Sekeping Cinta Untuk Bulan
Kurebahkan tubuh penatku di
atas kasur. Ukh…… capek sekali hari ini. Seharian penuh mengumpulkan dana untuk
para korban banjir. Tapi Alhamdulillah, dana yang terkumpul akhir minggu ini
lumayan banyak. Tidak sia-sia teman-teman mengadakan acara penggalangan dana
seminggu ini. Hampir saja aku terlena saat derit daun pintu mengusik indera
pendengaranku. Rina, teman sekamarku baru datang dari kampus. Seperti biasa,
diapun langsung merebahkan tubuh penatnya di atas kasur sebelahku.
“
Nad, kamu belum tidur kan? “ tanyanya pelan. Kutoleh sebentar ke arahnya tanpa
bersuara. Sekedar memberi jawaban atas tanya yang dilontarkannya.
“
Bulan kecelakaan Nad “ ucapnya kemudian. Mendengar nama Bulan, mataku yang
sedikit terkatup langsung terbuka.
“
Dia tertabrak mobil saat menyeberang jalan Diponegoro “ lanjutnya. Aku masih
menerawang langit-langit kamar. Mengingat Bulan, seakan menguak
kembali cerita beberapa bulan lalu.
Aku
mengenalnya saat orientasi mahasiswa baru. Dia berbeda dengan calon mahasiswa
yang lain. Dia berani, kritis dan tidak jera dengan gojlokan-gojlokan kami. Dan
setelah masa orientasi usai, entah karena apa, dia menjadi dekat denganku.
Perlahan-lahan dia mulai berubah. Tidak ada lagi Bulan yang sering keluar malam
bersama gengnya. Yang selalu menghabiskan malam di kafe dan club malam. Bahkan,
dia mulai menerima konsep Islam yang kusodorkan sedikit demi sedikit. Dan di
akhir semester genap kemarin, dia memutuskan untuk berjilbab. Dia tampil
sebagai sosok yang anggun dan bersahaja, walau terkadang sifat manja dan
kekanak-kanakannya muncul. Maklum, dia adalah bungsu dari dua bersaudara.
Kehadiran Bulan mengingatkanku pada sosok Rara, saudaraku yang telah berpulang
ke hariban-Nya karena kanker darah yang dideritanya lima tahun silam. Aku
seakan mendapatkan pengganti Rara, walau dalam sosok yang berbeda. Namun entah
karena apa, aku sangat menyayanginya. Sebagaimana aku menyayangi Rara dulu.
Apalagi dia sering membantuku menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang bejibun
dari dosen. Dia banyak membantuku, mencarikan beberapa buku referensi untuk
makalahku, mengeprintnya. Bahkan tak jarang, dia menemaniku dengan secangkir
kopi hangat saat kubegadang menyelesaikan laporan keuangan Rohis.
Dia
begitu baik di mataku. Bahkan kebaikannya tidak terhitung selama ini. Dialah
sosok saudara seiman terbaik yang kutemui sejak aku merantau ke kota
Metropolitan ini. Semakin bertambahlah rasa sayangku padanya. Apalagi dia tidak
mengecewakan. Walaupun sibuk membantuku, dia tetap menjadi mahasiswi terbaik di
angkatannya. Sampai saat itu tiba. Saat di mana tanpa sengaja aku mendengar
segala kebohongan yang disembunyikannya.
Sore itu, sepulang kuliah
sengaja aku mampir ke tempat kostnya untuk mengabarkan berita diterimanya
tulisan buatan kami yang dikirim ke sebuah majalah islami. Langkahku terhenti
saat mendengar percakapan beberapa orang gadis dari kamarnya. Tidak seperti
biasanya. Entah dari mana datangnya gadis-gadis urakan itu. Padahal selama ini
yang aku tahu, Bulan sudah tidak lagi berhubungan dengan mereka. Teman-teman
gengnya semasa SMU dulu.
“
Gimana dengan Mbak Nadia?”
