Minggu, 11 November 2012

Melerai Bianglala Hati


                                                                                                                     Mesir, Juni 2001 

                                                                                                                        Buat : Zahrotur Raniah
                                                                                                            Di
                                                            Bumi Allah

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Tanpa terasa, begitu cepat roda sang waktu berputar. Sudah empat tahun mas Bowo di Mesir, Mas Bowo ucapkan banyak terima kasih atas segala kebaikan bapak dan dik Zahroh selama ini. Mungkin Mas Bowo tidak bisa membalas semua kebaikan itu, biarlah Allah yang membalas semuanya dengan yang lebih baik.
Selain itu, Mas Bowo minta maaf pada dik Zahroh, karena tak bisa memenuhi janji Mas Bowo pada dik Zahroh dan Bapak untuk membangun desa Tanalos bersama-sama sekembalinya Mas Bowo ke desa kelak. Bukan maksud Mas Bowo untuk menyakiti dik Zahroh. Hanya saja, Mas Bowo benar-benar tidak bisa menahan godaan hati yang hadir di haluan Mas Bowo.
Mas Bowo tahu dik Zahroh berhati mulia, karena itulah Mas Bowo harap dik Zahroh memaklumi semuanya. Mas Bowo tidak bisa menolak kehadiran Naseem saat dia menawarkan hari-hari penuh nuansa pada Mas Bowo. Dia begitu baik dik, Mas Bowo tidak tega dan tidak bisa menyakiti dia. Sekali lagi maafkanlah Mas Bowo. Percayalah, dik Zahroh pasti akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Mas Bowo. Sampaikan salam maaf mas pada bapak. Terima kasih untuk semuanya.

                                                                                                Wassalamu’alaikum wr.wb
                                                                                                            Agus Wibowo

                Setetes air mata jatuh membasahi selembar surat putih yang baru saja dibacanya. Mungkin tak terbayang bagaimana hancurnya hati Zahroh saat itu. Biarpun dicobanya untuk tegar, namun air mata yang telah memenuhi kelopak matanya tak bisa ia tahan. Di sampingnya, Inayah berusaha menegarkan dan menenangkan hati sahabatnya yang sedang bergejolak.
                “Ze, tabahkan hatimu ya! ” ujarnya pelan. Perlahan Zahroh menghapus air matanya. Meringkas tetesan air di pipinya. Berusaha menahan sedih yang merajamnya.
                “ In, mungkin aku bisa terima dengan semua ini, bagiku tak mengapa Bowo memutuskan pertunangan kami, toh aku tak punya hak untuk melarangnya. Yang tak bisa aku terima, mengapa harus sekarang dia melakukan ini? Saat bapak terbaring sakit karena stroke yang dideritanya. Padahal kau tahu kan In, bapak begitu berharap banyak padanya. Beliau begitu bangga dan sayang padanya karena calon mantunya seorang Lc. Lalu, saat dia memutuskan semuanya, apa yang bisa aku perbuat? Aku harus bilang apa pada beliau? Aku tak bisa In. Karena aku tahu, beliau akan sangat terpukul dengan kabar ini. Apa yang akan terjadi padanya nanti In, sedang saat ini beliau berada dalam keadaan kritis” tersedu Zahroh memeluk Inayah yang juga tampak berkaca-kaca. Inayah dapat merasakan kehancuran hati sahabat karibnya itu. Biar bagaimanapun dia adalah seorang wanita. Yang memiliki rasa dan hati yang amat peka bila disakiti. Mungkin dia bisa terima dengan semua perlakuan Bowo terhadapnya, tapi bagaimana dengan perasaan bapak yang amat disayanginya itu. Sedangkan baru saja bencana menimpa keluarga mereka. Panen tahun ini yang begitu diharapkan, ternyata gagal total karena hama menyerang tiba-tiba.  Inayah hanya bisa berharap pada-Nya semoga Zahroh dan bapaknya tegar menghadapi semuanya.
@@@

