Melerai Bianglala Hati
Mesir, Juni 2001
Buat
: Zahrotur Raniah
Di
Bumi Allah
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Tanpa terasa, begitu cepat
roda sang waktu berputar. Sudah empat tahun mas Bowo di Mesir, Mas Bowo ucapkan
banyak terima kasih atas segala kebaikan bapak dan dik Zahroh selama ini.
Mungkin Mas Bowo tidak bisa membalas semua kebaikan itu, biarlah Allah yang
membalas semuanya dengan yang lebih baik.
Selain itu, Mas Bowo minta
maaf pada dik Zahroh, karena tak bisa memenuhi janji Mas Bowo pada dik Zahroh
dan Bapak untuk membangun desa Tanalos bersama-sama sekembalinya Mas Bowo ke
desa kelak. Bukan maksud Mas Bowo untuk menyakiti dik Zahroh. Hanya saja, Mas
Bowo benar-benar tidak bisa menahan godaan hati yang hadir di haluan Mas Bowo.
Mas Bowo tahu dik Zahroh
berhati mulia, karena itulah Mas Bowo harap dik Zahroh memaklumi semuanya. Mas
Bowo tidak bisa menolak kehadiran Naseem saat dia menawarkan hari-hari penuh
nuansa pada Mas Bowo. Dia begitu baik dik, Mas Bowo tidak tega dan tidak bisa
menyakiti dia. Sekali lagi maafkanlah Mas Bowo. Percayalah, dik Zahroh pasti
akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Mas Bowo. Sampaikan salam maaf
mas pada bapak. Terima kasih untuk semuanya.
Wassalamu’alaikum
wr.wb
Agus
Wibowo
Setetes
air mata jatuh membasahi selembar surat putih yang baru saja dibacanya. Mungkin
tak terbayang bagaimana hancurnya hati Zahroh saat itu. Biarpun dicobanya untuk
tegar, namun air mata yang telah memenuhi kelopak matanya tak bisa ia tahan. Di
sampingnya, Inayah berusaha menegarkan dan menenangkan hati sahabatnya yang
sedang bergejolak.
“Ze,
tabahkan hatimu ya! ” ujarnya pelan. Perlahan Zahroh menghapus air matanya.
Meringkas tetesan air di pipinya. Berusaha menahan sedih yang merajamnya.
“
In, mungkin aku bisa terima dengan semua ini, bagiku tak mengapa Bowo
memutuskan pertunangan kami, toh aku tak punya hak untuk melarangnya. Yang tak
bisa aku terima, mengapa harus sekarang dia melakukan ini? Saat bapak terbaring
sakit karena stroke yang dideritanya. Padahal kau tahu kan In, bapak begitu
berharap banyak padanya. Beliau begitu bangga dan sayang padanya karena calon
mantunya seorang Lc. Lalu, saat dia memutuskan semuanya, apa yang bisa aku
perbuat? Aku harus bilang apa pada beliau? Aku tak bisa In. Karena aku tahu,
beliau akan sangat terpukul dengan kabar ini. Apa yang akan terjadi padanya
nanti In, sedang saat ini beliau berada dalam keadaan kritis” tersedu Zahroh
memeluk Inayah yang juga tampak berkaca-kaca. Inayah dapat merasakan kehancuran
hati sahabat karibnya itu. Biar bagaimanapun dia adalah seorang wanita. Yang
memiliki rasa dan hati yang amat peka bila disakiti. Mungkin dia bisa terima
dengan semua perlakuan Bowo terhadapnya, tapi bagaimana dengan perasaan bapak
yang amat disayanginya itu. Sedangkan baru saja bencana menimpa keluarga
mereka. Panen tahun ini yang begitu diharapkan, ternyata gagal total karena
hama menyerang tiba-tiba. Inayah hanya bisa berharap pada-Nya semoga
Zahroh dan bapaknya tegar menghadapi semuanya.
@@@
Zahroh memandangi wajah
bapak yang tampak semakin menua di usianya yang baru menginjak kepala empat.
Rasa sedih itu tak bisa ditahannya. Dia bingung dengan apa yang mesti
diperbuatnya.