“
Beres…!! Siapa dulu, Bulan…!”
Nada suara itu terdengar
begitu pongahnya. Tapi telingaku masih bisa mengenali. Itu sura Bulan.
“
Hebat elo Lan, nggak nyangka, semudah itu elo bisa dekat dan ngambil hatinya.
Lalu, kapan elo laksanakan rencana pembalasan itu?”
“
Tenang aja. Nggak usah buru-buru. Waktunya belum tepat. Nanti, saat dia benar-benar
udah ngerasa tergantung banget ke gue. Akan gue mulai rencana itu. Dia
harus tahu, nggak ada yang bisa buat Abang kecewa. Siapapun orangnya, mesti
dapat ganjaran dari Bulan. Kalo bukan karena dia, nggak mungkin bang Dewa
berlalu dan ninggalin gue sendirian. Mengubur masa remajanya di balik buku-buku
sastra tebalnya di UGM”
Allah,
tidak salahkah pendengaranku? Suara itu begitu penuh dendam. Dan itu, itu suara
Bulan. Bulanku yang biasa lembut bertutur kata. Bulanku yang senantiasa berhati
lapang dan pemaaf. Tapi, aku lupa satu hal. Dia memang menutup diri selama ini.
Terutama tentang keluarganya. Yang aku tahu hanya satu, dia adalah anak bungsu
dari dua bersaudara. Selebihnya, tidak pernah sekalipun dia bercerita tentang
keluarganya meskipun kami lumayan dekat. Dan aku tidak pernah tahu bahwa dia
adalah adik Dewa Erlangga, pemuda yang pernah hadir di masa laluku. Dunia ini
ternyata tak cukup luas untuk menjauhkanku dari seorang Dewa. Walau telah
kuarung selat Sunda, toh aku masih belum bisa menghindar darinya. Contohnya
saat ini, Bulan datang padaku untuk balas dendam. Untuk menghancurkan aku.
“
Nad, kau belum tidur kan? “ teguran Rina mengusikku. Menyadarkanku dari
lamunan.
“
Iya..iya.. kenapa?” tergagap aku menjawab.
“
Nggak, aku cuma mau mastiin, kalo kamu nggak ngacangin aku ”
Kuhela nafas berat. Aku
tidak tahu harus bagaimana saat ini. Karena yang aku tahu, Rina tidak akan
menghentikan percakapannya begitu saja. Sudah barang tentu dia akan memintaku
untuk menjenguk Bulan. Dan itu adalah hal berat yang sulit kulakukan.
“
Kamu masih sakit hati sama dia Nad? ”
“
Entahlah Rin. Aku juga nggak tahu. Aku sudah terlanjur sayang sama dia. Dia
sudah kuanggap seperti Rara yang terlahir kembali. tapi nyatanya…….” Sejenak
aku berhenti berucap. Menarik nafas, melerai beban hati yang kurasa.
“
Dia adalah adik Dewa yang datang dengan dendam dan kebencian. Dia ingin
membalas dendam dan ngancurin aku. Bukan karena-Nya seperti yang kukira selama
ini. Aku…, aku…, “kata-kataku tercekat di tenggorokan.
“
Aku tahu Nad. Tapi tidakkah ada maaf untuk seorang Bulan di hatimu? Apalagi
dengan keadaannya sekarang. Dia koma. Kecelakaan itu bisa saja merenggut
nyawanya ”
“
Aku nggak tahu Rin. Tapi mambayangkan bagaimana munafiknya dia
selama ini, berpura-pura baik di depanku, bahkan bertopeng persaudaraan islam,
dia sudah membodohiku. Padahal sebenarnya, dia datang untuk menghancurkan aku.
Apalagi atas apa yang telah diperbuatnya di akhir semester kemarin. Menghapus
semua tugas-tugas makalah dan paper yang sudah kubuat dengan susah payah, yang
mengharuskan aku mengulang lagi tahun depan. Menyakitkan sekali Rin. Dan aku,
aku…. masih belum bisa menerima itu “ ujarku kembali, lesu dan kecewa.