Zahroh memandangi wajah bapak yang tampak semakin menua di usianya yang baru menginjak kepala empat. Rasa sedih itu tak bisa ditahannya. Dia bingung dengan apa yang mesti diperbuatnya.
                “ Bing, kapan Bowo datang ?” tanya bapak tiba-tiba. Pertanyaan biasa ketika dilontarkan beliau pada hari-hari sebelumnya, tapi tidak untuk saat ini. Pertanyaan itu cukup mengejutkan dan menyentakkan Zahroh dari lamunannya. Yang membuatnya kebingungan, tidak tahu harus menjawab apa.
                “ Eh, Zahroh…Zahroh kurang tahu pak ” jawabnya agak terbata. Bapak mengernyitkan dahi. Menatap heran putrinya. Tidak biasanya putri semata wayangnya itu kebingungan ketika ditanya tentang Wibowo, tunangannya.
                “ Suratnya bagaimana?” ulang beliau bertanya
                “ Ndak tahu pak, bulan ini Mas Bowo tidak mengirim kabar” jawabnya berbohong sambil menunduk. Perasaan takut itu menyergapnya tiba-tiba. Karena selama ini Zahroh paling tidak bisa untuk berbohong pada Bapak. Selama ini, baru dua kali Zahroh berbohong pada Bapak. Saat dia pura-pura sakit karena tidak mau mengikuti acara “ Rokat Tase’ ” yang biasa dilaksanakan di daerahnya. Dan kebohongan kedua adalah saat ini, saat bapak menanyakan surat Wibowo padanya yang memang selalu dikirimkan pemuda itu setiap dua bulan sekali. Ia semakin takut dan salah tingkah ketika bapak memandanginya tak berkedip seakan mengintrogasi. Naluri kebapakan lelaki  tua itu merasakan ada sesuatu yang lain pada putrinya. Tapi apa? Beliau tidak bisa menebaknya. Beliau semakin mengernyitkan dahi dan menatap tajam anaknya.
“Ko’ aneh ya, sudah tiga bulan ini Bowo tidak berkirim surat pada kita, padahal biasanya setiap dua bulan sekali dia rutin memberi kabar. Jangan-jangan telah terjadi sesuatu dengannya? Coba kamu tanya sama keluarganya, mungkin ada yang tahu kabarnya. Bapak khawatir akan keadaannya Bing” pinta bapak pada Zahroh yang hanya bisa mengangguk.
“Emm…. Insya Allah Pak, nanti kalo sempat ” ujarnya pelan sambil tetap menunduk.
Bapak semakin heran mendengar perkataan Zahroh barusan.  Dari nadanya, dia merasa seakan ada keengganan dan kejanggalan di sana. Selama ini, Zahroh tidak pernah bersikap seperti ini jika pembicaraan mereka berkenaan dengan Wibowo. Dia selalu antusias bercerita pada bapak tentang kabar yang dikirim tunangannya dari Mesir. Tapi kali ini,….
@@@

