Kasih Diantara Dua Titian
Kuletakkan gagang telpon di tempatnya. Ada galau yang tiba-tiba
menyusup ke relung hatiku. Ada resah yang entah dari mana datangnya. Tiba-tiba
saja air mataku telah menetes. Merembes membasahi pipiku.
“
Dari siapa Riz? Andre lagi?” pertanyaan Mila membuyarkan lamunanku. Di ambang
pintu kulihat dia berdiri dan berjalan ke arahku.
“Aku
ngerti perasaanmu Riz, memang sulit untuk melakukannya. Tapi kamu harus bisa.
Karena Andre nggak sejalan sama kita. Dia Nasrani” pelan Mila berujar.
Tangannya lembut mengusap air mataku. Dibimbingnya aku duduk di sofa. Segelas
air putih disodorkannya untuk menenangkanku. Sekali teguk air putih itu telah
berpindah ke tenggorokanku. Membasahi kerongkonganku dan kering jiwaku. Tapi
isakku tak bisa berhenti. Dadaku sesak. Aku tidak bisa membantah semua
perkataan Mila, karena semua benar adanya. Bang Andre memang bukan seorang
muslim. Ia seorang Nasrani. Tapi kebaikannya, kasih sayang dan perhatiannya
selama ini telah mengikat hatiku. Menyatukan kami lebih dari saudara, walau
tidak pernah ada pertalian darah diantara kami. Tapi bagiku dia telah kuanggap
sebagai kakak kandungku, sejak Mbok Nah, wanita baik hati yang merawatku sejak
kecil berpulang ke haribaan-Nya.
Ya
Allah, aku harus bagaimana? Aku masih belum bisa kalau harus meninggalkannya.
Menorehkan luka di ketulusan hatinya. Karena aku tahu pasti dia sangat
menyayangiku. Bahkan, rasa sayangnya telah menjadikannya sebagai sosok seorang
kakak terbaik yang pernah kumiliki. Dulu, saat semua orang menganggap hina
seorang Riza Kamila, ia hadir membesarkan hatiku, membangkitkan semangat
hidupku yang hampir mati. Bahkan dia pulalah yang bersusah payah membujuk
mamanya agar mau membiayai studiku hingga aku bisa terus melanjutkan kuliah
sampai semester lima. Bukan hanya itu, dulu sewaktu kami masih sama-sama di SMP
Tanalos dialah yang selalu membelaku saat Nina, Sisi dan Desi mencomooh dan
menghinaku sebagai anak yang tak punya asal usul.
“
Diam kamu Nin ! Jangan pernah kau menghina Riza. Dia bukan anak haram dan anak
jadah seperti yang kamu bilang. Dia adikku, saudaraku” begitulah ia membelaku
dulu. Membuat seorang Riza Kamila merasa punya keluarga dan pelindung walau tak
pernah tahu siapakah yang telah melahirkannya dan membuangnya di jembatan
tinggi sewaktu masih bayi dulu. Kembali tangisku pecah mengingat semua kenangan
itu. Terutama kala kuingat perlakuan kedua orang tuaku yang tidak menghendaki
keberadaanku hingga tega membuangku di jembatan tinggi. Pedih itu kembali
menusuk-nusuk hatiku.
“
Riz…”
Tangan
Mila lembut menyentuh pundakku. Menyadarkanku dari lamunan. Kutatap wajah
teduhnya yang senantiasa berhias senyum. Seakan ada ketenangan yang menjalari
hatiku. Melihat wajahnya yang selalu bersinar dan berwibawa itu.
“
Bagaimana? Udah agak tenangan kan?” tanyanya pelan. Aku mengangguk, menghapus
air mata di sudut mataku. Kuatur nafas dan mencoba berucap.
“
Iya Mil. Tapi aku nggak bisa kalau harus meninggalkannya. Aku nggak bisa
nyakitin dia. Karena aku tahu, dia sangat menyayangiku. Lagi pula, aku juga
sangat menyayanginya. Karena hanya Bang Andre yang aku punya. Hanya dia Mil,
saudaraku satu-satunya” ucapku bergetar. Mila merengkuhku, ikut terharu
bersamaku.
“
Aku ngerti Riz, ngerti perasaanmu. Dan aku juga nggak maksa kamu untuk
ninggalin dia sepenuhnya. Hanya saja, kamu perlu ingat, bahwa Andre bukan
muhrim kamu. Sebesar apapun rasa sayang itu menyatukan hati kalian toh nggak
bisa dipungkiri bahwa dia nggak sejalan sama kita. Dia seorang Nasrani Riz”
kembali Mila menasehatiku. Mendengar perkataan Mila, ada perih yang menggores
hatiku. Pedih sekali. Yah, Bang Andre memang seorang Nasrani. Bersamanya selama
sepuluh tahun, tak cukup mampu membawanya untuk menangkap cahaya hidayah-Nya.