“
Tapi Nad….”
“
Udah deh. Aku capek Rin. Aku ingin istirahat “ ujarku menutup pembicaraan.
Segera kubalikkan badan dan menutup mata. Kudengar desahan kecewanya yang
dalam. Untuk saat ini, aku benar-benar belum bisa memaafkan dia. Apapun
alasannya. Apalagi dalam keadaan tubuh penat seperti ini, aku benar-benar tidak
bisa berpikir tenang dan logis. Saat ini, aku hanya ingin istirahat. Karena
besok, aku harus bangun sebelum subuh. Mempersiapkan makalah untuk presentasi
kuliah pagi.
Kesal,
kumatikan layar monitor dengan kasar. Allah, mengapa aku tidak bisa konsentrasi
menyelesaikan makalahku. Padahal besok siang, aku harus menyerahkannya pada
dosen pembimbing.
“
Nad…! “ terdengar lirih suara Rina di ambang pintu. Mendengar nada suaranya,
sudah dapat kutebak, pasti ia datang dengan kabar Bulan lagi.
“
Sudah dua hari Bulan nggak sadarkan diri. Dia koma Nad. Kemungkinan besar
walaupun bisa sembuh, dia akan lumpuh “
Mendengar kalimat terakhir
Rina, aku beristigfar dalam hati. Tapi aku tidak bergeming dari kursiku. Aku
tetap diam memandangi layar monitor yang sudah mati.
“
Kamu benar nggak ingin jenguk dia Nad? “ lagi, pertanyaan itu terlontar dari
mulutnya. Pertanyaan yang tidak ingin aku dengar saat ini. Karena pertanyaan
itu hanya akan menggoyahkan keyakinanku, mengikis sedikit demi sedikit perasaan
marah dan egoku pada Bulan.
Untuk beberapa saat lamanya
aku masih diam. Perang batin yang terjadi, membuatku tetap mematung di kursiku,
hingga baru kusadari bahwa Rina telah lama berlalu dari belakangku. Dengan
membawa segumpal kecewa yang kutahu pasti dirasakannya.
Aku
masih berdiri di depan kamar rumah sakit bernomer 120 itu.. Perlahan, kujangkau
daun pintu dan membukanya pelan. Aku tidak ingin ada yang terganggu dengan
kehadiranku. Pun meski di kamar Bulan tidak ada siapa-siapa. Paling tidak,
jangan sampai ada yang mengetahui dan melihat kedatanganku. Di atas ranjang, kulihat Bulan
terlelap. Beberapa selang infus dipasang di tubuhnya. Bagian kaki dan kepala
berbalut perban. Aku melangkah pelan. Melihatnya lebih dekat.
Tanpa kuingini,
setetes air mata telah jatuh di pipiku. Perasan sedih dan pilu menyeruak
tiba-tiba. Melihat keadaannya yang menyedihkan. Melihat betapa ia sepertinya
begitu berat menahan sakit dengan luka-luka di sekujur tubuhnya. Sungguh, semua
rasa marah dan benciku menguap seketika. Perlahan, kuhapus beberapa butir
keringat di dahinya. Perih, kurasakan dalam hati. Untuk beberapa saat lamanya
aku hanya bisa mematung di samping pembaringan, memandangi wajahnya yang tampak
lemah dan semakin menirus. Kembali, kenangan kebersamaan kami berseliweran
dalam memoriku. Membuatku semakin merasakan pilu, perih dan sedih yang merajai
hati.
“
Terima kasih kau mau datang, dia akan sangat bahagia bila tahu itu “
Terkejut, kutoleh ke arah
asal suara. Seorang pemuda telah berdiri di belakangku. Di sana, dia bersandar
pada daun pintu dengan tangan bersidekep.. Dia masuk tanpa bersuara hingga aku
tidak mendengar daun pintu yang dibuka. Kuhapus air mata dengan cepat. Aku
tidak ingin dia tahu aku menangis untuk adiknya. Agak kikuk aku melangkah,
ingin cepat berlalu dari ruangan ini. Perlahan ia menggeser badan,
membukakan pintu untukku.
