilang oke banget, paling tidak sudah mengurangi beban kedua orang tuanya
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, kesempatannya melanjutkan kuliah
tahun ini setelah empat tahun tertunda dan seorang Tunangan yang benar-benar
sesuai dengan apa yang diimpikannya selama ini, meskipun hadirnya karena
dijodohkan oleh orang tua, serta masih banyak lagi nikmat lain yang tidak akan
bisa dia hitung secara keseluruhan. Untuk semuanya, Radit benar-benar bersyukur
pada Yang Maha Pengasih, yang luas kasih sayang-Nya tak terhingga.
Tapi di balik semua bahagia
yang dirasakannya kini, ada perasaan sesal yang mengganjal dalam hatinya.
Perasaan sesal akan jalan hidup yang pernah dipilihnya. Jika saja hidup bisa
diulang, Radit ingin mengulang masa beberapa tahun yang telah lewat, mendelete
sebagian kisahnya dan menggantinya dengan sebuah kisah yang lebih bermakna.
Tapi toh semua sudah terjadi, tidak ada gunanya lagi dia berandai-andai. Yang
bisa dilakukannya kini hanyalah memanfaatkan sisa umur yang masih tersisa untuk
melakukan pengabdian seutuhnya pada DIA yang Maha segalanya.
Satu hal yang baru
disadarinya kini adalah tentang kehanifan diri seorang muslim, termasuk juga
dirinya. Dia baru menyadarinya kemarin, tepatnya setelah dia menonton film
Ayat-ayat Cinta di bioskop. Selama ini Radit memang sering menyaksikan berbagai
macam film, tapi kesemuanya tidak terlalu berkesan baginya apalagi sampai
membuat Radit berpikir jauh dan berkaca pada dalam dirinya. Berkaca kepada
Fahry, sosok bersahaja pemeran utama dalam film ayat-ayat Cinta yang baru saja
ditontonnya, membuat Radit merasa malu. Betapa tidak, dengan
kesederhanaan dan kehanifannya, Fahry yang hanya seorang mahasiswa biasa, telah
memikat hati empat orang wanita sekaligus. Mereka adalah Maria, Aisyah, Noura
dan Nurul. Keempat-empatnya adalah gadis yang cantik dan baik. Tapi hal itu
sama sekali tidak membuat Fahry besar kepala. Dia tetap menjaga kehanifannya
dengan selalu menjaga hati dan pandangan. Bukan memanfaatkan kesempatan yang
ada untuk mencari kesenangan.
Bukan tidak pernah Radit
diingatkan tentang arti sebuah kehanifan. Seorang teman lama pernah menyinggung
dan mengingatkannya untuk melakukan hal itu. Tapi mungkin karena caranya yang
kurang benar, Radit tidak bisa menerima nasehat yang sempat dilontarkan
untuknya. Bukannya berterima kasih karena telah diingatkan, yang terjadi justru
sebaliknya, dia merasa kesal dan marah padanya. Bahkan yang lebih parah, dia
sempat berpikiran bahwa yang bersangkutan berlagak sok suci dan sok alim.
Astaghfirullah….
Desember 2005
R : Malam La, gimana
kabarnya?
N : Alhamdulillah, baik.
Kamu sendiri gimana? Baik juga kan?
R : Kayaknya lagi nggak
deh. Coz aku baru patah hati. Minta obat dong!!!
N : Emangnya aku dokter, pake’ minta obat
segala. Apa iya orang kayak kamu bisa patah hati? Sapa coba yang udah matahin
hati kamu. Entar ta’ balas kupatahkan hatinya. Hehehe…
R : La, aku serius nih. Aku
nggak sedang bercanda…
N : Lho, kamu pikir aku
nggak serius ta? Aku nih malah dua rius sama perkataanku.
R : Shasa La. Dia ninggalin
aku. Sakit… banget rasanya. Coz aku udah terlanjur sayang sama dia.
N : Ko’ bisa? Emang kenapa?
