Catatan Dua Hati
Pagi, di taman rumah sakit
Besok
pagi aku akan mulai merajut hari-hari sepi bersama kursi roda ini. Ah, betapa
menyakitkan. Aku paling benci dengan kesepian. Tapi mulai besok hingga akhir
nanti kesepian dan kesunyian itu akan menjadi teman setiaku sepanjang hari.
Seandainya kecelakaan itu tidak terjadi mungkin hingga detik ini aku masih
bersama kawan-kawanku di Padjajaran, aktif dalam organisasi kampus dan
tenggelam dalam semangat berpacu dengan waktu. Tapi sudahlah, semuanya sudah
takdir dari-Nya. Aku tidak ingin berandai-andai dan menyalahkan siapapun, tidak
juga William, walau dialah yang telah membuat aku seperti ini, kehilangan satu
kaki karena harus diamputasi akibat kecelakaan tabrak lari dua purnama lalu.
Semoga saja aku bisa tabah dalam hari-hariku.
Pagi, di Koridor Rumah
Sakit
Aku
sangat menyesal, menyesal sekali. Karena kecerobohanku gadis tidak berdosa itu
harus menderita seumur hidup. Seandainya gadis lain yang kutabrak mungkin tidak
apa, tapi dia. Ah, dia terlalu baik, bahkan teramat sangat, yang membuat rasa
bersalahku semakin menggunung. Sedikitpun dia tidak mendendam atas semua
perbuatanku padanya. Dia begitu tulus memaafkanku. Padahal karena ulahkulah
masa depan yang didambanya suram. Tuhan……beri aku waktu dan kesempatan untuk
menebus dosa padanya. Aku tidak akan bisa hidup tenang sebelum menebus
semuanya.
Pagi, Rumah bunga di jalan
Flamboyan
Saat
ini aku hanya bisa memandang matahari pagi dari jendela kamarku. Dulu, sewaktu
kursi roda ini tidak menjadi teman setiaku, pagi-pagi seperti ini selalu
kuhabiskan untuk lari pagi mengelilingi komplek perumahan. Pagi ini, ah….betapa
membosankan. Hanya duduk dan duduk di atas besi beroda ini. Tapi aku bersyukur,
karena sejak kecelakaan itu aku lebih dekat dengan-Nya. Rasanya aku lebih
senang berlama-lama bercengkrama dengan-Nya. Aku juga lebih senang merenungi
segala keindahan bumi dan isinya yang telah diciptakann-Nya untuk manusia.
Seperti pagi ini, aku merasakan betapa sinar sang surya di ufuk timur terasa
lebih indah dari pada hari-hari kemarin. Padahal aku tahu, matahari di langit
sana tetaplah matahari yang sama, seperti dua bulan lalu sebelum aku mengalami
kecelakaan ini. Tapi sungguh, amat terasa bedanya.
Sore, Rumah klasik di jalan
Martapura
Bunda
Maria, aku berjanji atas namamu. Aku akan menebus segala dosaku pada gadis itu.
Aku akan senantiasa hadir dalam hari-harinya, mengusir sepi yang akan
membelenggunya. Selain itu, aku akan merubah diri. Aku tidak akan mabuk-mabukan
lagi, tidak juga keluyuran malam-malam. Seperti pinta mama dari dulu-dulu. Aku
tidak ingin tragedi naas itu terulang lagi. Cukup seorang
saja yang menjadi korban keteledoranku. Aku tidak ingin ada hati lain lagi yang
terluka. Laras, maafkan aku. Semoga kau tabah dengan cobaan yang menimpamu.
Malam hari, menjelang
tidur.
Hari-hariku
sepi hanya berteman kursi roda. Aku rindu pada teman-temanku dan semua kegiatan
di kampus. Tapi sudahlah, toh semua sudah terjadi. Aku masih bisa berbahagia
karena dalam kesepianku masih ada yang peduli menemani hingga kesepian ini
tidak terlalu membelenggu. Masih ada teman-teman kampusku yang sesekali datang
berkunjung menanyakan kabar. Dan juga William, dia senantiasa hadir setiap sore
untuk menemaniku jalan-jalan atau sekedar bercerita tentang pengalamannya dan
hal-hal lucu lainnya. Sungguh, aku patut bersyukur atas semua ini. Ya Allah,
terima kasih untuk semuanya.
