Cinta Yang Terindah
Teruntuk Dania Seorang
Di
Tempat
Berbilang waktu kau hadir
dalam hari-hariku. Memikatku dengan segala yang ada padamu. Aku terpesona.
Walau telah kucoba membuang jauh-jauh sebentuk rasa yang ada dalam hatiku.
Tapi, sungguh aku tak bisa. Maafkan aku atas segala rasa yang seharusnya tak boleh
ada ini. Tapi seandainya aku boleh meminta, izinkan aku tetap
dengan segala rasaku dan berharap suatu hari nanti kau berkenan tuk
membalasnya.
Yang mengagumimu,
Rizal Syahputra
Dania
meremas kertas surat merah jambu yang baru saja dibacanya. Sejurus kemudian
kertas itu telah menjadi penghuni tong sampah di depan kelasnya. Dia pun segera
berlalu, meninggalkan kelas, menunggu bis kota di halte depan sekolah. Dania
tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan apa yang
dilakukannya dari balik pintu kelas sebelah. Pemilik sepasang mata itu menghela
nafas. Kecewa. Ada segurat luka di hatinya. Dengan langkah gontai dia menuju
taman sekolah. Di bawah rimbun akasia seseorang telah menunggunya.
“Gimana?
Dia membaca surat itu?” berondong Yudi menyambut kedatangannya. Yang ditanya
hanya bungkam, menghela nafas panjang dan duduk di dekat Yudi. Pandangannya
menerawang, menatap rimbun melati di depannya. Segurat luka tampak jelas dalam
sorot mata elangnya. Yudi mengerti, cukup mengerti. Tanpa dijawabpun dia sudah
dapat menyimpulkan jawabannya. Perlahan, Yudi menepuk pundak sahabatnya hangat.
“Sudahlah
Zal, gadis itu memang beda. Dia nggak sama dengan yang lain. Kau harus ngerti
itu” ucap Yudi pelan. Diapun ikut-ikutan memandang rimbun melati di hadapannya.
Menekurinya tanpa tahu harus berbuat apa. Kembali, Rizal menghela nafas
panjang. Seakan beban yang menghimpitnya ingin dilepas bersama hembusan
nafasnya yang berat. Tapi ternyata, tak bisa. Rasa sakit, kecewa, terhina,
marah dan segalanya begitu dalam ia rasa. Membuatnya seakan sesak di
dada.
“Aku
ngerti Yud, tapi masak, dia setega itu sama aku. Mencampakkan suratku di tong
sampah. Setidaknya, kalo dia memang nggak mau, hargai dikit ke’ perasaanku.
Jangan kayak gitu. Kamu tahu kan, bagiku dia yang pertama, mungkin juga yang
terakhir. Tapi,……heh” ujar Rizal penuh kekecewaan. Yudi ikut-ikutan menghela
nafas. Dia memahami Rizal, memahami kekecewaannya, memahami gundah hatinya dan
segala luka yang dirasakannya. Karena selama ini hanya Danialah yang dapat
mencairkan segala kebekuan di hati Rizal. Untuk beberapa lama keduanya bungkam.
Hanyut dalam pikiran masing-masing, dibuai angin sepoi-sepoi yang berhembus
perlahan.
“Kita
cabut yuk! Sudah siang, belum shalat dhuhur lagi” ajak Yudi kemudian. Dia
bangkit dari duduknya, melangkahkan kaki menuju tempat parkir. Mengeluarkan
satu-satunya motor yang masih tersisa di tempat parkir. Rizal masih bergeming
di tempatnya. Seperti tak berkeinginan untuk pulang. Tapi pada akhirnya diapun
bangkit, menyusul Yudi ke halaman samping sekolah yang sudah siap dengan
motornya.
@@@
Dania mengakhiri ceritanya.
Ada lega yang memenuhi relung hatinya setelah susunan kata-katanya berakhir.
Mbak Hanum mendesah pelan. Ditatapnya Dania gamang.
“Dek,…..mengapa
kamu harus merasa bersalah sama dia. Seharusnya perasaan itu nggak perlu ada.