R : Dia minta putus coz mau kuliah katanya.
Selain itu, ortunya juga nggak setuju kalo aku sama dia. Aku sih nggak bisa
nolak. Coz aku sadar banget dengan keadaan aku yang emang nggak setara sama
dia. Meski dengan berat hati, akhirnya aku penuhi permintaannya. Jomblo lagi
deh jadinya. Menyedihkan. Hik hik hik
N : Ya udah, nggak usah sedih gitu. Shasa kan
bukan cewek satu-satunya di dunia ini. Katanya sih kalo kita putus sama
seseorang yang kita sayangi, itu namanya bukan jodoh. Kalo nggak jodoh, berarti
dia bukan yang terbaik bagi kita atau malah sebaliknya, kita bukanlah yang
terbaik bagi dia. So, santai aja man..
R : Yah, kamu sih gampang
ngomong gitu coz bukan kamu yang lagi patah hati.
N : Emang iya sih, tapi apa gunanya juga kamu
sedih, toh Shasa nggak bakalan balik lagi. Kalo kamu emang sayang sama dia,
kamu harus mendukung keputusannya. Coz dia pergi untuk kuliah, untuk masa
depannya. Iya kan?
R : Iya sih… tapi aku kan
jadi kesepian.
N : Emang kamu lagi apa
sekarang?
R : Dengerin pengajian…
N : Dengerin pengajian ko’
SMSan. Udah ah, yang konsen dengerin pengajiannya biar bisa nambah ilmu
R : Hehehe… iya deh Bu
nyai. Makasih udah denger curhatku. Met malem aja ya…
N : Malam juga….
Itulah
sekilas curhat Radit pada Naela, sahabat lama yang hadir kembali dalam
hari-harinya setelah hampir tujuh tahun mereka tidak saling bertemu. Saat itu
Radit sedang patah hati. Dia agak kalut dan bingung kepada siapa harus berbagi.
Tiba-tiba saja dia berinisiatif menghubungi Naela, dan entah karena apa, dengan
santainya dia bercerita pada gadis itu tentang putusnya dia dengan Shasa. Dia
tidak menyangka justru Naelalah yang menjadi tempat curhatnya saat itu. Padahal
sudah lumayan lama juga dia tidak berbagi cerita dengan gadis itu, tepatnya
sejak komunikasi mereka terputus bertahun tahun lalu, ditambah lagi dengan
kepergian Naela untuk melanjutkan sekolah ke kota lain.
Maret 2006
“ La, ternyata Shasa bohongin aku ”
“
Maksudmu? ”
“
Yah… dulu kan dia minta putus coz katanya mau kuliah. Ternyata, bukan kuliah.
Tapi pacaran sama orang lain yang lebih dari aku. Kamu tahu, aku kecewa banget.
Hatiku lebih sakit dari saat dia mutusin aku dulu. Sakiiit… banget
plus benci tentunya ”
Di
tempatnya, Naela hanya terdiam. Pikirannya berkecamuk. Masak sih Shasa
mengkhianati Radit seperti cerita pemuda itu barusan. Setahunya, Shasa begitu
polos dan baik. Meskipun Naela tidak terlalu kenal dekat dengannya, dia pernah
tahu gadis itu. Dia adalah adik kelasnya di Pesantren. Shasa juga teman sekelas
adiknya. Jadi, sedikit banyak Naela tahu tentang gadis itu.
“
Bener ta Dit Shasa udah ngianatin kamu?”
“
Iya, masak aku bohong. Ngapain juga ngarang-ngarang cerita. Kayak nggak ada
kerjaan aja”
“
Ya Udahlah Dit, anggap aja ini sebagai balasan atas perbuatan kamu selama ini.
Dengan begini kan kamu jadi tahu bagaimana nggak enaknya patah hati”
“
Maksud kamu apa La? Balasan untuk perbuatanku yang mana?”