*** *** ***
Malam hari, Sepulangnya
dari rumah Laras.
Bunda
Maria, telah beberapa bulan ini aku menemani Laras setiap sore. Aku bahagia
sekali. Bahagia melihat senyum manisnya berseri kembali. Terima kasih Tuhan.
Kau masih menyisakan tawa di kisi-kisi luka hatinya. Semoga saja aku bisa
menebus kesalahanku padanya, meski sedikit. Walau hanya sekedar menemaninya.
Tapi sungguh! Apapun rela kulakukan demi dia. Demi senyumnya. Agar mendung itu
tak lagi menghias hari-hari sepinya.
Malam, Setelah makan malam
Setelah
mendapat dorongan dari Mbak Santi, kakak sulungku yang tinggal bersamaku sejak
ayah dan ibu memutuskan untuk bercerai, aku berkeinginan untuk memakai jilbab
sepertinya. Aku ingin sekali. Karena aku sadar menutup aurat adalah kewajiban
setiap wanita muslimah. Tapi aku akan menyimpan rahasia ini. Aku ingin membuat
kejutan untuk Mbak Santi dan William. Mereka pasti senang dengan keputusanku
ini.
Sore, di Super Market
Besok
adalah ulang tahun Laras yang kedua puluh. Aku bingung sekali hari ini. Entah
hadiah apa yang cocok untuk aku berikan di hari istimewanya besok.
Dari tadi aku mencari sesuatu yang cocok untuknya, tapi belum juga kudapatkan.
Meski sudah berkali-kali aku mengitari super market ini. Dan payahnya lagi, aku
tidak mengajak teman ketika memutuskan untuk pergi, sehingga tidak
ada yang bisa aku mintai pendapat dalam hal ini. Tapi, sepertinya ada sesuatu
yang amat pantas aku berikan padanya. Dia suka sekali membaca. Apalagi dalam
kesendiriannya. Dia lebih banyak memiliki waktu luang menekuri buku-buku
bacaan. Ya, benar sekali. Aku akan memberikan sesuatu yang istimewa itu
untuknya.:-)
20 Maret 1999
Hari
ini adalah hari ulang tahunku. Aku bahagia sekali. Dan hari ini pula aku telah
membulatkan tekad untuk menutup aurat sebelum Ramadhan tiba. Sengaja kuberikan
hadiah ini untuk diriku sendiri dan orang-orang terkasih yang malam ini hadir
bersamaku. Mbak Santi memberiku hadiah Qur’an kecil agar aku lebih rajin
tilawah katanya. William, sungguh aku tidak menyangka bahwa dia akan memberiku
hadiah buku “La Tahzan”, buku bagus best seller yang telah
lama aku impikan. Tapi, dari mana dia mendapat ide memberiku hadiah ini? Karena
aku tahu dia adalah seorang protestan. Tapi bagiku tiak ada masalah, karena
selama ini dia tidak pernah mengganggu keyakinanku. Dia tetap baik dan
menghormatiku. Ibuku juga datang hari ini. Itulah sebabnya suasana ulang
tahunku lebih meriah dari tahun-tahun lalu, walaupun tidak ada pesta perayaan.
Hanya saja, kabar tentang ayah yang kuterima sedikit mengurangi kebahagiaanku
malam ini. Meninggalkan perasaan kecewa yang begitu mendalam. Ayah tetap
menganut Katolik yang menjadi penyebab bercerainya kedua orang tuaku. Bahkan
kudengar dari ibu, beliau kini menjadi pastur menggantikan pastur Ricard yang
telah berpulang ke sisi-Nya. Ya Allah, aku dan Mbak Santi gagal membawa beliau
ke jalan-Mu. Ampuni beliau ya Allah. Seandainya aku masih boleh
berharap, aku ingin hidayah itu Kau berikan pada ayah agar dia dapat bersama
kami dan juga pada William yang selama ini senantiasa baik padaku.