Dakwah-dakwahku selama ini hanya ibarat angin lalu yang tidak pernah
meninggalkan bekas di hatinya. Ia tetap teguh dengan pendiriannya. Memilih
Nasrani sebagai jalan hidupnya.
“
Sudahlah Riz, jangan nagis lagi. Kau harus tegar. Mungkin ini cobaan dari-Nya.
Aku yakin kau akan mampu menghadapi semuanya” kembali Mila berujar.
Dibimbingnya aku ke samping rumah. Kami mengambil wudhu’ dan bersiap untuk
shalat maghrib berjemaah.
Gerimis
di luar semakin menderas. Menciptakan rinai-rinai hujan yang semakin melebat.
Tiga puluh menit sudah berlalu. Aku hanya membisu di pojok ruangan. Menatap
deras hujan yang tercurah ke bumi dari kaca jendela. Di ujung sofa, kulihat
Bang Anrde pun hanya bungkam. Menunduk. Menekuri lantai ruang tengah di bawah
sepatunya. Berkali-kali desahan kegalauannya hinggap di gendang telingaku.
Mengusik ketenangan jiwaku, menyayat-nyayat hatiku. Perih. Pilu.
Ya
Allah, mengapa kebisuan ini harus tercipta? Mengapa kehangatan,
keakraban dan keceriaan kami dulu raib seketika. Padahal, biasanya apabila Bang
Andre telah kembali dari pendakian, maka aku akan sangat bahagia menyambut
kedatangannya bersama bunga edelwis kesukaanku. Tapi sore ini, bunga edelwis
itu hanya tergeletak di atas meja. Turut membungkam bersama kami saait ini.
Meresapi kebisuan yang menyayat.
“
Riz…” lirih Bang Andre memanggil namaku
“
Aku…Aku… nggak bisa membawakan yang lain untukmu. Hanya bunga edelwis ini. Lagi
pula, sejak keberangkatanku seminggu lalu aku nggak bisa menghubungimu. Setiap
kali kucoba menelpon selalu terputus. Padahal aku ingin tahu keadaanmu. Aku
khawatir kau sakit. Apalagi akhir-akhir ini hujan semakin sering mengguyur
kota” kembali dia berujar. Hening itu masih kurasa. Karena beberapa menit
setelah itu Bang Andre kembali diam. Mungkin karena aku tetap membisu. Tapi
sungguh, semua kata yang meluncur dari mulutnya terdengar di telingaku.
Menciptakan segumpal rasa bersalah di hatiku. Karena selama seminggu ini,
akulah yang selalu memutuskan telpon darinya. Dan aku tahu itu adalah siksaan
baginya. Karena ia amat cemas dengan keadaan kesehatanku yang lemah.
Kuberanikan
diri meliriknya. Wajahnya tirus dan pandangannya sendu. Ada luka yang jelas
kutangkap dari sorot matanya. Pandanganku nanar menatap sosok yang kukasihi
itu. Air mataku sudah mengambang di kelopak mata. Ya Allah, kuatkan aku. Jangan
sampai aku menangis di hadapannya. Aku tidak ingin dia semakin sedih.
“
Kau berubah Riz. Ada apa denganmu?” Tanya itu terlontar dari mulutnya. Suaranya
bergetar, menatap pilu ke arahku. Aku hanya menggeleng, menyembunyikan kelu
lidahku yang tidak bisa berucap sepatah katapun. Kugigit bibirku untuk menahan
tangis. Sakit.
Ya
Allah, dari mana akan kumulai penjelasanku. Bisakah ia mengerti semuanya ya
Allah. Mengerti bahwa keberadaan kami yang hanya berdua di ruangan ini adalah
haram, dilarang dalam agama. Karena khalwat ini mengundang syetan. Walau kami dekat
dan saling mengasihi, tapi hukum agama-Mu mutlak. Aku tetap bukan muhrimnya.
Dan kami terlarang untuk meneruskan tali persaudaraan ini. Hatiku kalut,
dicekam resah dan bingung. Tak henti aku beristigfar dalam hati agar
tenang perasaanku.
“
Bang, abang masih ingat kan perkataan Riza di taman bunga sebulan yang lalu?”
tanyaku mengambang. Memberi waktu baginya untuk mencerna pertanyaanku.