“
Mungkin aja balasan buat kamu coz selama ini sering mainin cewek, sekarang kamu
kena batunya”
“ Loh!!, Ko’ kamu
bilang gitu sih La? Emang aku pernah mainin sapa? Bukannya kamu yang mutusin
aku duluan? Coz itu, aku selalu diputusin sama cewek-cewekku ”
“ Iya emang bukan aku yang
kamu mainin. Tapi yang lain. Habis putus sama yang ini, kamu nyambung dengan
yang itu. Putus sama yang di sana, nyambung sama yang di sini. Kayak piala
bergilir aja ”
“ Piala bergilir?? Mungkin
iya. Tapi aku nggak pernah nyakitin mereka ” Ujar Radit agak kesal. Maunya dia
curhat sama Naela, eh malah dapat khotbah. Kontan saja pemuda itu meradang.
“ Mana mungkin bung? Yang
namanya putus nyambung itu pasti nyakitin hati ”
“ Tapi suer ko’. Aku nggak
pernah nyakitin siapapun. justru sebaliknya, aku selalu berusaha jaga perasaan
mereka dan sebisa mungkin nggak melukai hati siapapun. Aku paling nggak bisa
nyakitin perasaan cewek. Coz, aku juga punya adik cewek. Aku nggak mau adikku
disakitin siapapun ”
“ Udah ah Dit. Nggak usah
mungkir. Bohong itu dosa ”
“ Emangnya kamu tau ta aku
berhubungan sama sapa aja selama ini? Kamu kan nggak pernah tau selama
tujuh tahun ini aku gimana. So, jangan asal nuduh gitu dong! Itu
fitnah namanya, La ”
“ Mungkin aku nggak tau
banyak tentang kamu. Tapi setidaknya, aku tau gimana cerita kamu yang pernah
mengkhianati Afnia, tunangan kamu itu. Dan itu udah cukup membuat
aku yakin kalo kamu emang nggak bisa setia sama satu wanita ”
“ Huh…..terserahlah La
gimana kamu mandang dan nilai aku. Yang jelas, kamu nggak akan pernah ngerti
aku. Makasih karena kamu udah mau dengerin curhat-curhat aku selama ini. Maaf
kalo aku udah ganggu dan ngabisin waktu istirahat kamu. Sekali lagi makasih tuk
semuanya”
Agak kesal Radit mengakhiri
perbincangannya dengan Naela dan menutup telpon. Lagian, sepertinya sia-sia
meyakinkannya. Anggapan gadis itu sudah terlanjur memburuk terhadapnya. Tapi
sungguh, Radit benar-benar kesal dengan perkataan Naela barusan. Bisa-bisanya gadis
itu mengatakan dia suka mempermainkan wanita. Padahal, tahu apa dia tentang
dirinya. Toh mereka sudah tujuh tahun lebih tidak bertemu sejak lulus dari
sekolah menengah dulu. Pun kalau satu tahun terakhir ini mereka berhubungan
kembali, saling bertukar kabar dan berita, itupun hanya melalui telpon atau
sms. Tapi hanya sesekali saja. Jika ada waktu senggang bertukar kabar.
Selebihnya, mereka sibuk dengan dunia masing-masing.
Memang susah ngomong sama
orang yang berlainan dunia. Apalagi sama Naela yang sekolah di pesantren. Jelas
saja semuanya salah bagi dia. Yang benar, yang suci dan yang tau agama hanya
dia seorang. Sedang Radit hanyalah orang biasa yang tidak tau apa-apa, yang
katanya kerjaannya hanya mempermainkan wanita. Pokoknya, amit-amit deh dia menghubungi
Naela lagi. Meskipun sekedar say Hallo dan bertanya kabar, dia tidak akan
pernah menghubungi dia duluan. Kapok.
@@@
Mengingat-ingat masa lalu,
membuat Radit merasa sesak di dada. Meskipun tidak pernah melakukan dosa besar
dan penyimpangan yang fatal, setidaknya dia pernah melakukan kesalahan yang
selama ini dianggapnya sebagai hal biasa. Radit baru menyadari bahwa jalan
hidup yang sudah dilaluinya sedikit meyeleweng dari garis yang ditetapkanNya.
