Minggu, 11 November 2012

Catatan Dua Hati


Pagi, di taman rumah sakit
                Besok pagi aku akan mulai merajut hari-hari sepi bersama kursi roda ini. Ah, betapa menyakitkan. Aku paling benci dengan kesepian. Tapi mulai besok hingga akhir nanti kesepian dan kesunyian itu akan menjadi teman setiaku sepanjang hari. Seandainya kecelakaan itu tidak terjadi mungkin hingga detik ini aku masih bersama kawan-kawanku di Padjajaran, aktif dalam organisasi kampus dan tenggelam dalam semangat berpacu dengan waktu. Tapi sudahlah, semuanya sudah takdir dari-Nya. Aku tidak ingin berandai-andai dan menyalahkan siapapun, tidak juga William, walau dialah yang telah membuat aku seperti ini, kehilangan satu kaki karena harus diamputasi akibat kecelakaan tabrak lari dua purnama lalu. Semoga saja aku bisa tabah dalam hari-hariku.

Pagi, di Koridor Rumah Sakit
                Aku sangat menyesal, menyesal sekali. Karena kecerobohanku gadis tidak berdosa itu harus menderita seumur hidup. Seandainya gadis lain yang kutabrak mungkin tidak apa, tapi dia. Ah, dia terlalu baik, bahkan teramat sangat, yang membuat rasa bersalahku semakin menggunung. Sedikitpun dia tidak mendendam atas semua perbuatanku padanya. Dia begitu tulus memaafkanku. Padahal karena ulahkulah masa depan yang didambanya suram. Tuhan……beri aku waktu dan kesempatan untuk menebus dosa padanya. Aku tidak akan bisa hidup tenang sebelum menebus semuanya.

Pagi, Rumah bunga di jalan Flamboyan
                Saat ini aku hanya bisa memandang matahari pagi dari jendela kamarku. Dulu, sewaktu kursi roda ini tidak menjadi teman setiaku, pagi-pagi seperti ini selalu kuhabiskan untuk lari pagi mengelilingi komplek perumahan. Pagi ini, ah….betapa membosankan. Hanya duduk dan duduk di atas besi beroda ini. Tapi aku bersyukur, karena sejak kecelakaan itu aku lebih dekat dengan-Nya. Rasanya aku lebih senang berlama-lama bercengkrama dengan-Nya. Aku juga lebih senang merenungi segala keindahan bumi dan isinya yang telah diciptakann-Nya untuk manusia. Seperti pagi ini, aku merasakan betapa sinar sang surya di ufuk timur terasa lebih indah dari pada hari-hari kemarin. Padahal aku tahu, matahari di langit sana tetaplah matahari yang sama, seperti dua bulan lalu sebelum aku mengalami kecelakaan ini. Tapi sungguh, amat terasa bedanya.

Sore, Rumah klasik di jalan Martapura
                Bunda Maria, aku berjanji atas namamu. Aku akan menebus segala dosaku pada gadis itu. Aku akan senantiasa hadir dalam hari-harinya, mengusir sepi yang akan membelenggunya. Selain itu, aku akan merubah diri. Aku tidak akan mabuk-mabukan lagi, tidak juga keluyuran malam-malam. Seperti pinta mama dari dulu-dulu. Aku tidak  ingin tragedi naas itu terulang  lagi. Cukup seorang saja yang menjadi korban keteledoranku. Aku tidak ingin ada hati lain lagi yang terluka. Laras, maafkan aku. Semoga kau tabah dengan cobaan yang menimpamu.

Malam hari, menjelang tidur.
                Hari-hariku sepi hanya berteman kursi roda. Aku rindu pada teman-temanku dan semua kegiatan di kampus. Tapi sudahlah, toh semua sudah terjadi. Aku masih bisa berbahagia karena dalam kesepianku masih ada yang peduli menemani hingga kesepian ini tidak terlalu membelenggu. Masih ada teman-teman kampusku yang sesekali datang berkunjung menanyakan kabar. Dan juga William, dia senantiasa hadir setiap sore untuk menemaniku jalan-jalan atau sekedar bercerita tentang pengalamannya dan hal-hal lucu lainnya. Sungguh, aku patut bersyukur atas semua ini. Ya Allah, terima kasih untuk semuanya.