Mbak tahu ini sesuatu yang sulit bagimu. Tapi kau harus ingat dek, cinta Allah
lebih indah dan mulia dari segalanya. Walau setahun lalu kamu pernah merasakan
hal yang sama terhadapnya, tapi tak sepantasnya perasaan itu hadir kembali
setelah kau bisa meraih hidayah itu. Ingat dek, memang nggak ada yang meragukan
keindahan pelangi. Tapi keindahan itu hanya semu, semu dek. Pada saatnya
keindahana itu akan memudar dengan segera. Seperti itulah perasaan cinta yang
hanya bersumber dari perasaan suka belaka, nggak bakalan abadi. Karena hanya cinta-Nyalah
yang hakiki” panjang lebar Mbak Hanum menasehati. Dania tertunduk, galau itu
semakin menjadi. Sedih itu menyergap dalam hatinya.
Setahun
lalu, Rizal Syahputra kakak seniornya di kelas II IPA, cowok macho yang jago
basket dengan segudang prestasi yang diraihnya, akan tetapi begitu dingin dan
pendiam pernah memikat hatinya. Apalagi setelah pemuda itu memutuskan untuk
masuk rohis, semakin menambah nilai Rizal di hati Dania. Pemuda itu mampu
menghadirkan getar-getar rindu dalam malam-malamnya. Dan segala perasaan yang
ada waktu itu. Tak seorangpun tahu akan hal itu, termasuk juga Maya, karibnya
sejak SMP. Hanya Mbak Hanum yang tahu akan hal itu, karena hanya pada kakak
kostnya itulah dia senantiasa berbagi. Sampai akhirnya Mbak Hanum
mampu membawanya, meraih hidayah-Nya. Dania memutuskan untuk hijrah. Membunuh
segala rasa yang sempat mekar dalam hatinya. Dia mulai merubah diri,
membenahi sikap dan perasaan serta memutuskan untuk berjilbab. Dan sekarang,
setelah dia mampu menepis bayang-bayang Rizal dengan burai-burai dzikir dan
tilawahnya, laki-laki itu datang. Mengusik hatinya dengan selembar surat merah
jambu yang sempat menghadirkan kembali perasaan yang hampir musnah di hatinya.
Dania galau. Hatinya gundah gulana, dilanda resah yang kian membingungkannya.
“Lalu,
Dania harus gimana Mbak? Dania takut nggak kuasa dengan perasaan Dania sendiri.
Karena Dania tahu, perasaan itu masih menyisakan puingnya di hati ini. Dania
takut nggak bisa mengendalikan perasaan, takut tergelincir godaan setan” suara
Dania mulai serak. Mbak Hanum cukup mengerti akan kegalauan, keresahan dan
kebimbangan yang melandanya. Direngkuhnya gadis itu sayang, seakan ingin
mengalirkan kekuatan untuknya agar ia mampu menghadapi cobaan hati yang
dialaminya. Dia tahu Dania masih terlalu rapuh. Karena bagaimanapun, kenangan
selalu menempati ruang tersendiri dalam hati. Dan dia tidak rela kalau gadis
itu kalah untuk yang kedua kalinya.
“Dek…,
sebagai manusia biasa, memang nggak bisa dipungkiri bahwa setiap orang pasti
pernah mengalami perasaan sepertimu. Karena itu fitrah, fitrah kita sebagai
manusia. Tapi perlu diingat dek, perasaan itu belum waktunya, belum saatnya
hadir untuk saat ini. Kau harus mampu menepisnya, Mbak yakin kamu bisa. Kamu
nggak ingin kan dek, mengorbankan cinta-Nya demi sebuah rasa yang hanya semu
adanya. Kamu ngerti kan maksud Mbak?” Mbak Hanum kembali berujar. Dania
mengangguk pelan.
“Dania
ngerti mbak, InsyaAllah Dania akan berusaha untuk tetap menjaga cinta-Nya. Lagi
pula Dania nggak ingin mengotori hati ini dengan segala perasaan itu. Do’ain
Dania mbak, agar tetap tegar dengan semua cobaan yang ada”. Mbak Hanum
tersenyum. Hatinya bahagia mendengar ucapan gadis itu. Harapnya semoga untuk
kali ini Dania mampu menepis semua godaan yang ada.
@@@
Sekali
lagi Dania melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah dua puluh menit dia
berdiri di halte depan sekolah, menunggu kedatangan Maya. Tapi sampai detik
yang kesekian, Maya tidak jua muncul. Teman-temannya sudah pulang satu persatu
dari tadi. Di halte bis, tempatnya berdiri kini tinggal beberapa orang saja.