Sore itu, senja masih temaram. Di serambi depan, tampak Zahroh sedang menyapu. Perasaannya galau. Seminggu lagi Wibowo akan datang  dari Mesir bersama Naseem. Sedang keadaan bapak masih belum membaik. Menurut dokter Hadi, bapak tidak boleh  dibebani dan memikirkan hal-hal berat dalam waktu dekat ini.
                “Ya Allah, Zahroh harus bagaimana? Tolonglah hamba, jangan sampai bapak tahu kalo Bowo akan datang dan menikah dengan gadis lain, bukan dengan aku. Ya Allah, hanya pada-Mu hamba mohon pertolongan” Do’anya dalam hati. Masih dengan kegalauannya ia terus melanjutkan pekerjaan.
                “ Mbak, Mbak Zahroh! ” seorang bocah cilik memanggil dan mendekat ke arahnya. Mengejutkan dan membuat Zahroh menghentikan tangan menyapu halaman.
                “ Ada apa Yun? Ko’ tergesa-gesa?” tanyanya pada bocah itu.   
“ Anu Mbak. Sama bapak, Mbak Zahroh disuruh ke rumah sakit. Katanya, bapak ingin membicarakan sesuatu. Penting ” jawab Yuni dengan nafas yang masih terengeh-engah. Rupanya, bocah cilik tetangga Zahroh itu berlari dari rumah sakit ke rumahnya. Dalam hati Zahroh bertanya-tanya apa gerangan yang akan dibicarakan bapak dengannya sampai menyuruh Yuni untuk menjemputnya. Namun dengan segera dia beranjak mengikuti langkah-langkah kecil Yuni menuju rumah sakit di ujung desa.
                “ Ada apa Pak, ko’ sampe’ nyuruh Yuni segala untuk menjemput Zahroh. Kan sebentar lagi juga Zahroh datang ” tanya Zahroh seraya duduk di samping bapak. Memijit lengan bapaknya. Tidak ada jawaban. Beliau hanya tersenyum sambil mengelus kepala Zahroh yang memakai jilbab putih.
                “Bing, sebentar lagi Bowo akan datang. Kau akan segera menikah dan membangun desa Tanalos ini bersamanya. Bapak berharap, semoga hal ini bisa mengobati kekecewaanmu empat tahun lalu yang tidak bisa meneruskan sekolah karena bapak memaksamu untuk menerima Bowo sebagai tunanganmu. Bapak bahagia Bing, karena sebentar lagi kau akan menjadi istri Agus Wibowo Lc. Kalau sudah begini, bapak akan tenang menghadap Gusti Allah. Karena anak bapak yang ayu ini ada yang jaga, menggantikan bapak yang sudah tua dan bau tanah ini. Kamu harus bersyukur akan nikmat ini ” ujar bapak dengan mata berkaca-kaca karena bahagia. Senyum beliau mengembang di sudut bibir tuanya yang sudah mulai mengeriput. Zahroh tidak bisa menahan setetes air mata pilu mendengar perkataan bapak. Apalagi perkataan bau tanah barusan. Hatinya sakit sekali seakan dirajam-rajam. Karena dia tahu, bapak akan sangat kecewa bila mengetahui hal yang sebenarnya.
                “ Bing, kenapa menangis? Ayo, tersenyumlah!” ujar bapak lagi.
Tangis Zahroh semakin menjadi. Dia sudah tidak bisa menahan airmata yang sedari tadi menyelesak memenuhi kelopak matanya. Semakin ditahannya, air mata itu semakin menderas membasahi pipi. Bapak heran mendapati putri semata wayangnya itu sesenggukan.
                “ Wes to! Kalo ada sesuatu dengan kamu ngomong sama bapak. Jangan disimpan sendiri selagi kamu masih bisa berbagi dengan bapak, selagi bapak masih di sisimu. Bapak ndak mau melihat kamu menangis seperti ini. Bapak sudah tekad, kamu harus menjadi wanita yang paling berbahagia di dunia ini. Itulah sebabnya mengapa bapak sangat bahagia saat keluarga Subagio yang kaya raya itu meminta kamu untuk menjadi calon mantunya. Bapak bahagia Bing, karena berarti hidup kamu kelak akan terjamin. Apalagi Bowo adalah pemuda yang baik dan bertanggung jawab. Ayo, Bing ngomong sama bapak! Apa yang membuat kamu sedih sampe’ nangis seperti ini” sekali lagi bapak memaksanya bicara.
                Zahroh bukannya berhenti menangis. Perkataan bapak semakin membuatnya tidak bisa berkata-kata. Karena sampai saat ini, bapak masih membanggakan Wibowo, pemuda baik dan bertanggung jawab yang telah memutuskan tali pertunangannya sebulan lalu lewat surat. Tak sabar menanti jawaban putrinya, bapak mengambil dagu Zahroh. Didongakkannya Zahroh dan ditatapnya tajam. Bapak ingin mencari jawaban itu di mata sendu Zahroh yang berkabut. Zahroh berusaha mengelak dari pandangan bapak.
                “ Ndak ada apa-apa pak. Zahroh bahagia mendengar penuturan bapak. Sekarang bapak ndak usah mikir yang macam-macam. Bapak ndak akan ke mana-mana. Bapak akan tetap di sini bersama Zahroh. Bapak akan sehat. Bapak ndak perlu memikirkan Bowo. Lagi pula, Mas Bowo masih lama di Mesir ” ujar Zahroh berbohong. Tapi untuk kali ini bapak tidak mudah dibohongi. Beliau sudah menangkap adanya kejanggalan itu dari beberapa minggu terakhir ini. Tepatnya ketika Zahroh mengatakan sibuk sebagai alasan penolakan, ketika disuruh pergi ke keluarga Subagio untuk menanyakan kabar tentang Wibowo.
                “ Mengapa kau berbohong pada bapak Bing? “ tanyanya tajam menyelidik. Zahroh gugup. Apalagi bapak menatapnya tak berkedip. Dia memang tidak bisa berbohong, terutama pada bapak yang sudah membesarkannya puluhan tahun sebagai ayah sekaligus ibu baginya.
                “ Ndak pak. Zahroh ndak bohong. Zahroh jujur sama bapak ” ujar Zahroh dengan hati bergetar. Dalam hati dia berharap semoga bapak percaya pada perkatannya kali ini.
                “ Bing, kamu tahu, bapak paling benci dibohongi. Apalagi dibohongi oleh anak sendiri. Jangan buat bapak marah dengan semua ini. Apapun masalahnya, bilang sama bapak kalo kamu masih nganggap bapak sebagai orang tua. Ayo bilang Bing, bilang sama bapak !” suara bapak mulai meninggi. Tampak beliau sedang berusaha menahan amarahnya. Zahroh bingung, hatinya dipenuhi berbagai macam keraguan. Haruskah dia jujur pada bapak saat ini? Bagaimana kalau bapak nanti kambuh? Bagaimana nanti kalau berita yang disampaikannya membuat bapak semakin parah? Pertanyaan-pertanyaan itu menyergapnya. Membingungkannya. Akhirnya, dia memilih bungkam.
@@@