“ Bing,
kapan Bowo datang ?” tanya bapak tiba-tiba. Pertanyaan biasa ketika dilontarkan
beliau pada hari-hari sebelumnya, tapi tidak untuk saat ini. Pertanyaan itu
cukup mengejutkan dan menyentakkan Zahroh dari lamunannya. Yang membuatnya
kebingungan, tidak tahu harus menjawab apa.
“
Eh, Zahroh…Zahroh kurang tahu pak ” jawabnya agak terbata. Bapak mengernyitkan
dahi. Menatap heran putrinya. Tidak biasanya putri semata wayangnya itu
kebingungan ketika ditanya tentang Wibowo, tunangannya.
“
Suratnya bagaimana?” ulang beliau bertanya
“
Ndak tahu pak, bulan ini Mas Bowo tidak mengirim kabar” jawabnya berbohong
sambil menunduk. Perasaan takut itu menyergapnya tiba-tiba. Karena selama ini
Zahroh paling tidak bisa untuk berbohong pada Bapak. Selama ini, baru dua kali
Zahroh berbohong pada Bapak. Saat dia pura-pura sakit karena tidak mau
mengikuti acara “ Rokat Tase’ ” yang biasa dilaksanakan di daerahnya. Dan
kebohongan kedua adalah saat ini, saat bapak menanyakan surat Wibowo padanya
yang memang selalu dikirimkan pemuda itu setiap dua bulan sekali. Ia semakin takut
dan salah tingkah ketika bapak memandanginya tak berkedip seakan mengintrogasi.
Naluri kebapakan lelaki tua itu merasakan ada sesuatu yang lain pada
putrinya. Tapi apa? Beliau tidak bisa menebaknya. Beliau semakin mengernyitkan
dahi dan menatap tajam anaknya.
“Ko’ aneh ya, sudah tiga
bulan ini Bowo tidak berkirim surat pada kita, padahal biasanya setiap dua
bulan sekali dia rutin memberi kabar. Jangan-jangan telah terjadi sesuatu
dengannya? Coba kamu tanya sama keluarganya, mungkin ada yang tahu kabarnya.
Bapak khawatir akan keadaannya Bing” pinta bapak pada Zahroh yang
hanya bisa mengangguk.
“Emm…. Insya Allah Pak,
nanti kalo sempat ” ujarnya pelan sambil tetap menunduk.
Bapak semakin heran
mendengar perkataan Zahroh barusan. Dari nadanya, dia merasa seakan
ada keengganan dan kejanggalan di sana. Selama ini, Zahroh tidak pernah
bersikap seperti ini jika pembicaraan mereka berkenaan dengan Wibowo. Dia
selalu antusias bercerita pada bapak tentang kabar yang dikirim tunangannya dari
Mesir. Tapi kali ini,….
@@@
Sore itu, senja masih
temaram. Di serambi depan, tampak Zahroh sedang menyapu. Perasaannya galau.
Seminggu lagi Wibowo akan datang dari Mesir bersama Naseem. Sedang
keadaan bapak masih belum membaik. Menurut dokter Hadi, bapak tidak boleh dibebani
dan memikirkan hal-hal berat dalam waktu dekat ini.
“Ya
Allah, Zahroh harus bagaimana? Tolonglah hamba, jangan sampai bapak tahu kalo
Bowo akan datang dan menikah dengan gadis lain, bukan dengan aku. Ya Allah,
hanya pada-Mu hamba mohon pertolongan” Do’anya dalam hati. Masih dengan
kegalauannya ia terus melanjutkan pekerjaan.
“
Mbak, Mbak Zahroh! ” seorang bocah cilik memanggil dan mendekat ke arahnya.
Mengejutkan dan membuat Zahroh menghentikan tangan menyapu halaman.
“
Ada apa Yun? Ko’ tergesa-gesa?” tanyanya pada bocah itu.
“ Anu Mbak. Sama bapak,
Mbak Zahroh disuruh ke rumah sakit. Katanya, bapak ingin membicarakan sesuatu.