Radit menarik nafas berat. Dihirupnya udara banyak-banyak, untuk kemudian
dihempaskannya kuat-kuat seperti hendak membuang semua beban yang terasa berat
menggelayuti pundaknya. Jika dipikir dan diingat lagi, memang banyak gadis yang
singgah dalam hari-harinya. Dengan sendirinya dia mengenal dan berhubungan
dengan mereka. Dia sendiri tidak pernah mencari dan mengejar gadis-gadis itu.
Semuanya datang, hadir dan pergi begitu saja dalam hidupnya. Awalnya dia
mengenal mereka sebagai teman, lalu mereka dekat dengannya untuk kemudian
hubungan mereka berlanjut menjadi lebih serius. Saling bersimpati dan
menyayangi satu sama lain.
Seingat
Radit, sampai saat ini dia sudah enam kali pacaran dan satu kali bertunangan.
Tapi semuanya kandas, bahkan beberapa bulan lalu dia baru putus dengan Alya
Prameswati yang terhitung sebagai pacarnya yang ketujuh. Dalam sepuluh tahun
dengan tujuh wanita yang resmi menjadi pacarnya, merupakan rekor yang lumayan.
Lain lagi para wanita yang pernah dilirik dan dikaguminya secara diam-diam.
Benar-benar telah mengotori hati dan pikirannya. Radit beristigfar dalam hati
mengingat perbuatannya di masa lalu.
Lalu,
jika ada yang menjulukinya sebagai play boy cap kucing, pantaskah dia marah
padanya? Dan jika ada yang mengatakan dia suka gonta ganti pacar, pantaskah dia
tidak terima dengan perkataan itu? Sekarang Radit baru menyadari bahwa bukan
salah mereka jika beranggapan demikian. Karena memang dia sendiri yang mencetak
cap itu pada dirinya. Bukan salah Naela juga, jika gadis itu pernah
menganggapnya suka mempermainkan wanita dan menyalahkannya karena pernah
mengkhianati tunangannya. Awalnya dia agak kesal pada Naela yang dianggapnya
sok suci dan sok alim. Gadis itu selalu menyalahkan dan menasehatinya,
membuat Radit malas berbicara dan curhat padanya. Karena jika Radit bercerita,
ujung-ujungnya akan diberi ceramah dan nasehat olehnya.
Dari
tujuh wanita, Cinta monyet Radit tapi bukan cinta pertama baginya adalah Naela
As-Syifa’. Berawal dari saling menggojlok, pada akhirnya Radit dan Naela dekat
sebagai sahabat. Dan ternyata, kedekatan itu membuat Naela simpati padanya.
Awalnya Radit bangga dan tersanjung karena disukai oleh Naela yang selalu
menjadi bintang kelas. Meskipun tidak cantik, tapi setidaknya Naela tidak
jelek-jelek amat untuk dijadikan pacar hehehe J. Mungkin karena belum
cukup umur, Radit masih belum memiliki perasaan apa-apa padanya, hanya sekedar
rasa sayang sebagai sahabat, atau mungkin tepatnya perasaan sayang seorang
kakak pada adiknya, karena Radit adalah anak sulung dengan seorang adik
perempuan. Agar tidak mengecewakan Naela yang sudah lumayan dekat dengannya,
akhirnya Radit menjadi kekasih gadis itu. Tapi kisah cintanya dengan gadis itu
tergolong unik dan menggelikan. Masak, pacaran cuma satu bulan. Seperti
main-main saja. Maklum, monyet gitu loh. He..he..he..
Setelah
putus dengan Naela As-Syifa’, ada Bening An-Nada, yang mengisi hari-harinya.