Malam, Setelah pulang dari
rumah Bunga
Malam
ini aku bahagia sekali. Karena baru hari ini kulihat dia begitu bahagia.
Sepanjang malam tadi dia tak henti-hentinya menebar senyum. Dia cantik sekali
dengan gaunnya yang sederhana dan bersahaja. Ah, mengapa aku jadi memikirkannya
terus. Tapi, aku memang tidak bisa membohongi diri kalau hatiku telah terpikat
olehnya. Tanpa kusadari, kedekatan kami telah membekaskan begitu
banyak kisah. Sikap dan kepribadiannya yang anggun dan bersahaja benar-benar
telah menawanku dan membuatku jatuh cinta padanya. Tapi perbedaan kami terlalu
jauh. Dia seorang muslimah, sedang aku seorang protestan. Rasanya tidak mungkin
aku bisa meraih hatinya. Kedua orang tuanya saja bercerai karena berbeda
keyakinan. Tuhan, haruskah kubunuh perasaan suci yang Kau anugerahkan padaku
ini? Laras, mengapa kita terlahir dari rumpun yang berbeda?
Menjelang Ramdahan, di
rumah bunga
Hari
ini untuk pertama kalinya aku mengenakan baju muslimah saat William datang sore
tadi. Kulihat binar bahagia di wajahnya. Tapi hanya sebentar, karena setelah
itu kulihat dia tidak lagi berseri.
“ Kenapa? Kamu tidak suka
aku memakai ini?” tanyaku padanya. Dia gugup dan tekejut.
“Oh, tidak. Aku bahagia
kamu memakai baju itu. Kau tampak lebih cantik dari biasanya, apalagi dengan
jilbab biru muda itu” jawabnya sambil berusaha tersenyum kembali. Aku tahu hari
ini ada yang berbeda darinya. William lebih banyak diam, tidak seperti
biasanya. Hari-hari sebelumnya dia senantiasa ceria bercerita tentang banyak
hal. Tapi hari ini, yang ada hanya kebisuan yang berujung pada kepamitannya
untuk segera pulang. Aku tahu dia ada masalah yang dipendamnya. Tapi
aku tidak ingin mencampuri urusannya. Apalagi jika dia memang tidak ingin aku
untuk tahu hal itu. Aku hanya berharap, sekiranya memang ada masalah semoga dia
bisa menyelesaikannya dengan segera.
Di taman rumah klasik,
malam hari
Tuhan…..mengapa
aku tidak bisa melupakan Laras. Mengapa dia selalu terbayang di pelupuk mataku.
Hari ini dia mengenakan baju muslimah lengkap dengan jilbabnya. Dia cantik dan
anggun dalam balutan busana yang begitu bersahaja. Seharusnya aku bahagia, tapi
entahlah. Mengapa aku justru merasa sedih. Sedih sekali. Sedih karena takut
kehilangannya. Kehilangan hari-hari indah bersamanya. Karena bila dia
benar-benar memutuskan untuk terus memakai baju musimah itu dan mendalami
agamanya seperti yang diutarakannya beberapa saat lalu, maka tentunya aku harus
berlalu dari hari-harinya. Sebagimana sudah jelas perbedaan antara kami. Apalagi
pernah kudengar dalam ajaran agamanya tidak boleh laki-laki dan perempuan
bersama tanpa ………………….. Aku tidak tahu lagi bagaimana kalau dia benar-benar
menjauh dariku. Haruskah aku yang meninggalkannya sebelum aku benar-benar
kehilangan dia. Ah, aku bingung sekali hari ini.
Taman Bunga, sore hari
Sudah
dua hari ini William tidak datang. Sejak peristiwa sore itu dia benar-benar
berubah. Apakah dia sibuk? Sakit atau ……………? Tapi mengapa tidak ada kabar
untukku? Aku benar-benar bingung dibuatnya. Mengapa? Apa karena perubahanku?