Penting ” jawab Yuni dengan nafas yang masih terengeh-engah. Rupanya, bocah
cilik tetangga Zahroh itu berlari dari rumah sakit ke rumahnya. Dalam hati
Zahroh bertanya-tanya apa gerangan yang akan dibicarakan bapak dengannya sampai
menyuruh Yuni untuk menjemputnya. Namun dengan segera dia beranjak mengikuti
langkah-langkah kecil Yuni menuju rumah sakit di ujung desa.
“
Ada apa Pak, ko’ sampe’ nyuruh Yuni segala untuk menjemput Zahroh. Kan sebentar
lagi juga Zahroh datang ” tanya Zahroh seraya duduk di samping bapak. Memijit
lengan bapaknya. Tidak ada jawaban. Beliau hanya tersenyum sambil mengelus
kepala Zahroh yang memakai jilbab putih.
“Bing,
sebentar lagi Bowo akan datang. Kau akan segera menikah dan membangun desa
Tanalos ini bersamanya. Bapak berharap, semoga hal ini bisa mengobati
kekecewaanmu empat tahun lalu yang tidak bisa meneruskan sekolah karena bapak
memaksamu untuk menerima Bowo sebagai tunanganmu. Bapak bahagia Bing,
karena sebentar lagi kau akan menjadi istri Agus Wibowo Lc. Kalau sudah begini,
bapak akan tenang menghadap Gusti Allah. Karena anak bapak yang ayu ini ada
yang jaga, menggantikan bapak yang sudah tua dan bau tanah ini. Kamu harus
bersyukur akan nikmat ini ” ujar bapak dengan mata berkaca-kaca karena bahagia.
Senyum beliau mengembang di sudut bibir tuanya yang sudah mulai mengeriput.
Zahroh tidak bisa menahan setetes air mata pilu mendengar perkataan bapak.
Apalagi perkataan bau tanah barusan. Hatinya sakit sekali seakan dirajam-rajam.
Karena dia tahu, bapak akan sangat kecewa bila mengetahui hal yang sebenarnya.
“ Bing,
kenapa menangis? Ayo, tersenyumlah!” ujar bapak lagi.
Tangis Zahroh semakin
menjadi. Dia sudah tidak bisa menahan airmata yang sedari tadi menyelesak
memenuhi kelopak matanya. Semakin ditahannya, air mata itu semakin menderas
membasahi pipi. Bapak heran mendapati putri semata wayangnya itu sesenggukan.
“ Wes
to! Kalo ada sesuatu dengan kamu ngomong sama bapak. Jangan disimpan
sendiri selagi kamu masih bisa berbagi dengan bapak, selagi bapak masih di
sisimu. Bapak ndak mau melihat kamu menangis seperti ini. Bapak sudah tekad,
kamu harus menjadi wanita yang paling berbahagia di dunia ini. Itulah sebabnya
mengapa bapak sangat bahagia saat keluarga Subagio yang kaya raya itu meminta
kamu untuk menjadi calon mantunya. Bapak bahagia Bing, karena
berarti hidup kamu kelak akan terjamin. Apalagi Bowo adalah pemuda yang baik
dan bertanggung jawab. Ayo, Bing ngomong sama bapak! Apa yang
membuat kamu sedih sampe’ nangis seperti ini” sekali lagi bapak memaksanya
bicara.
Zahroh
bukannya berhenti menangis. Perkataan bapak semakin membuatnya tidak bisa
berkata-kata. Karena sampai saat ini, bapak masih membanggakan Wibowo, pemuda
baik dan bertanggung jawab yang telah memutuskan tali pertunangannya sebulan
lalu lewat surat. Tak sabar menanti jawaban putrinya, bapak mengambil dagu
Zahroh. Didongakkannya Zahroh dan ditatapnya tajam. Bapak ingin mencari jawaban
itu di mata sendu Zahroh yang berkabut. Zahroh berusaha mengelak dari pandangan
bapak.