Gadis lugu dan baik hati itu begitu saja mengusik perhatiannya. Selain cantik,
kepintarannya juga lumayan mengusik. Apalagi, dia tergolong cewek tenar yang
banyak dibicarakan cowok-cowok di sekolah. Tapi, masa berhubungan dengannya
hanya berjalan satu tahun. Memang tidak terlalu lama, tapi setidaknya lebih
lama bila dibandingkan dengan Naela yang hanya berumur satu bulan. Penyebab
putusnya hubungan Radit dengan Bening hanyalah masalah jarak. Setelah lulus,
secara otomatis Radit akan berjauhan dengan gadis itu. Dan dia
paling tidak bisa menjalani hubungan Long Distance. Dari pada nanti ada
apa-apa, lebih baik diantisipasi terlebih dahulu. Dan putus menjadi pilihan
mereka berdua. Lagian, setelah mereka tidak menjadi sepasang kekasih, toh
mereka masih bisa menjadi sahabat. Itulah pertimbangan Radit dan Bening ketika
itu. Setelah putus dengan Bening, hubungannya dengan gadis itu masih berjalan
dengan baik sebagai seorang sahabat. Dia juga sesekali masih main ke rumah
gadis itu. Yach, seperti sebelum-sebelumnya. Tidak terlalu banyak perubahan.
Mungkin yang berubah hanyalah status mereka. Bening sudah tidak lagi menjadi
pacarnya, dan begitupun sebaliknya.
Selang
beberapa waktu dia putus dengan Bening, tiba-tiba saja orang tuanya menjodohkan
Radit dengan seorang gadis yang bernama Afnia Kalyana. Gadis cantik dan lembut,
tetangga sekaligus famili jauhnya. Meskipun rumah Afnia tidak terlalu jauh
dengan rumahnya, Radit tidak terlalu mengenal gadis itu. Dia juga tidak
memiliki perasaan apa-apa padanya. Tapi demi baktinya pada orang tua, mau tidak
mau Radit harus menerima pertunangan yang sudah terjadi. Sebenarnya Radit tidak
mau dijodohkan. Karena menurutnya, perjodohan itu hanya ada pada zaman Siti
NurBaya. Sedangkan dia sekarang sudah ada di zaman milenium dan cowok pula,
bukan cewek pingitan seperti Siti Nurbaya.Tapi mau bagaimana lagi, mungkin
sudah menjadi garis nasibnya.
Orang
bilang, takdir itu tidak bisa ditebak. Mungkin hal itulah yang terjadi pada
Radit. Ketika itu dia kebetulan ikut temannya bertandang ke rumah pacarnya. Di
sanalah Radit mengenal Imtiyazul Ula. Gadis yang terbiasa dipanggil Tiyaz ini
lumayan energik dan berani. Tanpa malu-malu dia berkata jujur bahwa dia
menyukai Radit dan ingin menjadi pacarnya. Radit benar-benar tidak menyangka.
Padahal ketika itu Radit masih bertunangan dengan Afnia. Agar tidak menyakiti
perasaan Tiyaz, Radit berterus terang padanya bahwa dia sudah bertunangan. Tapi
ternyata itu tidak masalah bagi Tiyaz. Dan akhirnya, Radit menjalin hubungan
dengan Tiyaz meskipun ketika itu dia masih berstatus sebagai tunangan resmi
Afnia. Awalnya semua baik-baik saja. Bersama Tiyaz, Radit merasakan hari-hari
yang penuh warna, tidak lagi merasa sepi seperti sebelum-sebelumnya, sejak
Bening An-nada berlalu beberapa waktu lalu. Tapi karena hubungan mereka
dijalani sambil lalu saja, akhirnya semuanya kandas. Tiyazpun berlalu begitu
saja. Tapi itu tidak masalah bagi Radit. Karena selama ini dia hanya menganggap
gadis itu sebagai teman. Hanya agar tidak menyakiti hatinya saja, Radit
memenuhi permintaan gadis itu dan mau berpacaran dengannnya.