***                                           ***                                           ***                          
Malam hari, Sepulangnya dari rumah Laras.
                Bunda Maria, telah beberapa bulan ini aku menemani Laras setiap sore. Aku bahagia sekali. Bahagia melihat senyum manisnya berseri kembali. Terima kasih Tuhan. Kau masih menyisakan tawa di kisi-kisi luka hatinya. Semoga saja aku bisa menebus kesalahanku padanya, meski sedikit. Walau hanya sekedar menemaninya. Tapi sungguh! Apapun rela kulakukan demi dia. Demi senyumnya. Agar mendung itu tak lagi menghias hari-hari sepinya.

Malam, Setelah makan malam
                Setelah mendapat dorongan dari Mbak Santi, kakak sulungku yang tinggal bersamaku sejak ayah dan ibu memutuskan untuk bercerai, aku berkeinginan untuk memakai jilbab sepertinya. Aku ingin sekali. Karena aku sadar menutup aurat adalah kewajiban setiap wanita muslimah. Tapi aku akan menyimpan rahasia ini. Aku ingin membuat kejutan untuk Mbak Santi dan William. Mereka pasti senang dengan keputusanku ini.

Sore, di Super Market
                Besok adalah ulang tahun Laras yang kedua puluh. Aku bingung sekali hari ini. Entah hadiah apa yang cocok untuk aku berikan di hari  istimewanya besok. Dari tadi aku mencari sesuatu yang cocok untuknya, tapi belum juga kudapatkan. Meski sudah berkali-kali aku mengitari super market ini. Dan payahnya lagi, aku tidak mengajak teman ketika memutuskan untuk  pergi, sehingga tidak ada yang bisa aku mintai pendapat dalam hal ini. Tapi, sepertinya ada sesuatu yang amat pantas aku berikan padanya. Dia suka sekali membaca. Apalagi dalam kesendiriannya. Dia lebih banyak memiliki waktu luang menekuri buku-buku bacaan. Ya, benar sekali. Aku akan memberikan sesuatu yang istimewa itu untuknya.:-)

20 Maret 1999
                Hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku bahagia sekali. Dan hari ini pula aku telah membulatkan tekad untuk menutup aurat sebelum Ramadhan tiba. Sengaja kuberikan hadiah ini untuk diriku sendiri dan orang-orang terkasih yang malam ini hadir bersamaku. Mbak Santi memberiku hadiah Qur’an kecil agar aku lebih rajin tilawah katanya. William, sungguh aku tidak menyangka bahwa dia akan memberiku hadiah buku “La Tahzan”, buku bagus best seller yang telah lama aku impikan. Tapi, dari mana dia mendapat ide memberiku hadiah ini? Karena aku tahu dia adalah seorang protestan. Tapi bagiku tiak ada masalah, karena selama ini dia tidak pernah mengganggu keyakinanku. Dia tetap baik dan menghormatiku. Ibuku juga datang hari ini. Itulah sebabnya suasana ulang tahunku lebih meriah dari tahun-tahun lalu, walaupun tidak ada pesta perayaan. Hanya saja, kabar tentang ayah yang kuterima sedikit mengurangi kebahagiaanku malam ini. Meninggalkan perasaan kecewa yang begitu mendalam. Ayah tetap menganut Katolik yang menjadi penyebab bercerainya kedua orang tuaku. Bahkan kudengar dari ibu, beliau kini menjadi pastur menggantikan pastur Ricard yang telah berpulang ke sisi-Nya. Ya Allah, aku dan Mbak Santi gagal membawa beliau ke jalan-Mu. Ampuni beliau ya Allah. Seandainya aku  masih boleh berharap, aku ingin hidayah itu Kau berikan pada ayah agar dia dapat bersama kami dan juga pada William yang selama ini senantiasa baik padaku.

