Jumat, 09 November 2012

Sekeping Cinta Untuk Bulan


Kurebahkan tubuh penatku di atas kasur. Ukh…… capek sekali hari ini. Seharian penuh mengumpulkan dana untuk para korban banjir. Tapi Alhamdulillah, dana yang terkumpul akhir minggu ini lumayan banyak. Tidak sia-sia teman-teman mengadakan acara penggalangan dana seminggu ini. Hampir saja aku terlena saat derit daun pintu mengusik indera pendengaranku. Rina, teman sekamarku baru datang dari kampus. Seperti biasa, diapun langsung merebahkan tubuh penatnya di atas kasur sebelahku.
            “ Nad, kamu belum tidur kan? “ tanyanya pelan. Kutoleh sebentar ke arahnya tanpa bersuara. Sekedar memberi jawaban atas tanya yang dilontarkannya.
            “ Bulan kecelakaan Nad “ ucapnya kemudian. Mendengar nama Bulan, mataku yang sedikit terkatup langsung terbuka.
            “ Dia tertabrak mobil saat menyeberang jalan Diponegoro “ lanjutnya. Aku masih menerawang langit-langit kamar. Mengingat Bulan, seakan  menguak kembali cerita beberapa bulan lalu.
            Aku mengenalnya saat orientasi mahasiswa baru. Dia berbeda dengan calon mahasiswa yang lain. Dia berani, kritis dan tidak jera dengan gojlokan-gojlokan kami. Dan setelah masa orientasi usai, entah karena apa, dia menjadi dekat denganku. Perlahan-lahan dia mulai berubah. Tidak ada lagi Bulan yang sering keluar malam bersama gengnya. Yang selalu menghabiskan malam di kafe dan club malam. Bahkan, dia mulai menerima konsep Islam yang kusodorkan sedikit demi sedikit. Dan di akhir semester genap kemarin, dia memutuskan untuk berjilbab. Dia tampil sebagai sosok yang anggun dan bersahaja, walau terkadang sifat manja dan kekanak-kanakannya muncul. Maklum, dia adalah bungsu dari dua bersaudara. Kehadiran Bulan mengingatkanku pada sosok Rara, saudaraku yang telah berpulang ke hariban-Nya karena kanker darah yang dideritanya lima tahun silam. Aku seakan mendapatkan pengganti Rara, walau dalam sosok yang berbeda. Namun entah karena apa, aku sangat menyayanginya. Sebagaimana aku menyayangi Rara dulu. Apalagi dia sering membantuku menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang bejibun dari dosen. Dia banyak membantuku, mencarikan beberapa buku referensi untuk makalahku, mengeprintnya. Bahkan tak jarang, dia menemaniku dengan secangkir kopi hangat saat kubegadang menyelesaikan laporan keuangan Rohis.
            Dia begitu baik di mataku. Bahkan kebaikannya tidak terhitung selama ini. Dialah sosok saudara seiman terbaik yang kutemui sejak aku merantau ke kota Metropolitan ini. Semakin bertambahlah rasa sayangku padanya. Apalagi dia tidak mengecewakan. Walaupun sibuk membantuku, dia tetap menjadi mahasiswi terbaik di angkatannya. Sampai saat itu tiba. Saat di mana tanpa sengaja aku mendengar segala kebohongan yang disembunyikannya.
Sore itu, sepulang kuliah sengaja aku mampir ke tempat kostnya untuk mengabarkan berita diterimanya tulisan buatan kami yang dikirim ke sebuah majalah islami. Langkahku terhenti saat mendengar percakapan beberapa orang gadis dari kamarnya. Tidak seperti biasanya. Entah dari mana datangnya gadis-gadis urakan itu. Padahal selama ini yang aku tahu, Bulan sudah tidak lagi berhubungan dengan mereka. Teman-teman gengnya semasa SMU dulu.
            “ Gimana dengan Mbak Nadia?”
            “ Beres…!! Siapa dulu, Bulan…!”
Nada suara itu terdengar begitu pongahnya. Tapi telingaku masih bisa mengenali. Itu sura Bulan.
            “ Hebat elo Lan, nggak nyangka, semudah itu elo bisa dekat dan ngambil hatinya. Lalu, kapan elo laksanakan rencana pembalasan itu?”