Malam hari, ruang tamu
Bunda
Maria, hatiku semakin gelisah. Perasaan rindu itu membelengguku. Benar-benar
sakit. Hari-hariku sepi tanpa Laras. Aku rindu senyumnya. Rindu dengan segala
keceriaan bersamanya. Mengapa? Mengapa harus ada perasaan semacam ini. Beberapa
hari ini kuhubungi dia lewat telpon, tapi tak pernah ada. Mbak Santi selalu
bilang Laras sedang tidur, mandi atau shalat yang membuatku tidak bisa
berbicara dengannya. Mengapa Mbak Santi seakan berusaha membatasi hubunganku
dengan Laras? Mengapa Bunda? Mengapa? Haruskah aku menemuinya untuk memperjelas
semuanya? Tapi bagaimana kalau aku benar-benar kehilangan Laras? Sanggupkah aku
melepasnya? Dia telah mengikat hatiku dengan segala kasih sayang ini. Bisakah
aku jauh dari dia. Bunda….
Rumah Bunga, waktu gerimis
turun
Maafkan
aku William. Maafkan Laras. Aku tidak pernah menduga bahwa kebersamaan kita
telah melahirkan sebentuk perasaan yang seharusnya tidak boleh ada di antara
kita. Aku kira selama ini kau tulus menyayangiku sebagai sahabat. Tapi ternyata
kau telah salah mengartikan semuanya. William, andai kau tahu perasaanku, aku
sebenarnya tidak bermaksud melukaimu. Tapi, aku terpaksa harus mengatakan semua
yang mengganjal di hati. Kita harus mengakhiri persahababatan dan kebersamaan
ini. Aku tidak ingin membuatmu lebih tersiksa dengan semua perasaanmu. Lagi
pula, aku tidak ingin membohongimu, menyuruh Mbak Santi mengatakan aku tidak
ada setiap kali kau menelpon. Aku ingin menangis saat melihatmu berlalu bersama
gerimis dengan goresan luka di matamu. Aku menyesali semuanya. Terima kasih
William untuk semua kebaikanmu selama ini. Aku tidak akan pernah lupa bahwa
kaulah sang pencerah, yang telah mencerahkan gelapnya hari-hariku. Sungguh,
jujur kuakui aku akan sangat merindukan kebaikan-kebaikanmu dan semua
perhatianmu. Sekali lagi maafkan Laras.
Di Tengah gerimis,
Sepanjang jalan Diponegoro
Akhirnya
aku mampu mengatakan semuanya. Walau akibatnya aku benar-benar kehilangan dia.
Tapi ada lega yang menyusup di hatiku, di kisi kisi lukaku yang mulai berdarah.
Aku tidak pernah menyalahkannya. Karena dia benar. Dia seorang muslimah yang
taat. Aku kagum akan keteguhan hatinya, dan itu semakin membuat aku
mencintai Laras lebih dari sebelumnya. Aku sekarang baru mengerti mengapa
selama ini Mbak Santi selalu berusaha menjauhkanku darinya. Karena perpisahan
ini memang seharus terjadi. Agar Laras bisa lebih leluasa dan merasa tenang
menjalakankan agamanya. Walau aku tahu dari sorot matanya, ada luka di sana.
Sama seperti yang kurasa. Laras, seandainya aku bisa menjangkau
hatimu. Tapi sudahlah, semuanya hanya sesuatu yang tak mungkin. Aku tidak bisa
meninggalkan mama demi Laras walaupun aku sangat mencintainya. Aku tidak ingin
membuat mama terluka dan kecewa untuk yang kedua kalinya. Cukuplah Bang Riky
yang menjadi anak yang tidak berbakti. Menghancurkan segala keinginan mama
dengan meninggalkan rumah demi seorang Inayah yang kini telah menjadi istrinya.
Hanya mama yang aku miliki saat ini. Aku tidak ingin melukainya. Laras, biarlah
kan kukubur semua kenangan indah yang pernah tercipta antara kita. Biarlah pula
gerimis ini mencairkan segala rasa yang ada hingga tak tersisa lagi harapan
untuk bisa meraih hatimu. Mungkin inilah jalan yang telah ditetapkan Tuhan
untukku, untukmu dan untuk semuanya. Mungkin setelah ini aku akan masuk
seminari, menjadi pastur dan mengubur semuanya. Yah, mungkin memang begini
jalan terbaik dari Tuhan.