Perlahan, kulihat ia mengangguk. Setelah itu mendesah panjang. Menatapku lekat
penuh kasih dengan pandangan nanar penuh luka. Seketika, kulihat mata itu
berkaca-kaca. Bibirnya bergetar.
“
Itukah yang membuatmu berubah Riz? Yang membuatmu selalu memutuskan telpon
dariku?” tanyanya gamang. Kuanggukkan kepala lemah. Kembali dia mendesah panjang.
Mengepalkan tinju ke telapak tangan kirinya. Aku tahu dia sedih dan kesal.
“
Mengapa secepat itu Riz. Bukankah telah kubilang, aku nggak bisa. Sebulan
terlalu cepat bagiku untuk bisa menjauh darimu selamanya. Karena aku sayang
kamu Riz. Hanya kamu adikku, saudaraku. Sungguh, kalau begini aku menyesali
mengapa kita nggak terlahir dari rumpun yang sama. Dari satu ibu atau dari satu
keyakinan, hingga kita nggak perlu memutuskan tali kasih ini” suara Bang Andre
bergetar. Jelas kutangkap nada luka dari perkatannya. Seperti luka yang kurasa
saat ini.
“
Bukan begitu maksud Riza, Bang. Riza nggak ingin persaudaraan kita putus
seperti yang abang bilang. Nggak bang. Riza hanya nggak ingin kita terjerat
kebisuan seperti ini setiap kali kita bertemu karena rasa bersalah Riza sama
Allah. Riza tetap sayang bang Andre. Selamanya. Tapi…” aku tidak bisa
melanjutkan perkataanku, karena tangisku telah pecah. Menciptakan isak tangis
yang sedari tadi kutahan. Aku tidak bisa menahan perasaan sedih itu. Apalagi
melihat Bang Andre yang begitu lemah di hadapanku. Tidak bisa menerima perpisahan
yang selama ini ditakutinya.
“
Jangan menangis Riz, jangan…! Aku nggak bisa lihat kamu nangis. Kalau memang
itu pintamu, biarlah aku pergi. Aku juga nggak ingin membuat kamu selalu merasa
bersalah pada Tuhanmu setiap kali aku hadir menjengukmu ke sini. Tapi tolong
Riz, izinkan aku untuk tetap menelpon ke sini, sekedar untuk mengetahui bahwa
kau baik-baik saja. Dan aku, aku tetap sayang kamu Riz. Kamu tetap Riza kecilku
yang manja, yang selalu minta dibawakan edelwis setiap kali aku melakukan
pendakian. Maafkan aku karena nggak bisa mengikuti jalan yang kau tempuh.
Karena aku juga sayang mama. Aku nggak bisa meninggalkan beliau dan keyakinan
yang telah ditanamnya selama berpuluh tahun di hatiku. Sekali lagi maafkan aku
Riz…” ucapnya seraya berlalu meninggalkanku menuju pintu dan menerobos deras
hujan dengan langkah gontainya. Isakku semakin menjadi. Menyadari Bang Andre
telah berlalu tanpa bisa kucegah, karena mulutku seakan terkunci. Sedih itu
semakin menyesaki dadaku, kala melihat sosok jangkungnya yang bermandikan air
hujan, membawa luka dan kesedihan itu berlalu. Kudekap bunga edelwis
pemberiannya sambil menatap nanar sosoknya yang hampir menghilang di tikungan
jalan. Pandanganku mengabur, kepalaku pening dan…gelap…..
Acih…
untuk yang kesekian kalinya aku bersin. Tissu di tanganku sudah hampir habis.
Dua hari ini, sudah lima gulung tissu yang kuhabiskan karena fluku kambuh. Walau
sudah tiap hari kuminum teh hangat, tapi fluku tidak sembuh-sembuh juga.
Padahal semalam telah kuminum obat dari dokter Purwanto. Malah yang kurasa,
dadaku semakin sesak tidak bisa bernafas. Mila bilang, penyakitku
ini bukan penyakit biasa. Tapi aku masih malas untuk pergi ke rumah sakit.
Apalagi dua hari ini hujan turun tiada henti mengguyur kota. Ah, kalau seperti
ini aku teringat pada Andre, abangku yang kini berada jauh di Australia sana.