            “ Tenang aja. Nggak usah buru-buru. Waktunya belum tepat. Nanti, saat dia benar-benar udah ngerasa tergantung banget ke gue. Akan gue mulai rencana itu.  Dia harus tahu, nggak ada yang bisa buat Abang kecewa. Siapapun orangnya, mesti dapat ganjaran dari Bulan. Kalo bukan karena dia, nggak mungkin bang Dewa berlalu dan ninggalin gue sendirian. Mengubur masa remajanya di balik buku-buku sastra tebalnya di UGM”
            Allah, tidak salahkah pendengaranku? Suara itu begitu penuh dendam. Dan itu, itu suara Bulan. Bulanku yang biasa lembut bertutur kata. Bulanku yang senantiasa berhati lapang dan pemaaf. Tapi, aku lupa satu hal. Dia memang menutup diri selama ini. Terutama tentang keluarganya. Yang aku tahu hanya satu, dia adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Selebihnya, tidak pernah sekalipun dia bercerita tentang keluarganya meskipun kami lumayan dekat. Dan aku tidak pernah tahu bahwa dia adalah adik Dewa Erlangga, pemuda yang pernah hadir di masa laluku. Dunia ini ternyata tak cukup luas untuk menjauhkanku dari seorang Dewa. Walau telah kuarung selat Sunda, toh aku masih belum bisa menghindar darinya. Contohnya saat ini, Bulan datang padaku untuk balas dendam. Untuk menghancurkan aku.
            “ Nad, kau belum tidur kan? “ teguran Rina mengusikku. Menyadarkanku dari lamunan.
            “ Iya..iya.. kenapa?” tergagap aku menjawab.
            “ Nggak, aku  cuma mau mastiin, kalo kamu nggak ngacangin aku ”
Kuhela nafas berat. Aku tidak tahu harus bagaimana saat ini. Karena yang aku tahu, Rina tidak akan menghentikan percakapannya begitu saja. Sudah barang tentu dia akan memintaku untuk menjenguk Bulan. Dan itu adalah hal berat yang sulit kulakukan.
            “ Kamu masih sakit hati sama dia Nad? ”
            “ Entahlah Rin. Aku juga nggak tahu. Aku sudah terlanjur sayang sama dia. Dia sudah kuanggap seperti Rara yang terlahir kembali. tapi nyatanya…….”  Sejenak aku berhenti berucap. Menarik nafas, melerai beban hati  yang kurasa.
            “ Dia adalah adik Dewa yang datang dengan dendam dan kebencian. Dia ingin membalas dendam dan ngancurin aku. Bukan karena-Nya seperti yang kukira selama ini. Aku…, aku…, “kata-kataku tercekat di tenggorokan.
            “ Aku tahu Nad. Tapi tidakkah ada maaf untuk seorang Bulan di hatimu? Apalagi dengan keadaannya sekarang. Dia koma. Kecelakaan itu bisa saja merenggut nyawanya ”
            “ Aku nggak  tahu Rin. Tapi mambayangkan bagaimana munafiknya dia selama ini, berpura-pura baik di depanku, bahkan bertopeng persaudaraan islam, dia sudah membodohiku. Padahal sebenarnya, dia datang untuk menghancurkan aku. Apalagi atas apa yang telah diperbuatnya di akhir semester kemarin. Menghapus semua tugas-tugas makalah dan paper yang sudah kubuat dengan susah payah, yang mengharuskan aku mengulang lagi tahun depan. Menyakitkan sekali Rin. Dan aku, aku…. masih belum bisa menerima itu “ ujarku kembali, lesu dan kecewa.
            “ Tapi Nad….”
            “ Udah deh. Aku capek Rin. Aku ingin istirahat “ ujarku menutup pembicaraan. Segera kubalikkan badan dan menutup mata. Kudengar desahan kecewanya yang dalam. Untuk saat ini, aku benar-benar belum bisa memaafkan dia. Apapun alasannya. Apalagi dalam keadaan tubuh penat seperti ini, aku benar-benar tidak bisa berpikir tenang dan logis. Saat ini, aku hanya ingin istirahat. Karena besok, aku harus bangun sebelum subuh. Mempersiapkan makalah untuk presentasi kuliah pagi.