Setelah magrib, masih dalam
siraman hujan yang rintik-rintik
Ya
Allah, mengapa perasaanku tidak enak? Aku merasa ada sesuatu yang terjadi pada
William. Sesuatu yang buruk. Dari tadi perasaan ini mengusikku. Seandainya aku
masih boleh memohon, selamatkan dia Ya Allah. Bukakanlah pintu hatinya agar dia
dapat menerima cahaya hidayah-Mu. Sebenarnya, aku ingin mengenalkannya pada-Mu,
tapi dia telah melangkah pergi sebelum aku sempat membawanya pada-Mu. Ya Allah,
di manapun dia berada, lindungilah dia dari segala macam mara bahaya.
Amien………….
Rumah sakit dokter Soetomo,
jam delapan malam
Kepalaku
terasa berat. Mengapa rasa sakit ini begitu merajamku? Di mana aku? Mengapa aku
ada di sini? Kenapa? Apa yang telah terjadi padaku? Ach, sakit sekali.
“
Dik, tenanglah. InsyaAllah kau akan baik-baik saja”
Suara itu, suara itu amat
kukenal. Tidak salahkah pendengaranku. Bang Riky, mengapa dia ada di sini.
Besamaku di ruangan serba putih ini. Apa yang terjadi padaku?
“
Tadi menjelang magrib, saat hujan gerimis ada seorang pengendara mobil
menyerempetmu. Tapi syukurlah tidak terjadi hal buruk padamu. Hanya saja,
kepalamu terbentur pohon. Menurut dokter, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Dan aku sudah menghubungi mama, beliau pergi ke luar bersama dik Inayah, beliau
membeli bubur untukmu. Kau lapar kan?” Arif bang Riky berujar. Dia seakan
mengerti segala keresahanku. Tapi, mengapa aku merasa ada yang janggal. Barusan
dia bilang Mama berada di sini bersama Mbak Inayah. Sejak kapan Bang Riky
baikan sama Mama. Yang kutahu, sejak Bang Riky memutuskan untuk masuk
Islam mama tidak pernah akur dengannya. Bahkan, dalam dua tahun ini mama selalu
menghindar bila Bang Riky berkunjung ke rumah. Dan beliau tidak pernah mau
mengakui Mbak Inayah sebagai menantu, begitu juga Naufal, putra Bang Riky. Ah,
masalah ini semakin membuatku pusing.
Saat-saat terakhir di rumah
bunga
Begitu
berat kutinggalkan rumah ini. Apalagi taman bunga mawar ini. Di sinilah, selama
aku cacat banyak tercipta kenangan indah itu. Di sinilah sering kuhabiskan
waktu senja jingga bersama William, yang kini telah berlalu. Di taman bunga
inilah kurenda kesabaran dan semua asa yang hampir memusnah di hatiku. Walaupun
begitu, aku harus meninggalkan semuanya. Di Surabaya, Ibu membutuhkan kehadiran
kami, anak-anaknya yang selama ini terpisah dengannya. Beliau sakit, dan
kewajiban kami merawat beliau. Aku berharap dapat membawa ibu kembali ke
jalan-Nya. Membimbing beliau yang selama ini sudah jauh dari
tuntunan agama. Hal inilah yang meyebabkan kami anak-anaknya memilih hidup
mandiri terpisah darinya. Semoga setelah kepergianku, Willim lebih bisa menata
hati. Walaupun mungkin aku akan tetap merindukan segala kelucuannya. Aku
berharap semoga hidayah itu datang padanya. Amien…
Rumah klasik, dua minggu
setelah keluar dari rumah sakit
Pengakuan
mama barusan masih menyisakan rasa kecewa dan tidak percaya di hatiku. Sungguh,
selama ini aku tidak pernah menduga bahwa mama yang anti dengan Islam kini
telah menjadi salah satu penganut agama yang dianut oleh Bang Riky itu.
Semuanya seperti mimpi, tapi semuanya nyata terjadi. Baru saja mama
mengatakannnya padaku. Semuanya sia-sia, apa yang telah kulakukan tiada guna.