Malam, Setelah pulang dari rumah Bunga
                Malam ini aku bahagia sekali. Karena baru hari ini kulihat dia begitu bahagia. Sepanjang malam tadi dia tak henti-hentinya menebar senyum. Dia cantik sekali dengan gaunnya yang sederhana dan bersahaja. Ah, mengapa aku jadi memikirkannya terus. Tapi, aku memang tidak bisa membohongi diri kalau hatiku telah terpikat olehnya. Tanpa kusadari, kedekatan kami  telah membekaskan begitu banyak kisah. Sikap dan kepribadiannya yang anggun dan bersahaja benar-benar telah menawanku dan membuatku jatuh cinta padanya. Tapi perbedaan kami terlalu jauh. Dia seorang muslimah, sedang aku seorang protestan. Rasanya tidak mungkin aku bisa meraih hatinya. Kedua orang tuanya saja bercerai karena berbeda keyakinan. Tuhan, haruskah kubunuh perasaan suci yang Kau anugerahkan padaku ini? Laras, mengapa kita terlahir dari rumpun yang berbeda?

Menjelang Ramdahan, di rumah bunga
                Hari ini untuk pertama kalinya aku mengenakan baju muslimah saat William datang sore tadi. Kulihat binar bahagia di wajahnya. Tapi hanya sebentar, karena setelah itu kulihat dia tidak lagi berseri.
“ Kenapa? Kamu tidak suka aku memakai ini?” tanyaku padanya. Dia gugup dan tekejut.
“Oh, tidak. Aku bahagia kamu memakai baju itu. Kau tampak lebih cantik dari biasanya, apalagi dengan jilbab biru muda itu” jawabnya sambil berusaha tersenyum kembali. Aku tahu hari ini ada yang berbeda darinya. William lebih banyak diam, tidak seperti biasanya. Hari-hari sebelumnya dia senantiasa ceria bercerita tentang banyak hal. Tapi hari ini, yang ada hanya kebisuan yang berujung pada kepamitannya untuk segera pulang.  Aku tahu dia ada masalah yang dipendamnya. Tapi aku tidak ingin mencampuri urusannya. Apalagi jika dia memang tidak ingin aku untuk tahu hal itu. Aku hanya berharap, sekiranya memang ada masalah semoga dia bisa menyelesaikannya dengan segera.
Di taman rumah klasik, malam hari
                Tuhan…..mengapa aku tidak bisa melupakan Laras. Mengapa dia selalu terbayang di pelupuk mataku. Hari ini dia mengenakan baju muslimah lengkap dengan jilbabnya. Dia cantik dan anggun dalam balutan busana yang begitu bersahaja. Seharusnya aku bahagia, tapi entahlah. Mengapa aku justru merasa sedih. Sedih sekali. Sedih karena takut kehilangannya. Kehilangan hari-hari indah bersamanya. Karena bila dia benar-benar memutuskan untuk terus memakai baju musimah itu dan mendalami agamanya seperti yang diutarakannya beberapa saat lalu, maka tentunya aku harus berlalu dari hari-harinya. Sebagimana sudah jelas perbedaan antara kami.  Apalagi pernah kudengar dalam ajaran agamanya tidak boleh laki-laki dan perempuan bersama tanpa ………………….. Aku tidak tahu lagi bagaimana kalau dia benar-benar menjauh dariku. Haruskah aku yang meninggalkannya sebelum aku benar-benar kehilangan dia. Ah, aku bingung sekali hari ini.

Taman Bunga, sore hari
                Sudah dua hari ini William tidak datang. Sejak peristiwa sore itu dia benar-benar berubah. Apakah dia sibuk? Sakit atau ……………? Tapi mengapa tidak ada kabar untukku? Aku benar-benar bingung dibuatnya. Mengapa? Apa karena perubahanku?