            Kesal, kumatikan layar monitor dengan kasar. Allah, mengapa aku tidak bisa konsentrasi menyelesaikan makalahku. Padahal besok siang, aku harus menyerahkannya pada dosen pembimbing.
            “ Nad…! “ terdengar lirih suara Rina di ambang pintu. Mendengar nada suaranya, sudah dapat kutebak, pasti ia datang dengan kabar Bulan lagi.
            “ Sudah dua hari Bulan nggak sadarkan diri. Dia koma Nad. Kemungkinan besar walaupun bisa sembuh, dia akan lumpuh “
Mendengar kalimat terakhir Rina, aku beristigfar dalam hati. Tapi aku tidak bergeming dari kursiku. Aku tetap diam memandangi layar monitor yang sudah mati.
            “ Kamu benar nggak ingin jenguk dia Nad? “ lagi, pertanyaan itu terlontar dari mulutnya. Pertanyaan yang tidak ingin aku dengar saat ini. Karena pertanyaan itu hanya akan menggoyahkan keyakinanku, mengikis sedikit demi sedikit perasaan marah dan egoku pada Bulan.
Untuk beberapa saat lamanya aku masih diam. Perang batin yang terjadi, membuatku tetap mematung di kursiku, hingga baru kusadari bahwa Rina telah lama berlalu dari belakangku. Dengan membawa segumpal kecewa yang kutahu pasti dirasakannya.