Sejak peristiwa di rumah sakit kemarin, bapak marah. Beliau tidak mau berbicara dengan Zahroh. Bahkan hari ini, bapak memaksa untuk pulang ke rumah padahal keadaannya belum pulih benar. Menurut dokter Hadi, beliau masih memerlukan waktu seminggu untuk istirahat.
                Selama di rumah, tidak sepatah katapun yang terucap dari mulut bapak. Beliau hanya diam membungkam sepanjang hari. Bahkan beliau tidak mau memakan nasi yang telah disiapkan Zahroh dari pagi. Berkali-kali pula, beliau menolak bantuan Zahroh ketika akan pergi ke luar rumah atau sekedar ke kamar mandi untuk buang air. Zahroh semakin nelangsa dibuatnya. Setiap malam dia senantiasa berdo’a semoga bapak cepat merubah sikap.
                Pagi itu, Inayah datang ke rumahnya. Didapatinya Zahroh berwajah sendu dan bermata sembab. Hati gadis itu ikut bersedih melihat kesedihan yang dialami sahabatnya. Selama ini, Zahroh dikenalnya sebagai seorang gadis yang senantiasa ceria dan bersemangat. Tapi hari ini, dia tampak kusut dan lesu.
                “Aku harus bagaimana In? Bapak membenciku karena tidak mau berterus terang tentang surat Bowo. Padahal kau tahu sendiri, aku tidak akan bisa mengatakan semuanya. Mengatakan bahwa Bowo yang dibanggakannya telah mencampakkanku dan akan segera menikah dengan orang lain. Beliau akan sangat terguncang dengan kabar ini In. Dan itu berarti akan semakin membuat beliau bertambah parah. Aku tidak ingin bapak shock dan,………….” Pilu Zahroh berucap. Dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
                “ Memang perlu waktu Ze. Untuk saat ini, mungkin tak apa beliau begitu. Yang penting tidak mengganggu kejiwaan beliau. Insya Allah, suatu saat nanti beliau akan berubah juga. Yang terpenting jangan sampai kau berhenti berdo’a dan memohon pada-Nya agar bapak bisa menerima semuanya dengan lapang dada, sekiranya beliau harus tahu hal yang sebenarnya ” Ujar Inayah menasehati. Sejurus kemudian, keduanya sama-sama terdiam. Membungkam, terpenjara kesedihan.
                Brakkkk……………………Treng……………….
                Kebisuan Zahroh dan Inayah dikejutkan oleh suara benda pecah belah yang terbanting keras ke lantai. Segera keduanya menghambur ke dalam rumah. Di kamarnya, Zahroh mendapati bapak terjatuh sambil memegangi dadanya. Tampak pecahan vas bunga berserakan di lantai sekitarnya.
                “ Apa yang terjadi pak?” teriak Zahroh histeris. Dia segera memburu ke arah bapak yang berusaha menahan sakit di dada. Susah payah, beliau bicara.
“ Bing, me….me…ngapa kau ndak bilang bahwa..eh..eh.. kau….kau….menerima surat ini? ” Tanya bapak dengan terbata. Beliau menunjukkan remasan surat Wibowo di tangannya. Bukan main terkejutnya Zahroh, begitu pula dengan Inayah. Dia tidak menyangka bapak akan menemukan surat yang sudah berusaha disembunyikannya selama ini di bawah kasur.
“ Maafkan Zahroh pak. Zahroh tidak ingin bapak kecewa. Zahroh tidak ingin… Pak …Bapak…bangun pak……bangun!!” teriak Zahroh semakin histeris ketika dilihatnya bapak semakin memucat dengan tubuh yang bergetar hebat. Zahroh hanya bisa mendekap bapak pilu. Laki-laki yang sangat ia sayangi itu menghembuskan nafas dan menutup mata di pangkuannya. Beliau berpulang pada-Nya setelah dengan terbata mengucapkan dua kalimat syahadat. Kesedihan Zahroh meluap. Sesuatu yang amat ditakutinya selama ini benar-benar terjadi. Di sampingnya, Inayah hanya membisikkan kalimat-kalimat tauhid di telinganya. Dia tahu sahabatnya itu sedang dilanda kesedihan mendalam yang merejamnya.
@@@