Dania mulai resah. Ke mana perginya Maya? Mengapa akhir-akhir ini Maya sering
kali tidak datang bila ia menunggunya. Bahkan di sekolah, gadis itu sering kali
menghindarinya. Seakan ada sesuatu yang disembunyikan Maya dari Dania. Dia pun
jarang berkunjung ke tempat kostnya untuk belajar bersama. Dan yang lebih
membuatnya heran, Maya tidak pernah lagi menunggu Dania sampai selesai dari
pelajarannya. Dia selalu pulang duluan. Dan kini, saat Dania punya kesempatan
untuk pulang lebih dulu dia ingin menunggu Maya, pulang bersama dan
menyelesaikan permasalahan yang kini mengganjal perasaannya. Tapi sampai capek
leher Dania memandangi pintu gerbang sekolahnya, Maya tidak juga kelihatan
batang hidungnya. Maya seakan raib, dan entah bersembunyi di mana pikirnya
(emang main petak umpet).
Untuk yang kesekian kalinya
Dania menjengukkan kepala, melihat ke arah gerbang sekolah dengan harapan Maya
akan muncul dan berlari ke arahnya dengan tergesa. Setelah itu gadis
ceria itu akan meminta maaf padanya dengan gaya oshinnya yang lucu.
Tapi, itu semua hanya dalam angan Dania semata. Karena pada kenyataannya Maya
tidak pernah datang dan berlari dengan tergesa ke arahnya serta meminta maaf
kepadanya. Yang dilihatnya justru mang Adin, tukang kebun sekolah yang mulai
menutup pintu gerbang dan menguncinya. Dania mendesah kecewa. Ke mana perginya
Maya? Apakah dia sudah pulang? Dania mulai ragu dan bertanya-tanya ke manakah
gerangan Maya?
Dania mulai putus asa.
Apalagi di halte bis tempatnya berdiri kini, hanya tinggal dirinya dan seorang
perempuan tua penjual buah yang kebetulan beristirahat di sana. Dania resah
karena jalan raya mulai sepi. Tak ada bis kota yang lewat, sedang
gumpalan-gumpalan hitam di langit semakin menebal. Sesekali guntur bergemuruh,
pertanda hujan akan segera turun. Dania semakin resah. Dia berharap semoga
tidak terjebak hujan di halte ini. Semoga ada bis kota yang akan segera
membawanya pulang ke tempat kostnya. Dalam hati, tak henti Dania berdo’a.
“Belum
pulang Nia, nungguin siapa?” sapaan suara bariton itu mengejutkan Dania.
Dilihatnya Rizal telah berdiri tak jauh darinya, di halte bis
tempatnya berdiri kini. Ada rasa berdebar dan cemas menyergapnya tiba-tiba. Dia
ingat dengan surat yang dikirimkan Rizal beberapa hari lalu yang telah
dijadikannya penghuni tong sampah depan kelasnya. Bagaimana kalau
tiba-tiba pemuda itu bertanya tentang surat itu. Entah apa yang akan menjadi
jawabannya. Rasa bersalah, takut, cemas dan bingung tiba-tiba menyergapnya.
Rasa bersalah atas perlakuan buruknya pada surat yang dikirimkan pemuda itu
beberapa hari lalu. Rasa takut mempertanggung jawabkan perbuatannnya yang tidak
berperasaan. Rasa cemas dengan perasaannnya sendiri, mengingat Rizal dulu pernah
mengisi salah satu ruang terdalam dalam hatinya. Rasa bingung dengan apa yang
mesti diperbuatnya. Dania benar-benar resah dan bingung. Serasa ia ingin
berlalu saat itu juga dari halte tempatnya berdiri.
Dania
baru akan melangkahkan kakinya, ketika tiba-tiba gerimis turun dan bertambah
deras. Rintik-rintik hujan semakin melebat, memaksanya untuk tetap berdiri di
tempatnya. Dania hanya menghela nafas kecewa. Dia menyesal mengapa tadi pagi
tidak mau mendengarkan saran Mbak Hanum untuk membawa payung sewaktu berangkat
tadi.