Tiyaz,
gadis ketiga dalam kehidupan Radit berlalu. Dan disusul pula dengan kepergian
Afnia Kalyana. Radit tidak menyangka, bahwa pertunangan yang sempat tidak
diterimanya, berakhir pula. Padahal awalnya, semua baik-baik saja. Setahu
Radit, Afnia sangat mencintainya. Sedang dia sendiri, meskipun belum bisa
mencintai Afnia, saat itu sedang berusaha menumbuhkan perasaan sayangnya untuk
gadis pilihan orang tuanya itu. Tapi apa mau dikata, jika takdir berkata lain.
Pertunangan mereka putus. Mungkin saja, Afnia merasa dikhianati oleh Radit yang
menjalin hubungan dengan Tiyaz. Meskipun gadis itu mencintainya, tapi dia tidak
bisa menerima pengkhianatan yang dilakukannya. Dan sekali lagi, putus menjadi
pilihan terbaik bagi pertunangan mereka. Radit sendiri tidak terlalu tahu
bagaimana perasaannya ketika pertunangannya dengan Afnia putus. Bahagia mungkin
iya, karena dari semula dia kurang setuju dengan perjodohannya. Sedih, mungkin
juga. Karena ternyata dalam hati kecilnya, Radit sudah mulai menyayangi Afnia.
Tapi, namanya juga bukan jodoh, mereka berpisah dan Radit kembali menjomblo.
Sepertinya, Radit tidak
perlu terlalu lama menjomblo. Karena berselang waktu, ada seorang gadis yang
lumayan cantik di tempat kerjanya. Dia bernama Rena Permata. Sosoknya yang
tinggi, putih, murah senyum dan modis, telah mencuri hati Radit. Pokoknya,
semua kriteria Radit benar-benar ada pada diri Rena. Pertama kali melihatnya,
jantung Radit berdetak kencang, hatinya tertawan. Sepertinya, hanya Rena yang
benar-benar memenuhi semua kriteria Radit tentang seorang wanita. Renalah yang
benar-benar bisa membuat Radit jatuh cinta untuk pertama kalinya. Selain
cantik, Rena juga tampak dewasa dan mandiri. Mungkin karena usia
Rena yang lebih tua dari Radit, membuat gadis itu benar-benar tampak matang
dalam bersikap, bertindak dan berpikir. Tapi toh usia tidak bisa menjadi ukuran
sebuah perasaan. Usia juga tidak bisa menjadi penghalang timbulnya perasaan
suka dan cinta.
Bersama Rena, Radit belajar
menjadi dewasa (katanya sih hehehe). Bersama Rena, Radit mendapat kebahagiaan
dan pengalaman baru. Hari-hari mereka lalui dengan penuh suka dan bahagia.
Apalagi mereka satu tempat kerja, yang membuat keduanya secara otomatis sering
bertemu dan bersama. Tapi seperti pepatah yang mengatakan “Tak ada pesta yang
tak berakhir”, hubungan Radit dan Renapun telah habis masa berlakunya. Seperti
halnya masa kerja Rena di tempat Radit yang juga telah habis masanya. Rena
harus kembali ke kota asalnya dan pergi meninggalkan Radit yang dicintainya.
Padahal ketika itu, cinta mereka masih sedang mekar-mekarnya. Ibarat bunga,
cinta mereka baru bersemi dan mewangi. Radit ingin mempertahankan cintanya,
meski berjauhan, dia tidak ingin hubungannya dengan Rena berakhir seperti
kisahnya dengan Bening. Karena itu, Long Distancepun sanggup Radit jalani. Tapi
berhubung kedua orang tua, terutama ibu tidak merestui dan menyetujui pilihan
hatinya, akhirnya radit menyerah pada takdir dan keadaan. Untuk yang kesekian
kalinya, radit harus rela membiarkan orang yang dicintainya melangkah pergi.
Setelah
kepergian Rena, agak lama Radit menjomblo. Hingga suatu saat di tempatnya
mengajar ada seorang guru tugas baru, Putri Salsabila lumayan mengusik hatinya
yang sepi. Berawal dari kedekatan mereka yang manis, semuanya semakin manis.