Sore yang kelam, sekelam hati Zahroh kala itu. Di pekuburan Dungun, Zahroh masih bersimpuh di dekat pusara bapak yang masih basah. Air mata masih tersisa di sudut matanya. Hatinya sedih tak terkira. Hanya bapak satu-satunya yang dia punya selama ini. Tapi kini, beliaupun berpulang ke haribaan-Nya menyusul Bundanya yang telah wafat dua belas tahun silam, saat dia masih di bangku SD. Tinggallah dirinya sebatang kara. Diri yang harus menanggung segala pilu yang tersisa. Sepenuh hati dia panjatkan do’a untuk bapak yang amat dikasihinya. Keheningan mencekam, karena para pengiring jenazah telah pulang ke rumah masing-masing.
“ Dik Zahroh……” terdengar suara seseorang memanggil namanya. Perlahan Zahroh menoleh ke belakang. Tidak jauh dari tempatnya bersimpuh, tampak Wibowo menatap nanar ke arahnya.
“ Dik, maafkan Mas Bowo. Mas Bowo…………..”
“ Untuk apa ke sini? Silahkan Mas Bowo pergi!. Zahroh tidak ingin lagi melihat Mas. Lihatlah Mas, Lihatlah bapak! Mas telah mengkhianati kepercayaannya” ucapnya bergetar.
“ Tapi Dik….,” Wibowo tercekat
“Cukup Mas! Cukup! Kenapa Mas janjikan segala mimpi-mimpi indah itu pada beliau kalo akhirnya seperti ini. Beginikah Mas Bowo yang amat dibangga-banggakan bapak? Sungguh naïf Mas, sungguh! “ Zahroh berucap sambil membuang muka. Sekuat hati dia berusaha menata hati. Dia marah pada pemuda itu. Marah atas perlakuannya yang telah membuat bapak terenggut darinya. Bapak yang begitu membanggakannya, bapak yang begitu berharap besar padanya, tapi harus menelan kekecewaan di akhir hidupnya. Tapi dia tidak ingin menangis di depan laki-laki itu. Sama sekali tidak ingin. Betapapun ia hancur,  dia ingin tetap tegar dan merelakan kepergian bapak ke haribaan-Nya.
Wibowo tidak bisa berkata-kata lagi. Mulutnya terkunci. Hatinya dipenuhi penyesalan yang mendalam. Penyesalan karena telah menorehkan luka di hati gadis itu dan almarhum bapaknya. Seandainya Zahroh tahu tentang hubungannya dengan Naseem. Wanita itu telah meninggalkannya karena perbedaan prinsip diantara mereka berdua. Wibowo ingin mengatakan semuanya dan mengharap kesediaan Zahroh untuk menerimanya kembali. Tapi demi melihat kenyataan di depannya kini, rasanya tidak mungkin kesempatan itu masih tersisa untuknya. Hati gadis itu telah terluka dalam karena kematian bapak yang secara tidak langsung adalah karenanya, karena surat yang dikirimkannya dua bulan lalu. Ah, seandainya waktu bisa diulang? Begitulah pikiran yang berkecamuk di benak Wibowo. Tapi semuanya mustahil. Dengan berjuta penyesalan, dia berlalu. Jauh membawa diri dari haluan Zahroh yang ternyata masih dicintainya sampai kini.
@@@