Seminggu lalu aku dengar kabar ia memutuskan untuk meneruskan studinya di
negeri kanguru itu. Aku tahu ia hanya ingin menghindariku. Mengingatnya, sedih
itu kembali hadir. Dulu, sewaktu kami masih sama-sama di Tanalos dan Mbok Nah
masih bekerja di rumahnya, Bang Andrelah orang yang paling sibuk meramu obat
untuk sakitku. Tak hanya itu, dia juga yang menemaniku dan menghiburku
sepanjang hari. Hingga pernah suatu hari dia dimarahi mamanya karena tidak mau
ikut ke rumah eyangnya karena memilih bersibuk ria mengurusiku yang waktu itu
sakit tifus. Mengingat semua ketulusannya, aku rindu akan semua kebersamaan
kami dulu. Dialah sosok seorang kakak terbaik bagiku. Tapi kini, dia sudah
jauh. Dan selama seminggu ini, tidak ada telpon darinya untukku.
Yah, mungkin inilah yang terbaik bagi kami.
Kulirik
jam dinding di kamarku. Jarum jam sudah menunjukkan jam empat sore. Baru
kusadari, aku belum shalat ashar. Kulangkahkan kaki menuju pintu. Baru beberapa
langkah, kurasakan ada sesuatu yang mengenai kakiku. Sebuah Koran terbitan hari
kemarin. Kubungkukkan tubuhku untuk mengambilnya. Iseng, kubuka halaman
pertama. Mataku terbelalak. Tidak percaya dengan apa yang kulihat dan kubaca
kabar yang tertera di halaman koran itu. Rasanya aku bermimpi memegangnya.
Pesawat Garuda Air Lines jurusan Australia, dua hari lalu meledak setelah
tinggal landas. Dan pesawat itu, adalah pesawat yang ditumpangi Bang Andre.
Kepalaku langsung pusing dan pening. Ya Allah, tidak salahkah apa yang kubaca
ini? Bang Andre… Ya Allah…
Di
Rumah
Riz,
mungkin setelah ini kita nggak akan ketemu lagi, Aku akan ke Australia. Di sana
nanti, aku akan sangat merindukan sayur asem buatanmu dan suara manjamu minta
diantarkan ke Gunung Agung untuk membeli buku terbaru karya Robert B. Parker,
pengarang idolamu. Selain itu, mungkin aku nggak bisa kalau harus memutuskan
tali kasih ini begitu saja. Jadi tolong, jangan kau putus telpon dariku bila
aku menelpon dan ingin tahu bagaimana kabarmu. Karena aku cemas cuaca buruk
akhir-akhir ini membuat flumu kambuh lagi.
Yang
terakhir dariku, bagiku kau adalah adikku yang paling cantik, manis dan baik
hati. Maafkan aku karena nggak bisa memenuhi permintaanmu untuk masuk Islam.
Terima kasih untuk semua kebaikanmu selama ini padaku.
Andre S
Air
mataku menetes satu-satu membasahi surat Bang Andre yang baru kuterima dari
Mila. Sebelum kepergiannya ke Australia, dia sempat menitipkan surat perpisahan
kepada Mila. Tapi siapa yang menyangka kalau surat itu akan menjadi surat
terakhirnya untukku. Karena Bang Andre kini telah berpulang ke sisi-Nya akibat
kecelakaan pesawat dua hari lalu.
“
Sudah Riz, tabahkan hatimu. Mungkin ini sudah takdir-Nya” pelan Mila berujar.
Berkali-kali ia menasehatiku untuk tabah dengan semuanya.
“
Mil, aku menyesal. Menyesal karena nggak bisa membawa Bang Andre ke jalan-Nya.
Membiarkannya meregang sakit dalam api neraka. Aku gagal Mil. Aku bukan adik
yang baik baginya” serak suraku diantara isak. Perih itu kembali kurasa. Sedih
itu semakin menyesakkan dadaku. Sedih akan kepergian Bang Andre.
“
Kamu jangan berkata begitu Riz. Hidayah itu hanya milik Allah. Mungkin Andre
belum dibukakan pintu hatinya hingga sampai saat ini kebenaran nggak bisa
diterimanya” kembali Mila berujar. Aku hanya bisa mengangguk dalam tangis.
Semuanya benar. Hidayah itu hanya milik-Nya. Karena selama ini sudah cukup do’a
dan usahaku untuk mengenalkan Bang Andre pada Islam. Tapi Bang Andre tetap
tidak bisa menerima cahaya kebenaran itu. Itulah kepedihan yang merejam hatiku.
Ya Allah ampunilah kelemahan hamba karena tidak bisa membawanya ke jalan-Mu.
Dalam
tangis, kenangan-kenangan manis bersama Bang Andre kembali bermunculan dalam
ingatanku. Kasih sayangnya, kebaikannya dan perhatiannya membuat tangisku tidak
bisa berhenti. Tapi aku harus kuat saat ini. Biarlah semua duka itu mencair
bersama tangisku.
Semoga artikel Kasih Diantara Dua Titian bermanfaat bagi Anda.