“ Maafkan Bulan, karena
perbuatannya kau harus mengulang kuliah tahun depan. Dia nggak tahu bahwa kamu
nggak bersalah dalam hal ini. Dia telah salah paham padamu. Dia nggak pernah
tahu cerita yang sebenarnya. Dia mengira kau menyakitiku hingga aku pergi
meninggalkannya dan menenggelamkan diri dalam kesibukan kuliah. Tapi
percayalah, dia benar-benar menyayangimu. Kebaikanmu telah menawan hatinya
“
Pelan Dewa berucap sebelum
aku berlalu. Sekilas kulihat raut sedih terpancar di sorot mata dan wajah
kusutnya. Matanya agak sembab dan cekung. Mungkin karena beberapa hari ini dia
begadang menjaga Bulan.
“ Dia benar-benar merasakan
betapa indahnya disayangi olehmu. Apalagi selama ini, seorang Bulan Kalyana
memang sangat kehausan kasih sayang. Dia nggak pernah melihat bunda yang
melahirkannya. Karena beliau telah dipanggil oleh-Nya ketika ia lahir. Pun
dengan ayah, beliau terlalu sibuk dengan usahanya. Sehingga nggak punya waktu
untuk kami, anak-anaknya “ sejenak ia berhenti berucap, menahan getir yang
nyata kutangkap dari getar suaranya.
“ Terima kasih, kau telah
merubah adikku, sebagaimana kau telah merubahku untuk lebih dekat pada-Nya.
Meskipun aku nggak terlalu yakin kau bisa memaafkannya atas semua yang telah ia
lakukan. Aku hanya ingin berterima kasih untuk semuanya. Untuk ketulusan dan
kebaikanmu pada Dewa Aerlangga dan Bulan Kalyana. Kau telah banyak mengajari
kami tentang cinta dan ketulusan. Semoga Allah benar-benar melapangkan hatimu
yang pengasih “ Dewa mengakhiri ucapannya dengan senyum sedih di sudut
bibirnya. Dia menyodorkan sebuah agenda ke arahku. Untuk beberapa saat
lamanya agenda itu hanya kupandangi saja. Menggantung dalam genggamannya.
“ Cerita Bulan tentang
seorang Nadia Amelinda, semoga kau berkenan membacanya “ ujarnya lagi. Agak
ragu, kuterima agenda Bulan dengan tangan bergetar. Kulangkahkan kaki keluar
ruangan. Kudengar derit pintu yang ditutup perlahan. Di luar kamar, aku hanya
bisa menatap hampa kamar 120 di hadapanku dengan sejuta gejolak di
dada.
July 2005, Akhir
MOS
Namanya
Nadia Amelinda. Bendahari Rohis yang mendapat predikat mahasiswi teladan tahun
ini. Target sasaran Bulan. Tunggu aja waktunya.
Agustus 2005
Nggak
sulit masuk dalam kehidupannya. Apalagi dengan menjadi anak baik di matanya.
Gampang saja. Apalagi dengan bakat akting Bulan yang lumayan. Rencana semakin
lancar saja.
Desember 2005
Bulan
kadang nggak ngerti dengan perasaan Bulan sendiri. Bulan begitu membencinya.
Tapi jujur, Bulan ngerasa damai bersamanya. Bulan ngerasa lebih nyaman dengan
jalan hidup yang diajarkannya. Bulan ngerasa ada sesuatu yang lain di hati
Bulan tiap kali dia memanggil Bulan dengan sebutan “Ukhti”. Tapi nggak, Bulan
nggak boleh goyah. Bulan nggak boleh hanyut dengan semua kebaikannya yng
munafik. Bulan harus tetap pada rencana semula. Menghancurkanny!!.