“
Ndak ada apa-apa pak. Zahroh bahagia mendengar penuturan bapak. Sekarang bapak
ndak usah mikir yang macam-macam. Bapak ndak akan ke mana-mana. Bapak akan
tetap di sini bersama Zahroh. Bapak akan sehat. Bapak ndak perlu memikirkan
Bowo. Lagi pula, Mas Bowo masih lama di Mesir ” ujar Zahroh berbohong. Tapi
untuk kali ini bapak tidak mudah dibohongi. Beliau sudah menangkap adanya
kejanggalan itu dari beberapa minggu terakhir ini. Tepatnya ketika Zahroh
mengatakan sibuk sebagai alasan penolakan, ketika disuruh pergi ke keluarga
Subagio untuk menanyakan kabar tentang Wibowo.
“
Mengapa kau berbohong pada bapak Bing? “ tanyanya tajam menyelidik.
Zahroh gugup. Apalagi bapak menatapnya tak berkedip. Dia memang tidak bisa
berbohong, terutama pada bapak yang sudah membesarkannya puluhan tahun sebagai
ayah sekaligus ibu baginya.
“
Ndak pak. Zahroh ndak bohong. Zahroh jujur sama bapak ” ujar Zahroh dengan hati
bergetar. Dalam hati dia berharap semoga bapak percaya pada perkatannya kali
ini.
“ Bing,
kamu tahu, bapak paling benci dibohongi. Apalagi dibohongi oleh anak sendiri.
Jangan buat bapak marah dengan semua ini. Apapun masalahnya, bilang sama bapak
kalo kamu masih nganggap bapak sebagai orang tua. Ayo bilang Bing,
bilang sama bapak !” suara bapak mulai meninggi. Tampak beliau sedang berusaha
menahan amarahnya. Zahroh bingung, hatinya dipenuhi berbagai macam keraguan.
Haruskah dia jujur pada bapak saat ini? Bagaimana kalau bapak nanti kambuh?
Bagaimana nanti kalau berita yang disampaikannya membuat bapak semakin parah?
Pertanyaan-pertanyaan itu menyergapnya. Membingungkannya. Akhirnya, dia memilih
bungkam.
@@@
Sejak peristiwa di rumah
sakit kemarin, bapak marah. Beliau tidak mau berbicara dengan Zahroh. Bahkan
hari ini, bapak memaksa untuk pulang ke rumah padahal keadaannya belum pulih
benar. Menurut dokter Hadi, beliau masih memerlukan waktu seminggu untuk
istirahat.
Selama
di rumah, tidak sepatah katapun yang terucap dari mulut bapak. Beliau hanya
diam membungkam sepanjang hari. Bahkan beliau tidak mau memakan nasi yang telah
disiapkan Zahroh dari pagi. Berkali-kali pula, beliau menolak bantuan Zahroh
ketika akan pergi ke luar rumah atau sekedar ke kamar mandi untuk buang air.
Zahroh semakin nelangsa dibuatnya. Setiap malam dia senantiasa berdo’a semoga
bapak cepat merubah sikap.
Pagi
itu, Inayah datang ke rumahnya. Didapatinya Zahroh berwajah sendu dan bermata
sembab. Hati gadis itu ikut bersedih melihat kesedihan yang dialami sahabatnya.
Selama ini, Zahroh dikenalnya sebagai seorang gadis yang senantiasa ceria dan
bersemangat. Tapi hari ini, dia tampak kusut dan lesu.
“Aku
harus bagaimana In? Bapak membenciku karena tidak mau berterus terang tentang
surat Bowo. Padahal kau tahu sendiri, aku tidak akan bisa mengatakan semuanya.
Mengatakan bahwa Bowo yang dibanggakannya telah mencampakkanku dan akan segera
menikah dengan orang lain. Beliau akan sangat terguncang dengan kabar ini In.
Dan itu berarti akan semakin membuat beliau bertambah parah. Aku tidak ingin
bapak shock dan,………….” Pilu Zahroh berucap. Dia tidak bisa melanjutkan
kata-katanya.
“
Memang perlu waktu Ze. Untuk saat ini, mungkin tak apa beliau begitu. Yang
penting tidak mengganggu kejiwaan beliau. Insya Allah, suatu saat nanti beliau
akan berubah juga. Yang terpenting jangan sampai kau berhenti berdo’a dan
memohon pada-Nya agar bapak bisa menerima semuanya dengan lapang dada,
sekiranya beliau harus tahu hal yang sebenarnya ” Ujar Inayah menasehati.