Kutinggalkan Laras demi mama, untuk menjaga hatinya agar tidak terluka untuk
yang kedua kalinya. Tapi mengapa begini jadinya? Mengapa? Tidak mengapa
kupupuskan segala mimpi, kulerai segala rindu dan kurela dengan sakit hati yang
kualami kini demi keyakinan ini, demi kesetiaanku pada mama, tapi mengapa mama
sendiri tega menghancurkan semuanya? Mengapa mamapun ikut kepercayaan Bang Riky?
Benarkah perkataan Laras dulu, sebelum aku berpisah dengannnya bahwa setiap
jiwa pastilah kembali dan dapat merasakan kebenaran yang hakiki, karena pada
hakekatnya semuanya akan kembali pada Dzat yang menciptakan jiwa itu sendiri,
dan itu adalah Allah yang telah menurunkan Islam sebagai petunjuk bagi seluruh
umat manusia. Tuhan…..tunjukkan aku kebenaran itu karena akupun tidak bisa
menyalahkan mama dalam hal ini, sebagaimana akupun tidak bisa menyalahkan Laras
dengan semua yang diyakininya.
Tengah malam, setelah
sholat tahajjud
Tak
ada yang lebih membahagiakanku saat ini kecuali anugerah dari-Nya atas
kesembuhan ibu dan segala perubahan sikapnya. Aku dan Mbak Santi sering
mengajak beliau untuk sholat berjamaah dan tilawah bersama. Alhamdulillah ibu
mau mamenuhi ajakan kami. Bahkan akhir-akhir ini ibu sudah sering bangun malam
untuk melaksakan shalat tahajjud. Semuanya ternyata tak sesulit yang
kubayangkan. Aku sangat bersyukur karena pada akhirnya kami bisa berkumpul
kembali setelah sekian waktu terpisah oleh jarak dan perbedaan prinsip.
Penyakit yang diderita beliau telah membawa hikmah besar baginya. Ya Allah,
terima kasih atas semuanya. Semoga suatu saat nanti ibu mendapat hidayah untuk
berhijab dan menutup aurat. Amien…
Rumah klasik, menjelang
maghrib
Mama
menangis haru sambil memelukku. Bang Riky pun tampak berkaca-kaca. Mbak Inayah
tak henti-hentinya mengucap syukur dan akupun tak bisa menahan rasa haru ini.
Baru saja aku mengucapkan dua kalimat syahadat dibimbing Bang Riky. Aku masuk
Islam setelah membaca beberapa buku milik Bang Riky. Walaupun sebelumnya aku
sempat tidak percaya dengan kebenaran Islam, tapi berkat hidayah-Nya, aku tidak
bisa memungkiri kebenaran itu. Bang Riky telah banyak membantuku untuk kembali
pada jalan yang seharusnya dari dulu kutempuh. Ada lega di hatiku setelah
kulafadzkan dua kalimat syahadat. Seandainya ada Laras pastilah segera kuberi
tahu kabar bahagia ini. Dia pasti senang mendengarnya. Tapi sayang, kini dia
telah pindah ke Surabaya. Dia telah jauh dariku. Padahal aku ingin dia turut
merasakan kebahagia, seperti yang kurasa atas keislamanku saat ini. Laras,
mengenangmu sama halnya dengan membangkitkan kembali luka lama yang hampir
sembuh. Ya Allah di manapun kini Laras berada, lindungilah dia senantiasa dan
tetapkan dia di jalan-Mu. Semoga pula jalan yang kutempuh ini adalah yang
terbaik untukku dan seluruh keluargaku. Amien…
@@@
Setelah tiga tahun
Ini
adalah untuk yang ketiga kalinya mama dan Bang Riky mendesakku agar segera
menggenapkan Dien. Berulangkali mama mengatakan agar aku segera menikah. Kata
mama, beliau ingin segera menimang cucu dariku. Ah, mama memang selalu begitu.
Beliau tidak pernah tahu bahwa aku, Muhammad Zaki Hamdani, sampai saat ini
masih merasa kesulitan untuk menentukan pilihan. Bahkan bisa dibilang belum
menemukan calon yang kufu’. Lagi pula aku masih berharap pada Laras walaupun
aku tidak tahu bagaimana kabar dia saat ini. Apakah masih tetap seperti dulu
ataukah sudah menikah. Sungguh aku seperti mengharap sesuatu yang tak mungkin.