“Hujan
cukup deras, jangan memaksakan diri, nanti kau sakit. Lagi pula, mengapa nggak
pulang dari tadi, mungkin saat ini kamu nggak bakalan terjebak hujan di sini”
kembali Rizal berucap sambil menatap rinai-rinai air hujan yang jatuh ke aspal
jalan raya.
“
Aku menunggu Maya. Tapi dia nggak muncul”singkat Dania berucap, sekedar melerai
resah yang kian membelenggunya. Hujan masih tetap turun dengan derasnya.
“Menunggu
Maya, apa nggak salah? Dia kan sudah pulang sama Ardi dari tadi”
Mendengar perkataan Rizal,
Dania tidak percaya. Dia tidak yakin Maya sudah pulang. Karena sedari tadi,
tidak dilihatnya Maya keluar dari pintu gerbang.
“Masak
!. Nggak ko’, aku tidak melihatnya. Kamu jangan bohong, Zal. Dari tadi aku
nunggu dia di sini, tapi aku nggak lihat Maya keluar” Dania
membantah bersikeras. Rizal tersenyum mencibir.
“Bohong
katamu, heh… aku nggak akan bisa bohong sama kamu Nia. Bahkan walau aku tahu
kamu bakalan mencampakkan suratku begitu saja, toh aku tetep nggak
bisa nahan perasaan untuk nggak ngirim surat itu. Dan akhirnya, begitu naif
mungkin diriku di matamu” getir Rizal berucap namun cukup menohok ulu hati Dania.
Gadis itu hanya bungkam. Rasa bersalah itu benar-benar membuatnya tak bisa
berucap sepatah katapun. Perasaan bersalah karena telah berlaku buruk pada
surat yang dikirim Rizal beberapa hari lalu. Dia merasakan kegetiran dan
kekecewaan hati Rizal. Dania tahu, Rizal kecewa. Sangat. Dan itu karena
sikapnya. Dari sikap Rizal yang dingin dan ucapannya yang tajam, Dania tahu
hatinya terluka. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh seorang Dania. Menerimanya
begitu saja? Jelas sekali itu tidak mungkin. Meminta maaf begitu
saja atas perbuatan buruknya, terasa tak sebanding sekali dengan perbuatannya
tanpa memperdulikan luka yang telah ditorehkannya. Selamanya, penolakan itu
akan terasa menyakitkan. Apalagi soal perasaan.
“Zal,
Maafkan aku kalo udah membuatmu terluka. Aku akui, aku salah. Tidak
berperasaan. Aku jahat. Karena itulah, lupakan aku, lupakan semua.
Anggap saja nggak pernah ada cerita. Tidak usah diungkit lagi” terbata Dania
berucap. Dia berusaha menata perkataannya agar tidak melukai hati
Rizal lagi. Hujan masih menderas tercurah ke bumi. Rinai-rinai hujan yang
bertetesan, sesekali memercikkan air yang merembes membasahi ujung kaki Rizal.
Mendengar perkataan Dania, Rizal hanya tersenyum sinis. Terdengar gelak
tawanya, tawa getir yang dipaksakan.
“Mudah
memang berkata begitu, karena bukan kamu yang mengalaminya. Bukan kamu, tapi
aku. Seandainya kau tahu bagaimana perasaan sakit itu menghujamku ketika
kulihat dengan entengnya kau melempar surat itu ke tong sampah. Kau nggak akan
pernah ngerti, nggak akan pernah. Tapi setidaknya, kau memiliki sedikit
perasaan waktu itu” suara Rizal mulai meninggi. Wajahnya memerah dan rahangnya
mengeras. Tampak dia berusaha menahan amarah dengan mempermainkan tetesan air
hujan yang mengenai tangannya. Dania terpojok, dia seakan divonis mati. Dia
bungkam tak bisa berucap. Sebutir air mata menetes di pipinya seiring dengan
deras hujan yang tercurah dari langit. Perasaan bersalah itu kembali menyergap
hatinya. Biar bagaimanapun Rizal adalah orang yang pernah disayanginya, pernah
diharapkannya. Dulu, setahun lalu tepatnya. Tapi dia segera beristigfar dalam
hati mengingat hal itu. Dia harus kuat. Kuat. Apalagi ketika perkataan Mbak
Hanum kembali terngiang di telinganya. Ditariknya nafas dalam-dalam untuk
menata perasaannya yang masih berkecamuk dan mulai merapuh.