Bermula dari curhat-curhatan, akhirnya hati mereka saling tercuri. Radit merasa
bahwa Shasa adalah gadis terakhir yang dikirim Tuhan untuknya. Dia sangat
menyayangi dan mencintainya. Dalam hati dia bertekad untuk menjadikan Shasa
sebagai pelabuhan terakhir hatinya. Apalagi selama ini, Radit sudah lelah
dengan hubungan-hubungan cintanya yang selalu berakhir. Tapi ternyata, Shasa
bukanlah gadis terbaik seperti yang diyakininya selama ini. Karena nyatanya dia
telah mengkhinati dan menorehkan luka di hatinya begitu dalam. Dengan sepenuh
hati Radit menyayangi dan mempercayai gadis itu. Bahkan, separuh jiwanya telah
dia serahkan pada gadis itu saking percayanya. Tapi siapa menduga, Shasa yang
selama ini baik di depannya, tiba-tiba memintanya memutuskan hubungan. Awalnya
Radit tidak terima, tapi alasan yang dikemukakan Shasa membuat Radit tidak bisa
menolaknya. Shasa ingin memfokuskan diri pada kuliah dan memutuskan untuk tidak
berpacaran. Belakangan ini Radit baru tahu bahwa kuliah hanya dijadikan Shasa
sebagai alasan untuk bisa memutuskan hubungan dengannya. Yang benar adalah
Shasa telah mengkhianatinya.
Pengkhiatan
Shasa sempat membuat Radit trauma. Sengaja dia menenggelamkan diri dalam
kesendirian. Hampir dua tahun Radit menikmati asyiknya menjomblo. Meskipun
sepi, paling tidak Radit merasa enjoy dan bebas melangkah ke manapun ia pergi.
Hingga akhirnya dia bertemu dengan Alya Prameswati, seorang penyiar radio yang
akhirnya menjadi pacar ketujuh Radit. Berawal dari sekedar ikut-ikutan teman,
Radit menjadi terbiasa nongkrong di sebuah stasiun radio swasta di kotanya. Di
sanalah dia mengenal Alya. Seorang gadis manis yang supel dengan lesung
pipitnya membuat hati Radit kembali tertawan. Tapi hubungannya dengan Alyapun
tidak bertahan lama. Sikap Alya yang terlalu banyak menuntut dan agak childies
membuat Radit kembali menempuh jalan putus, meskipun hubungan mereka baru
berjalan beberapa bulan.
Mungkin
dulu, Radit menganggap memiliki pacar atau kekasih adalah sebuah prestasi.
Karena dengan begitu, eksistensi dirinya diakui oleh kaum hawa. Tapi saat ini
Radit baru menyadari bahwa anggapannya selama ini adalah salah. Kehadiran
wanita-wanita itu dalam kehidupannya adalah ujian kehanifan untuk dirinya. Dan
selama sepuluh tahun ini, ternyata dia tidak lulus ujian. Saat inilah, di sisa
umurnya dia ingin lulus dari ujian itu. Dia ingin benar-benar menjadi pribadi
muslim yang baik dan hanif. Yang senantiasa menjaga pandangan, hati dan
perkataan. Biarlah hanya Kamidia Cantika, perempuan pilihan orang tuanya itulah
yang benar-benar mengisi hatinya saat ini. Karena InsyaAllah kalau
Allah meridhai, perempuan lembut dan baik hati inilah yang akan dipersuntingnya
bulan depan. Dia ingin menjadi yang terbaik untuk Tika, sebagaimana
keinginannya selama ini, Tika menjadi yang terbaik untuknya.
Berdasarkan kisah seorang
teman, dengan perubahan seperlunya.
Thank’s tuk inspirasinya.
Semoga perjalanan panjang yang kau lalui akan menjadikanmu lebih dewasa dan
bijaksana menghadapi hidup. Amien…
Semoga artikel Karena Jejak Yang Tertinggal bermanfaat bagi Anda.