Ya Allah, ampunilah hambamu nan penuh dosa ini.
10 Agustus 2003, pernikahan
Mbak santi
Hari ini Mbak Santi menggenapkan
Diennya, dia tampak bahagia sekali setelah ijab qabul diucapkan. Ibu menangis
haru di sampingku. Aku tahu beliau sangat bahagia dengan pernikahan ini. Karena
pada hari ini seluruh anggota keluarga berkumpul. Hanya Ayah yang tidak hadir.
Beliau bilang sibuk, tidak bisa datang. Padahal aku tahu, semua itu hanya
alasan saja. Dan yang lebih membuatku miris, beliau tidak berkenan menjadi wali
nikah Mbak Santi dan menyerahkan sepenuhnya pada paman Mahmud, saudara ibu. Aku
tahu Mbak Santi sedih dengan hal ini. Tapi semoga saja setelah ini dia bisa
melupakan semuanya. Karena memang sulit untuk menyadarkan ayah yang kini telah
semakin jauh melangkah. Kudengar kabar bahwa beliaupun turut andil dalam
pemurtadan para muslimah di beberapa lokasi di tanah jawa. Walaupun dia tidak
terjun langsung, tapi anak didiknyalah yang melakukan semuanya. Ya Allah,
seandainya masih bisa aku berharap, berikanlah hidayahmu pada ayah agar dia
berpaling dari jalan yang ditempuhnya kini dan kembali ke jalan-Mu. Amien…..
Rumah klasik setelah
istikharah
Tidak
ada alasan bagiku untuk menolak pilihan Mbak Inayah. Setelah istikharah, aku
mendapat kemantapan hati. Mungkin memang benar Ainiyah adalah yang terbaik
untukku. Seperti kata mama, walaupun gadis itu cacat tapi dia adalah wanita
yang sholehah dan isyaAllah kufu’ untukku. Apalagi aku yakin Mbak Inayah
pastilah lebih tahu yang terbaik untukku. Dan aku sengaja tidak ingin
mengenalnya. Biarlah nanti saja saat ijab qabul. Istikharahku selama ini sudah
cukup meyakinkanku bahwa dia adalah jodohku. Selain itu, mama dan Bang Riky pun
mendapat pertanda yang baik dalam istikharah mereka. Ya Allah semoga ini adalah
langkah awal yang terbaik dalam hidupku. Hanya petunjuk-Mu yang senantiasa
kuharapkan dalam setiap langkahku. Semoga Laraspun segera mendapatkan
pendamping hidup yang baik untuknya. Kalaupun dia telah berdua semoga
kebahagiaan senantiasa bersamanya. Amien………………
Jalan Pattimura, rumah biru
Aku
tidak pernah mengenalnya, apalagi tahu orangnya. Yang kutahu hanya namanya.
Dialah Muhammad Zaki Hamdani, ikhwan yang sebentar lagi akan menjadi suamiku,
pendamping hidupku dan imam agamaku. Menurut Mas Rahman, suami Mbak Santi dia
adalah seorang muallaf. Tapi setelah memeluk Islam dia teguh dan taat dengan keimanannya.
Selain itu pula, dia mau menerima keadaanku apa adanya dan tidak
mempermasalahkan kekuranganku. Aku bersyukur untuk semuanya. Mungkin inilah
jalan yang ditetapkan-Nya untukku. Semoga ini adalah yang terbaik. Siapapun
Muhammad Zaki Hamdani, aku ingin dia menjadi yang pertama dan yang terakhir
dalam kehidupanku. Dan semoga jalinan suci yang insyaAllah akan diresmikan
akhir Rabiul Awal nanti mendapat ridha dari-Nya.
Amien…..
“ Jika seseorang tetap
tabah menghadapi kepahitan hidup
yang hanya dalam waktu
singkat,
maka ia akan memperoleh
kebahagiaan dalam waktu yang panjang “
( Thariq bin Ziyad )
Semoga artikel Catatan Dua Hati bermanfaat bagi Anda.