Malam hari, ruang tamu
                Bunda Maria, hatiku semakin gelisah. Perasaan rindu itu membelengguku. Benar-benar sakit. Hari-hariku sepi tanpa Laras. Aku rindu senyumnya. Rindu dengan segala keceriaan bersamanya. Mengapa? Mengapa harus ada perasaan semacam ini. Beberapa hari ini kuhubungi dia lewat telpon, tapi tak pernah ada. Mbak Santi selalu bilang Laras sedang tidur, mandi atau shalat yang membuatku tidak bisa berbicara dengannya. Mengapa Mbak Santi seakan berusaha membatasi hubunganku dengan Laras? Mengapa Bunda? Mengapa? Haruskah aku menemuinya untuk memperjelas semuanya? Tapi bagaimana kalau aku benar-benar kehilangan Laras? Sanggupkah aku melepasnya? Dia telah mengikat hatiku dengan segala kasih sayang ini. Bisakah aku jauh dari dia. Bunda….

Rumah Bunga, waktu gerimis turun
                Maafkan aku William. Maafkan Laras. Aku tidak pernah menduga bahwa kebersamaan kita telah melahirkan sebentuk perasaan yang seharusnya tidak boleh ada di antara kita. Aku kira selama ini kau tulus menyayangiku sebagai sahabat. Tapi ternyata kau telah salah mengartikan semuanya. William, andai kau tahu perasaanku, aku sebenarnya tidak bermaksud melukaimu. Tapi, aku terpaksa harus mengatakan semua yang mengganjal di hati. Kita harus mengakhiri persahababatan dan kebersamaan ini. Aku tidak ingin membuatmu lebih tersiksa dengan semua perasaanmu. Lagi pula, aku tidak ingin membohongimu, menyuruh Mbak Santi mengatakan aku tidak ada setiap kali kau menelpon. Aku ingin menangis saat melihatmu berlalu bersama gerimis dengan goresan luka di matamu. Aku menyesali semuanya. Terima kasih William untuk semua kebaikanmu selama ini. Aku tidak akan pernah lupa  bahwa kaulah sang pencerah, yang telah mencerahkan gelapnya hari-hariku. Sungguh, jujur kuakui aku akan sangat merindukan kebaikan-kebaikanmu dan semua perhatianmu. Sekali lagi maafkan Laras.

Di Tengah gerimis, Sepanjang jalan Diponegoro
                Akhirnya aku mampu mengatakan semuanya. Walau akibatnya aku benar-benar kehilangan dia. Tapi ada lega yang menyusup di hatiku, di kisi kisi lukaku yang mulai berdarah. Aku tidak pernah menyalahkannya. Karena dia benar. Dia seorang muslimah yang taat. Aku kagum akan keteguhan  hatinya, dan itu semakin membuat aku mencintai Laras lebih dari sebelumnya. Aku sekarang baru mengerti mengapa selama ini Mbak Santi selalu berusaha menjauhkanku darinya. Karena perpisahan ini memang seharus terjadi. Agar Laras bisa lebih leluasa dan merasa tenang menjalakankan agamanya. Walau aku tahu dari sorot matanya, ada luka di sana. Sama seperti yang kurasa.  Laras, seandainya aku bisa menjangkau hatimu. Tapi sudahlah, semuanya hanya sesuatu yang tak mungkin. Aku tidak bisa meninggalkan mama demi Laras walaupun aku sangat mencintainya. Aku tidak ingin membuat mama terluka dan kecewa untuk yang kedua kalinya. Cukuplah Bang Riky yang menjadi anak yang tidak berbakti. Menghancurkan segala keinginan mama dengan meninggalkan rumah demi seorang Inayah yang kini telah menjadi istrinya. Hanya mama yang aku miliki saat ini. Aku tidak ingin melukainya. Laras, biarlah kan kukubur semua kenangan indah yang pernah tercipta antara kita. Biarlah pula gerimis ini mencairkan segala rasa yang ada hingga tak tersisa lagi harapan untuk bisa meraih hatimu. Mungkin inilah jalan yang telah ditetapkan Tuhan untukku, untukmu dan untuk semuanya. Mungkin setelah ini aku akan masuk seminari, menjadi pastur dan mengubur semuanya. Yah, mungkin memang begini jalan terbaik dari Tuhan.