Pagi itu Zahroh sedang membereskan rumah ketika pak kades mengutus Yuni untuk memanggilnya ke rumah beliau. Dengan tergesa, dia mengikuti langkah-langkah kecil Yuni menuju rumah pak kades. Di sana telah berkumpul dua aparat desa. Tampak seseorang yang masih asing dalam pandangannya diantara mereka. Seseorang yang baru dilihatnya. Pak kades mempersilahkannya duduk. Ketika itu, bu kades datang dengan nampan di tangannya. Beliau menyajikan teh dan duduk di sampingnya.
“ Alhamdulillah. Kita patut bersyukur pada-Nya, karena pada hari ini desa kita kedatangan guru baru. Seorang guru yang Insya Allah siap membantu penduduk memajukan pendidikan. Dia sebenarnya bukan orang baru bagi saya. Karena dia adalah keponakan saya sendiri. Dia Iqbal, putra sulung Mas Adi Ningrat dari Solo. Setelah menamatkan S2nya di Kairo, dia ingin mengamalkan ilmunya di desa ini. Sebagai satu-satunya orang yang selama ini mengelola sekolah desa, bapak berharap Zahroh mau bekerjasama dengannya dalam menjalankan tugas ini. Perkenalkan dia dengan anak-anak pagi ini ” ujar pak kades kepadanya. Zahroh mengangguk. Dilihatnya Iqbal, keponakan pak kades menganggukkan kepala dan tersenyum ramah ke arahnya.
“ Enggi pak” ta’dzim Zahroh berucap. Percakapanpun berlanjut. Pak kades banyak bertanya kepada keponakannya itu. Begitu juga dengan bu kades dan dua aparat desa. Zahroh hanya diam mendengarkan.
“ Alhamdulillah, Maha Adil Engkau ya Allah, tanpa Bowopun desa ini akan tetap maju dan berkembang. Terima kasih ya Allah….” Lirih Zahroh bersyukur dalam hati. Terbayang dalam angannya, kemajuan desa Tanalos yang beberapa minggu lalu sempat terlerai dari benaknya. Biarlah bianglala asanya bersama Wibowo terlerai, toh akan hadir bianglala baru yang akan lebih memberi warna dalam langit desa kecilnya, begitulah pikir Zahroh waktu itu. Saat itu pula dilihatnya mentari pagi tersenyum hangat kepadanya. Di angkasa langit sebelah sanapun terlihat burung-burung beterbangan dan berkicau menambah semaraknya suasana pagi.


Terinspirasi kisah sedih seorang teman lama.
Percayalah, Allah Maha Adil. So, Tetap yakin pada-Nya. Oke? :-)


Semoga artikel Melerai Bianglala Hati bermanfaat bagi Anda.

Hikayat Kita - All Right Reserved.Powered By Blogger
Theme Designed Kumpulan artikel Menarik