Februari 2005
Abang
marah. Bulan nggak tahu kenapa. Padahal Bulan hanya ingin membalaskan sakit hatinya
pada Nadia. Seseorang yang telah menorehkan luka di ketulusan hati abang. Tapi
kenapa? Kenapa Bulan yang kena amarahnya? Apa salah Bulan ?
Maret 2005
Terlambat.
Mengapa Abang baru bercerita sekarang. Tentang Nadia Amelinda yang sesungguhnya.
Tentang gadis yang begitu hanif dan tetap ingin menjaga iffahnya. Bulan telah
menyakiti abang dengan perbuatan Bulan. Karena ternyata, abang nggak pernah
ngerasa terluka atas penolakannya. Abang nggak pernah ngerasa
disakiti olehnya, karena dia emang nggak pernah nyakitin abang. Abang pergi
ninggalin Bulan bukan karenanya. Tapi karena abang benar-benar ingin berubah,
ingin lebih dekat dengan-Nya. Bulan salah melakukan pembalasan itu. Membuatnya
merasakan sakit dan kecewa dengan memusnahkan semua file-file berharga
miliknya.
April 2005
Ya Allah, untuk pertama
kalinya Bulan menulis nama-Mu. Boleh kan Bulan mengadu??. Bulan sedang sendiri
sekarang. Abang marah besar pada Bulan. Dia nggak mau maafin kesalahan Bulan.
Dia nggak mau bicara sama Bulan. Bulan menyesal dan merasa bersalah. Pada Abang
dan Mbak Nadia. Bulan mesti gimana Gusti. Bulan bingung…….
Mei 2005
Ya
Allah, dengan apa Bulan mesti menebus kekeliruan ini. Bulan benar-benar
menyesal melakukan semuanya. Apalagi untuk pertama kalinya, Bulan melihat Mbak
Nadia menangis di kantor Rohis sore tadi. Karena dia harus mengulang kuliahnya
tahun depan. Bulan menyesal Ya Allah. Apalagi memang nyata, Bulan benar-benar
menyayanginya. Meninggalkannya dua Bulan, membuat Bulan rindu akan senyum
tulusnya, panggilan sayangnya dan semua perhatiannya pada Bulan.
Juni 2005
Bukan
salah Mbak Nadia jika dia membenci Bulan. Dengan semua yang Bulan lakukan,
semestinya memang Bulan terima kebencian ini. Tapi sungguh, Bulan nggak berani
meminta maaf padanya. Bahkan, menampakkan wajah di depannyapun, Bulan ngerasa
nggak punya muka. Maafin Bulan Mbak. Bulan jahat sama Mbak. Sungguh, Bulan
menyesal. Benar-benar menyesal dengan semuanya. Bulan, minta maaf sama
Mbak Nadia……
Kututup
lembar terakhir tulisan Bulan. Ada setitik air mata jatuh membasahi tanganku.
Ada haru yang menyelesak dadaku. Ada sedih yang merajam rajamku. Haru akan
pengakuan jujurnya tentangku. Sedih mengingat betapa tersiksanya ia dengan
sakitnya. Ya Allah, sepertinya terlalu egois bila aku tetap membencinya saat
ini. Meskipun ia telah menipuku, memusnahkan semua file-file tugas kuliahku,
membuatku harus mengulang kuliah tahun depan. Aku rasa, aku tidak akan bisa
lagi mempertahankan rasa marahku. Karena pada kenyatannya, aku sangat
menyayanginya, sebagaimana dulu ketika pertama kali mengenalnya. Rasa sayang
itulah yang telah menggerakkan kakiku untuk menjenguknya di rumah sakit dan
bertemu dengan Dewa. Tulus kupanjatkan do’a untuk saudaraku, adikku,
Bulan Kalyana yang malang.
Semoga artikel Sekeping Cinta Untuk Bulan bermanfaat bagi Anda.