Setelah magrib, masih dalam siraman hujan yang rintik-rintik
                Ya Allah, mengapa perasaanku tidak enak? Aku merasa ada sesuatu yang terjadi pada William. Sesuatu yang buruk. Dari tadi perasaan ini mengusikku. Seandainya aku masih boleh memohon, selamatkan dia Ya Allah. Bukakanlah pintu hatinya agar dia dapat menerima cahaya hidayah-Mu. Sebenarnya, aku ingin mengenalkannya pada-Mu, tapi dia telah melangkah pergi sebelum aku sempat membawanya pada-Mu. Ya Allah, di manapun dia berada, lindungilah dia dari segala macam mara bahaya. Amien………….

Rumah sakit dokter Soetomo, jam delapan malam
                Kepalaku terasa berat. Mengapa rasa sakit ini begitu merajamku? Di mana aku? Mengapa aku ada di sini? Kenapa? Apa yang telah terjadi padaku? Ach, sakit sekali.
                “ Dik, tenanglah. InsyaAllah kau akan baik-baik saja”
Suara itu, suara itu amat kukenal. Tidak salahkah pendengaranku. Bang Riky, mengapa dia ada di sini. Besamaku di ruangan serba putih ini. Apa yang terjadi padaku?
                “ Tadi menjelang magrib, saat hujan gerimis ada seorang pengendara mobil menyerempetmu. Tapi syukurlah tidak terjadi hal buruk padamu. Hanya saja, kepalamu terbentur pohon. Menurut dokter, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dan aku sudah menghubungi mama, beliau pergi ke luar bersama dik Inayah, beliau membeli bubur untukmu. Kau lapar kan?” Arif bang Riky berujar. Dia seakan mengerti segala keresahanku. Tapi, mengapa aku merasa ada yang janggal. Barusan dia bilang Mama berada di sini bersama Mbak Inayah. Sejak kapan Bang Riky baikan sama Mama. Yang kutahu, sejak Bang Riky memutuskan untuk  masuk Islam mama tidak pernah akur dengannya. Bahkan, dalam dua tahun ini mama selalu menghindar bila Bang Riky berkunjung ke rumah. Dan beliau tidak pernah mau mengakui Mbak Inayah sebagai menantu, begitu juga Naufal, putra Bang Riky. Ah, masalah ini semakin membuatku pusing.

Saat-saat terakhir di rumah bunga
                Begitu berat kutinggalkan rumah ini. Apalagi taman bunga mawar ini. Di sinilah, selama aku cacat banyak tercipta kenangan indah itu. Di sinilah sering kuhabiskan waktu senja jingga bersama William, yang kini telah berlalu. Di taman bunga inilah kurenda kesabaran dan semua asa yang hampir memusnah di hatiku. Walaupun begitu, aku harus meninggalkan semuanya. Di Surabaya, Ibu membutuhkan kehadiran kami, anak-anaknya yang selama ini terpisah dengannya. Beliau sakit, dan kewajiban kami merawat beliau. Aku berharap dapat membawa ibu kembali ke jalan-Nya.  Membimbing beliau yang selama ini sudah jauh dari tuntunan agama. Hal inilah yang meyebabkan kami anak-anaknya memilih hidup mandiri terpisah darinya. Semoga setelah kepergianku, Willim lebih bisa menata hati. Walaupun mungkin aku akan tetap merindukan segala kelucuannya. Aku berharap semoga hidayah itu datang padanya. Amien…