Sejurus kemudian, keduanya sama-sama terdiam. Membungkam, terpenjara kesedihan.
Brakkkk……………………Treng……………….
Kebisuan
Zahroh dan Inayah dikejutkan oleh suara benda pecah belah yang terbanting keras
ke lantai. Segera keduanya menghambur ke dalam rumah. Di kamarnya, Zahroh
mendapati bapak terjatuh sambil memegangi dadanya. Tampak pecahan vas bunga
berserakan di lantai sekitarnya.
“
Apa yang terjadi pak?” teriak Zahroh histeris. Dia segera memburu ke arah bapak
yang berusaha menahan sakit di dada. Susah payah, beliau bicara.
“ Bing,
me….me…ngapa kau ndak bilang bahwa..eh..eh.. kau….kau….menerima surat ini? ”
Tanya bapak dengan terbata. Beliau menunjukkan remasan surat Wibowo di
tangannya. Bukan main terkejutnya Zahroh, begitu pula dengan Inayah. Dia tidak
menyangka bapak akan menemukan surat yang sudah berusaha disembunyikannya
selama ini di bawah kasur.
“ Maafkan Zahroh pak.
Zahroh tidak ingin bapak kecewa. Zahroh tidak ingin… Pak …Bapak…bangun
pak……bangun!!” teriak Zahroh semakin histeris ketika dilihatnya bapak semakin
memucat dengan tubuh yang bergetar hebat. Zahroh hanya bisa mendekap bapak pilu.
Laki-laki yang sangat ia sayangi itu menghembuskan nafas dan menutup mata di
pangkuannya. Beliau berpulang pada-Nya setelah dengan terbata mengucapkan dua
kalimat syahadat. Kesedihan Zahroh meluap. Sesuatu yang amat ditakutinya selama
ini benar-benar terjadi. Di sampingnya, Inayah hanya membisikkan
kalimat-kalimat tauhid di telinganya. Dia tahu sahabatnya itu sedang dilanda
kesedihan mendalam yang merejamnya.
@@@
Sore yang kelam, sekelam
hati Zahroh kala itu. Di pekuburan Dungun, Zahroh masih bersimpuh di dekat
pusara bapak yang masih basah. Air mata masih tersisa di sudut matanya. Hatinya
sedih tak terkira. Hanya bapak satu-satunya yang dia punya selama ini. Tapi
kini, beliaupun berpulang ke haribaan-Nya menyusul Bundanya yang telah wafat
dua belas tahun silam, saat dia masih di bangku SD. Tinggallah dirinya sebatang
kara. Diri yang harus menanggung segala pilu yang tersisa. Sepenuh hati dia
panjatkan do’a untuk bapak yang amat dikasihinya. Keheningan mencekam, karena
para pengiring jenazah telah pulang ke rumah masing-masing.
“ Dik Zahroh……” terdengar
suara seseorang memanggil namanya. Perlahan Zahroh menoleh ke belakang. Tidak
jauh dari tempatnya bersimpuh, tampak Wibowo menatap nanar ke arahnya.
“ Dik, maafkan Mas Bowo.
Mas Bowo…………..”
“ Untuk apa ke sini?
Silahkan Mas Bowo pergi!. Zahroh tidak ingin lagi melihat Mas. Lihatlah Mas,
Lihatlah bapak! Mas telah mengkhianati kepercayaannya” ucapnya bergetar.
“ Tapi Dik….,” Wibowo
tercekat
“Cukup Mas! Cukup! Kenapa
Mas janjikan segala mimpi-mimpi indah itu pada beliau kalo akhirnya seperti
ini. Beginikah Mas Bowo yang amat dibangga-banggakan bapak? Sungguh naïf Mas,
sungguh! “ Zahroh berucap sambil membuang muka. Sekuat hati dia berusaha menata
hati. Dia marah pada pemuda itu. Marah atas perlakuannya yang telah membuat
bapak terenggut darinya. Bapak yang begitu membanggakannya, bapak yang begitu
berharap besar padanya, tapi harus menelan kekecewaan di akhir hidupnya. Tapi
dia tidak ingin menangis di depan laki-laki itu. Sama sekali tidak ingin.