“
Zal, maafin aku kalo perkataanku menyakitimu. Tapi kau harus ingat Zal, siapa
kamu dan siapa aku. Kita sama-sama anggota Rohis Zal. Kita ajari adik-adik kita
untuk nahan perasaan, agar tidak berpacaran. Lalu, apakah tidak salah kamu
menempatkan aku di atas cinta-Nya? Coba ingat Zal, bukan aku ingin menggurui,
tapi memang begitu kenyataannnya. Kaburo maqtan ‘indallahi taqulu malaa
taf’alu. Begitu firman-Nya Zal. Kuharap kau mengerti” pelan Dania berujar.
Entah dari mana kekuatan itu datang. Tiba-tiba saja dia memiliki keberanian
yang berlipat-lipat mengutarakan semua kata yang ingin diucapkannya.
Getar suaranya nyaris
tak terdengar oleh rinai hujan yang deras tercurah. Tapi itu sudah cukup bagi
Rizal untuk sekedar membuatnya tersindir dan tersadar. Pelannya suara Dania
mampu mengalahkan kerasnya suara petir dalam pendengarannya. Dengan ekor
matanya, Dania melihat Rizal yang mulai resah. Dilihatnya pemuda itu berulang
kali menghembuskan nafas. Dia seakan-akan ingin melerai beban di hatinya dan
berusaha memahami setiap kata yang meluncur dari mulut Dania. Rizal tidak bisa
mengelak. Karena ia pun tahu akan hal itu, bahkan pernah diucapkannya, ketika
dia menjadi mentoring megisi pesantren kilat bebarapa bulan lalu di sekolahnya.
Tapi ternyata, dia belum bisa benar-benar menghayati rangkaian petuah dan
nasehat yang diucapkannya ketika itu.
“Lagi
pula, memang belum saatnya perasaan itu hadir. Perasaan semu yang kita tidak
tahu di mana akan berujung. Mengingat kita masih terlalu ingusan untuk hal ini
Zal. Jalan kita masih terlalu panjang. Pengabdian kita pada sang Khaliq sebagai
khalifah-Nya belumlah seberapa, bahkan belum apa-apa” kembali Dania berujar.
Untuk yang kesekian kalinya
perkataan Dania menerobos gendang telinga Rizal. Menggelitik hatinya,
menciptakan perih yang menusuk-nusuk ulu hatinya. Rizal tidak bisa lagi
bertahan untuk berlama-lama di halte itu. Cukup sudah Dania membuatnya
kehabisan kata-kata yang sedari tadi dipersiapkannya untuk mebuat seorang Dania
merasa bersalah dan berdosa atas perbuatannya beberapa hari lalu.
Tanpa
menoleh lagi Rizal beranjak, menerobos hujan yang masih deras. Dia
tidak perduli lagi. Entah apa yang dirasakan pemuda itu cukup dia sendiri yang
mengerti dan memahami. Rizal berjalan gontai di bawah rinai-rinai hujan, tidak
perduli seluruh badannya basah kuyup. Dia hanya ingin mencari ketenangan. Dia
ingin mendinginkan perasaannya. Benar-benar ingin mendinginkan semuanya yang
hampir saja terbakar kecewa dan dendam yang berkesumat.
“Ya
Allah, anugerahkan hidayah-Mu padanya. Agar dia kembali pada-Mu.
Pada keindahan cinta-Mu. Ampuni Dania untuk semuanya” Dania hanya bisa
merangkai do’a mengiringi kepergian Rizal. Dia hanya bisa menatap hampa tubuh
Rizal yang semakin menjauh dan menghilang di tikungan jalan. Dania mendesah
lega. Seakan baru saja ia melepas beban berton-ton yang menghimpitnya selama
ini. Dia berharap semoga hujan cepat mereda dan segera ada bis kota lewat yang
akan membawanya pulang ke tempat kostnya. Dia ingin cepat bertemu Mbak Hanum,
menceritakan semuanya. Dan berbagi bahagia yang dirasakannya kini.
“ Ya Allah, Jika cinta
begitu menawan dan menggoda,
maka tawanlah aku dengan
cinta-Mu,
sehingga tiada lagi tempat
dan ruang di hati hamba
untuk cinta-cinta yang lain
“ (Do’a Sufi)
Semoga artikel Cinta Yang Terindah bermanfaat bagi Anda.