Rumah klasik, dua minggu setelah keluar dari rumah sakit
                Pengakuan mama barusan masih menyisakan rasa kecewa dan tidak percaya di hatiku. Sungguh, selama ini aku tidak pernah menduga bahwa mama yang anti dengan Islam kini telah menjadi salah satu penganut agama yang dianut oleh Bang Riky itu. Semuanya seperti mimpi, tapi semuanya  nyata terjadi. Baru saja mama mengatakannnya padaku. Semuanya sia-sia, apa yang telah kulakukan tiada guna. Kutinggalkan Laras demi mama, untuk menjaga hatinya agar tidak terluka untuk yang kedua kalinya. Tapi mengapa begini jadinya? Mengapa? Tidak mengapa kupupuskan segala mimpi, kulerai segala rindu dan kurela dengan sakit hati yang kualami kini demi keyakinan ini, demi kesetiaanku pada mama, tapi mengapa mama sendiri tega menghancurkan semuanya? Mengapa mamapun ikut kepercayaan Bang Riky? Benarkah perkataan Laras dulu, sebelum aku berpisah dengannnya bahwa setiap jiwa pastilah kembali dan dapat merasakan kebenaran yang hakiki, karena pada hakekatnya semuanya akan kembali pada Dzat yang menciptakan jiwa itu sendiri, dan itu adalah Allah yang telah menurunkan Islam sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Tuhan…..tunjukkan aku kebenaran itu karena akupun tidak bisa menyalahkan mama dalam hal ini, sebagaimana akupun tidak bisa menyalahkan Laras dengan semua yang diyakininya.

Tengah malam, setelah sholat tahajjud
                Tak ada yang lebih membahagiakanku saat ini kecuali anugerah dari-Nya  atas kesembuhan ibu dan segala perubahan sikapnya. Aku dan Mbak Santi sering mengajak beliau untuk sholat berjamaah dan tilawah bersama. Alhamdulillah ibu mau mamenuhi ajakan kami. Bahkan akhir-akhir ini ibu sudah sering bangun malam untuk melaksakan shalat tahajjud. Semuanya ternyata tak sesulit yang kubayangkan. Aku sangat bersyukur karena pada akhirnya kami bisa berkumpul kembali setelah sekian waktu terpisah oleh jarak dan perbedaan prinsip. Penyakit yang diderita beliau telah membawa hikmah besar baginya. Ya Allah, terima kasih atas semuanya. Semoga suatu saat nanti ibu mendapat hidayah untuk berhijab dan menutup aurat. Amien…

Rumah klasik, menjelang maghrib
                Mama menangis haru sambil memelukku. Bang Riky pun tampak berkaca-kaca. Mbak Inayah tak henti-hentinya mengucap syukur dan akupun tak bisa menahan rasa haru ini. Baru saja aku mengucapkan dua kalimat syahadat dibimbing Bang Riky. Aku masuk Islam setelah membaca beberapa buku milik Bang Riky. Walaupun sebelumnya aku sempat tidak percaya dengan kebenaran Islam, tapi berkat hidayah-Nya, aku tidak bisa memungkiri kebenaran itu. Bang Riky telah banyak membantuku untuk kembali pada jalan yang seharusnya dari dulu kutempuh. Ada lega di hatiku setelah kulafadzkan dua kalimat syahadat. Seandainya ada Laras pastilah segera kuberi tahu kabar bahagia ini. Dia pasti senang mendengarnya. Tapi sayang, kini dia telah pindah ke Surabaya. Dia telah jauh dariku. Padahal aku ingin dia turut merasakan kebahagia, seperti yang kurasa atas keislamanku saat ini. Laras, mengenangmu sama halnya dengan membangkitkan kembali luka lama yang hampir sembuh. Ya Allah di manapun kini Laras berada, lindungilah dia senantiasa dan tetapkan dia di jalan-Mu. Semoga pula jalan yang kutempuh ini adalah yang terbaik untukku dan seluruh keluargaku. Amien…
@@@

Setelah tiga tahun
                Ini adalah untuk yang ketiga kalinya mama dan Bang Riky mendesakku agar segera menggenapkan Dien. Berulangkali mama mengatakan agar aku segera menikah. Kata mama, beliau ingin segera menimang cucu dariku. Ah, mama memang selalu begitu. Beliau tidak pernah tahu bahwa aku, Muhammad Zaki Hamdani, sampai saat ini masih merasa kesulitan untuk menentukan pilihan. Bahkan bisa dibilang belum menemukan calon yang kufu’. Lagi pula aku masih berharap pada Laras walaupun aku tidak tahu bagaimana kabar dia saat ini. Apakah masih tetap seperti dulu ataukah sudah menikah. Sungguh aku seperti mengharap sesuatu yang tak mungkin. Ya Allah, ampunilah hambamu nan penuh dosa ini.