Betapapun ia hancur, dia ingin tetap tegar dan merelakan kepergian
bapak ke haribaan-Nya.
Wibowo tidak bisa
berkata-kata lagi. Mulutnya terkunci. Hatinya dipenuhi penyesalan yang
mendalam. Penyesalan karena telah menorehkan luka di hati gadis itu dan
almarhum bapaknya. Seandainya Zahroh tahu tentang hubungannya dengan Naseem.
Wanita itu telah meninggalkannya karena perbedaan prinsip diantara mereka
berdua. Wibowo ingin mengatakan semuanya dan mengharap kesediaan Zahroh untuk
menerimanya kembali. Tapi demi melihat kenyataan di depannya kini, rasanya
tidak mungkin kesempatan itu masih tersisa untuknya. Hati gadis itu telah
terluka dalam karena kematian bapak yang secara tidak langsung adalah
karenanya, karena surat yang dikirimkannya dua bulan lalu. Ah, seandainya waktu
bisa diulang? Begitulah pikiran yang berkecamuk di benak Wibowo. Tapi semuanya
mustahil. Dengan berjuta penyesalan, dia berlalu. Jauh membawa diri dari haluan
Zahroh yang ternyata masih dicintainya sampai kini.
@@@
Pagi itu Zahroh sedang
membereskan rumah ketika pak kades mengutus Yuni untuk memanggilnya ke rumah
beliau. Dengan tergesa, dia mengikuti langkah-langkah kecil Yuni menuju rumah
pak kades. Di sana telah berkumpul dua aparat desa. Tampak seseorang yang masih
asing dalam pandangannya diantara mereka. Seseorang yang baru dilihatnya. Pak
kades mempersilahkannya duduk. Ketika itu, bu kades datang dengan nampan di
tangannya. Beliau menyajikan teh dan duduk di sampingnya.
“ Alhamdulillah. Kita patut
bersyukur pada-Nya, karena pada hari ini desa kita kedatangan guru baru.
Seorang guru yang Insya Allah siap membantu penduduk memajukan pendidikan. Dia
sebenarnya bukan orang baru bagi saya. Karena dia adalah keponakan saya
sendiri. Dia Iqbal, putra sulung Mas Adi Ningrat dari Solo. Setelah menamatkan
S2nya di Kairo, dia ingin mengamalkan ilmunya di desa ini. Sebagai satu-satunya
orang yang selama ini mengelola sekolah desa, bapak berharap Zahroh mau
bekerjasama dengannya dalam menjalankan tugas ini. Perkenalkan dia dengan
anak-anak pagi ini ” ujar pak kades kepadanya. Zahroh mengangguk. Dilihatnya
Iqbal, keponakan pak kades menganggukkan kepala dan tersenyum ramah ke arahnya.
“ Enggi pak”
ta’dzim Zahroh berucap. Percakapanpun berlanjut. Pak kades banyak bertanya
kepada keponakannya itu. Begitu juga dengan bu kades dan dua aparat desa.
Zahroh hanya diam mendengarkan.
“ Alhamdulillah, Maha Adil
Engkau ya Allah, tanpa Bowopun desa ini akan tetap maju dan berkembang. Terima
kasih ya Allah….” Lirih Zahroh bersyukur dalam hati. Terbayang dalam angannya,
kemajuan desa Tanalos yang beberapa minggu lalu sempat terlerai dari benaknya.
Biarlah bianglala asanya bersama Wibowo terlerai, toh akan hadir bianglala baru
yang akan lebih memberi warna dalam langit desa kecilnya, begitulah pikir
Zahroh waktu itu. Saat itu pula dilihatnya mentari pagi tersenyum hangat
kepadanya. Di angkasa langit sebelah sanapun terlihat burung-burung beterbangan
dan berkicau menambah semaraknya suasana pagi.
Terinspirasi kisah sedih
seorang teman lama.
Percayalah, Allah Maha
Adil. So, Tetap yakin pada-Nya. Oke? :-)
Semoga artikel Melerai Bianglala Hati bermanfaat bagi Anda.