            Aku masih berdiri di depan kamar rumah sakit bernomer 120 itu.. Perlahan, kujangkau daun pintu dan membukanya pelan. Aku tidak ingin ada yang terganggu dengan kehadiranku. Pun meski di kamar Bulan tidak ada siapa-siapa. Paling tidak, jangan sampai ada yang mengetahui dan melihat kedatanganku. Di atas ranjang, kulihat  Bulan terlelap. Beberapa selang infus dipasang di tubuhnya. Bagian kaki dan kepala berbalut perban. Aku melangkah pelan. Melihatnya lebih dekat. 
Tanpa  kuingini, setetes air mata telah jatuh di pipiku. Perasan sedih dan pilu menyeruak tiba-tiba. Melihat keadaannya yang menyedihkan. Melihat betapa ia sepertinya begitu berat menahan sakit dengan luka-luka di sekujur tubuhnya. Sungguh, semua rasa marah dan benciku menguap seketika. Perlahan, kuhapus beberapa butir keringat di dahinya. Perih, kurasakan dalam hati. Untuk beberapa saat lamanya aku hanya bisa mematung di samping pembaringan, memandangi wajahnya yang tampak lemah dan semakin menirus. Kembali, kenangan kebersamaan kami berseliweran dalam memoriku. Membuatku semakin merasakan pilu, perih dan sedih yang merajai hati.
            “ Terima kasih kau mau datang, dia akan sangat bahagia bila tahu itu “
Terkejut, kutoleh ke arah asal suara. Seorang pemuda telah berdiri di belakangku. Di sana, dia bersandar pada daun pintu dengan tangan bersidekep.. Dia masuk tanpa bersuara hingga aku tidak mendengar daun pintu yang dibuka. Kuhapus air mata dengan cepat. Aku tidak ingin dia tahu aku menangis untuk adiknya. Agak kikuk aku melangkah, ingin cepat berlalu dari ruangan ini. Perlahan ia  menggeser badan, membukakan pintu untukku.
“ Maafkan Bulan, karena perbuatannya kau harus mengulang kuliah tahun depan. Dia nggak tahu bahwa kamu nggak bersalah dalam hal ini. Dia telah salah paham padamu. Dia nggak pernah tahu cerita yang sebenarnya. Dia mengira kau menyakitiku hingga aku pergi meninggalkannya dan menenggelamkan diri dalam kesibukan kuliah. Tapi percayalah, dia benar-benar menyayangimu. Kebaikanmu telah menawan hatinya “ 
Pelan Dewa berucap sebelum aku berlalu. Sekilas kulihat raut sedih terpancar di sorot mata dan wajah kusutnya. Matanya agak sembab dan cekung. Mungkin karena beberapa hari ini dia begadang menjaga Bulan.
“ Dia benar-benar merasakan betapa indahnya disayangi olehmu. Apalagi selama ini, seorang Bulan Kalyana memang sangat kehausan kasih sayang. Dia nggak pernah melihat bunda yang melahirkannya. Karena beliau telah dipanggil oleh-Nya ketika ia lahir. Pun dengan ayah, beliau terlalu sibuk dengan usahanya. Sehingga nggak punya waktu untuk kami, anak-anaknya “ sejenak ia berhenti berucap, menahan getir yang nyata kutangkap dari getar suaranya.
“ Terima kasih, kau telah merubah adikku, sebagaimana kau telah merubahku untuk lebih dekat pada-Nya. Meskipun aku nggak terlalu yakin kau bisa memaafkannya atas semua yang telah ia lakukan. Aku hanya ingin berterima kasih untuk semuanya. Untuk ketulusan dan kebaikanmu pada Dewa Aerlangga dan Bulan Kalyana. Kau telah banyak mengajari kami tentang cinta dan ketulusan. Semoga Allah benar-benar melapangkan hatimu yang pengasih “ Dewa mengakhiri ucapannya dengan senyum sedih di sudut bibirnya. Dia menyodorkan sebuah agenda ke arahku. Untuk beberapa  saat lamanya agenda itu hanya kupandangi saja. Menggantung dalam genggamannya.
“ Cerita Bulan tentang seorang Nadia Amelinda, semoga kau berkenan membacanya “ ujarnya lagi. Agak ragu, kuterima agenda Bulan dengan tangan bergetar. Kulangkahkan kaki keluar ruangan. Kudengar derit pintu yang ditutup perlahan. Di luar kamar, aku hanya bisa menatap hampa kamar  120 di hadapanku dengan sejuta gejolak di dada.


July 2005,  Akhir MOS
            Namanya Nadia Amelinda. Bendahari Rohis yang mendapat predikat mahasiswi teladan tahun ini. Target sasaran Bulan. Tunggu aja waktunya.

Agustus 2005
            Nggak sulit masuk dalam kehidupannya. Apalagi dengan menjadi anak baik di matanya. Gampang saja. Apalagi dengan bakat akting Bulan yang lumayan. Rencana semakin lancar saja.

Desember 2005
            Bulan kadang nggak ngerti dengan perasaan Bulan sendiri. Bulan begitu membencinya. Tapi jujur, Bulan ngerasa damai bersamanya. Bulan ngerasa lebih nyaman dengan jalan hidup yang diajarkannya. Bulan ngerasa ada sesuatu yang lain di hati Bulan tiap kali dia memanggil Bulan dengan sebutan “Ukhti”. Tapi nggak, Bulan nggak boleh goyah. Bulan nggak boleh hanyut dengan semua kebaikannya yng munafik. Bulan harus tetap pada rencana semula. Menghancurkanny!!.