10 Agustus 2003, pernikahan Mbak santi
Hari ini Mbak Santi menggenapkan Diennya, dia tampak bahagia sekali setelah ijab qabul diucapkan. Ibu menangis haru di sampingku. Aku tahu beliau sangat bahagia dengan pernikahan ini. Karena pada hari ini seluruh anggota keluarga berkumpul. Hanya Ayah yang tidak hadir. Beliau bilang sibuk, tidak bisa datang. Padahal aku tahu, semua itu hanya alasan saja. Dan yang lebih membuatku miris, beliau tidak berkenan menjadi wali nikah Mbak Santi dan menyerahkan sepenuhnya pada paman Mahmud, saudara ibu. Aku tahu Mbak Santi sedih dengan hal ini. Tapi semoga saja setelah ini dia bisa melupakan semuanya. Karena memang sulit untuk menyadarkan ayah yang kini telah semakin jauh melangkah. Kudengar kabar bahwa beliaupun turut andil dalam pemurtadan para muslimah di beberapa lokasi di tanah jawa. Walaupun dia tidak terjun langsung, tapi anak didiknyalah yang melakukan semuanya. Ya Allah, seandainya masih bisa aku berharap, berikanlah hidayahmu pada ayah agar dia berpaling dari jalan yang ditempuhnya kini dan kembali ke jalan-Mu. Amien…..

Rumah klasik setelah istikharah
                Tidak ada alasan bagiku untuk menolak pilihan Mbak Inayah. Setelah istikharah, aku mendapat kemantapan hati. Mungkin memang benar Ainiyah adalah yang terbaik untukku. Seperti kata mama, walaupun gadis itu cacat tapi dia adalah wanita yang sholehah dan isyaAllah kufu’ untukku. Apalagi aku yakin Mbak Inayah pastilah lebih tahu yang terbaik untukku. Dan aku sengaja tidak ingin mengenalnya. Biarlah nanti saja saat ijab qabul. Istikharahku selama ini sudah cukup meyakinkanku bahwa dia adalah jodohku. Selain itu, mama dan Bang Riky pun mendapat pertanda yang baik dalam istikharah mereka. Ya Allah semoga ini adalah langkah awal yang terbaik dalam hidupku. Hanya petunjuk-Mu yang senantiasa kuharapkan dalam setiap langkahku. Semoga Laraspun segera mendapatkan pendamping hidup yang baik untuknya. Kalaupun dia telah berdua semoga kebahagiaan senantiasa bersamanya. Amien………………

Jalan Pattimura, rumah biru
                Aku tidak pernah mengenalnya, apalagi tahu orangnya. Yang kutahu hanya namanya. Dialah Muhammad Zaki Hamdani, ikhwan yang sebentar lagi akan menjadi suamiku, pendamping hidupku dan imam agamaku. Menurut Mas Rahman, suami Mbak Santi dia adalah seorang muallaf. Tapi setelah memeluk Islam dia teguh dan taat dengan keimanannya. Selain itu pula, dia mau menerima keadaanku apa adanya dan tidak mempermasalahkan kekuranganku. Aku bersyukur untuk semuanya. Mungkin inilah jalan yang ditetapkan-Nya untukku. Semoga ini adalah yang terbaik. Siapapun Muhammad Zaki Hamdani, aku ingin dia menjadi yang pertama dan yang terakhir dalam kehidupanku. Dan semoga jalinan suci yang insyaAllah akan diresmikan akhir Rabiul Awal nanti mendapat ridha dari-Nya. Amien…..              



“ Jika seseorang tetap tabah menghadapi kepahitan hidup
yang hanya dalam waktu singkat,
maka ia akan memperoleh kebahagiaan dalam waktu yang panjang “
( Thariq bin Ziyad )


Semoga artikel Catatan Dua Hati bermanfaat bagi Anda.

Hikayat Kita - All Right Reserved.Powered By Blogger
Theme Designed Kumpulan artikel Menarik