Februari 2005
            Abang marah. Bulan nggak tahu kenapa. Padahal Bulan hanya ingin membalaskan sakit hatinya pada Nadia. Seseorang yang telah menorehkan luka di ketulusan hati abang. Tapi kenapa? Kenapa Bulan yang kena amarahnya? Apa salah Bulan ?

Maret 2005
            Terlambat. Mengapa Abang baru bercerita sekarang. Tentang Nadia Amelinda yang sesungguhnya. Tentang gadis yang begitu hanif dan tetap ingin menjaga iffahnya. Bulan telah menyakiti abang dengan perbuatan Bulan. Karena ternyata, abang nggak pernah ngerasa terluka atas  penolakannya. Abang nggak pernah ngerasa disakiti olehnya, karena dia emang nggak pernah nyakitin abang. Abang pergi ninggalin Bulan bukan karenanya. Tapi karena abang benar-benar ingin berubah, ingin lebih dekat dengan-Nya. Bulan salah melakukan pembalasan itu. Membuatnya merasakan sakit dan kecewa dengan memusnahkan semua file-file berharga miliknya.

April 2005
Ya Allah, untuk pertama kalinya Bulan menulis nama-Mu. Boleh kan Bulan mengadu??. Bulan sedang sendiri sekarang. Abang marah besar pada Bulan. Dia nggak mau maafin kesalahan Bulan. Dia nggak mau bicara sama Bulan. Bulan menyesal dan merasa bersalah. Pada Abang dan Mbak Nadia. Bulan mesti gimana Gusti. Bulan bingung…….

Mei 2005
            Ya Allah, dengan apa Bulan mesti menebus kekeliruan ini. Bulan benar-benar menyesal melakukan semuanya. Apalagi untuk pertama kalinya, Bulan melihat Mbak Nadia menangis di kantor Rohis sore tadi. Karena dia harus mengulang kuliahnya tahun depan. Bulan menyesal Ya Allah. Apalagi memang nyata, Bulan benar-benar menyayanginya. Meninggalkannya dua Bulan, membuat Bulan rindu akan senyum tulusnya, panggilan sayangnya dan semua perhatiannya pada Bulan.
Juni 2005
            Bukan salah Mbak Nadia jika dia membenci Bulan. Dengan semua yang Bulan lakukan, semestinya memang Bulan terima kebencian ini. Tapi sungguh, Bulan nggak berani meminta maaf padanya. Bahkan, menampakkan wajah di depannyapun, Bulan ngerasa nggak punya muka. Maafin Bulan Mbak. Bulan jahat sama Mbak. Sungguh, Bulan menyesal. Benar-benar menyesal dengan semuanya. Bulan, minta maaf  sama Mbak Nadia……

            Kututup lembar terakhir tulisan Bulan. Ada setitik air mata jatuh membasahi tanganku. Ada haru yang menyelesak dadaku. Ada sedih yang merajam rajamku. Haru akan pengakuan jujurnya tentangku. Sedih mengingat betapa tersiksanya ia dengan sakitnya. Ya Allah, sepertinya terlalu egois bila aku tetap membencinya saat ini. Meskipun ia telah menipuku, memusnahkan semua file-file tugas kuliahku, membuatku harus mengulang kuliah tahun depan. Aku rasa, aku tidak akan bisa lagi mempertahankan rasa marahku. Karena pada kenyatannya, aku sangat menyayanginya, sebagaimana dulu ketika pertama kali mengenalnya. Rasa sayang itulah yang telah menggerakkan kakiku untuk menjenguknya di rumah sakit dan bertemu dengan Dewa.  Tulus kupanjatkan do’a untuk saudaraku, adikku, Bulan Kalyana yang malang.


Semoga artikel Sekeping Cinta Untuk Bulan bermanfaat bagi Anda.

Hikayat Kita - All Right Reserved.Powered By Blogger
Theme Designed Kumpulan artikel Menarik