Kamis, 08 November 2012

Cinta Yang Terindah


Teruntuk Dania Seorang
Di
     Tempat

Berbilang waktu kau hadir dalam hari-hariku. Memikatku dengan segala yang ada padamu. Aku terpesona. Walau telah kucoba membuang jauh-jauh sebentuk rasa yang ada dalam hatiku. Tapi, sungguh aku tak bisa. Maafkan aku atas segala rasa yang seharusnya tak boleh ada ini. Tapi seandainya aku boleh meminta, izinkan aku  tetap dengan  segala rasaku dan berharap suatu hari nanti kau berkenan tuk membalasnya.

Yang mengagumimu,
 Rizal Syahputra

                Dania meremas kertas surat merah jambu yang baru saja dibacanya. Sejurus kemudian kertas itu telah menjadi penghuni tong sampah di depan kelasnya. Dia pun segera berlalu, meninggalkan kelas, menunggu bis kota di halte depan sekolah. Dania tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan apa yang dilakukannya dari balik pintu kelas sebelah. Pemilik sepasang mata itu menghela nafas. Kecewa. Ada segurat luka di hatinya. Dengan langkah gontai dia menuju taman sekolah. Di bawah rimbun akasia seseorang telah menunggunya.
                “Gimana? Dia membaca surat itu?” berondong Yudi menyambut kedatangannya. Yang ditanya hanya bungkam, menghela nafas panjang dan duduk di dekat Yudi.  Pandangannya menerawang, menatap rimbun melati di depannya. Segurat luka tampak jelas dalam sorot mata elangnya. Yudi mengerti, cukup mengerti. Tanpa dijawabpun dia sudah dapat menyimpulkan jawabannya. Perlahan, Yudi menepuk pundak sahabatnya hangat.
                “Sudahlah Zal, gadis itu memang beda. Dia nggak sama dengan yang lain. Kau harus ngerti itu” ucap Yudi pelan. Diapun ikut-ikutan memandang rimbun melati di hadapannya. Menekurinya tanpa tahu harus berbuat apa. Kembali, Rizal menghela nafas panjang. Seakan beban yang menghimpitnya ingin dilepas bersama hembusan nafasnya yang berat. Tapi ternyata, tak bisa. Rasa sakit, kecewa, terhina, marah dan segalanya begitu dalam ia rasa. Membuatnya seakan  sesak di dada.
                “Aku ngerti Yud, tapi masak, dia setega itu sama aku. Mencampakkan suratku di tong sampah. Setidaknya, kalo dia memang nggak mau, hargai dikit ke’  perasaanku. Jangan kayak gitu. Kamu tahu kan, bagiku dia yang pertama, mungkin juga yang terakhir. Tapi,……heh” ujar Rizal penuh kekecewaan. Yudi ikut-ikutan menghela nafas. Dia memahami Rizal, memahami kekecewaannya, memahami gundah hatinya dan segala luka yang dirasakannya. Karena selama ini hanya Danialah yang dapat mencairkan segala kebekuan di hati Rizal. Untuk beberapa lama keduanya bungkam. Hanyut dalam pikiran masing-masing, dibuai angin sepoi-sepoi yang berhembus perlahan.
                “Kita cabut yuk! Sudah siang, belum shalat dhuhur lagi” ajak Yudi kemudian. Dia bangkit dari duduknya, melangkahkan kaki menuju tempat parkir. Mengeluarkan satu-satunya motor yang masih tersisa di tempat parkir. Rizal masih bergeming di tempatnya. Seperti tak berkeinginan untuk pulang. Tapi pada akhirnya diapun bangkit, menyusul Yudi ke halaman samping sekolah yang sudah siap dengan motornya.
@@@
               
Dania mengakhiri ceritanya. Ada lega yang memenuhi relung hatinya setelah susunan kata-katanya berakhir. Mbak Hanum mendesah pelan. Ditatapnya Dania gamang.
                “Dek,…..mengapa kamu harus merasa bersalah sama dia. Seharusnya perasaan itu nggak perlu ada. Mbak tahu ini sesuatu yang sulit bagimu. Tapi kau harus ingat dek, cinta Allah lebih indah dan mulia dari segalanya. Walau setahun lalu kamu pernah merasakan hal yang sama terhadapnya, tapi tak sepantasnya perasaan itu hadir kembali setelah kau bisa meraih hidayah itu. Ingat dek, memang nggak ada yang meragukan keindahan pelangi. Tapi keindahan itu hanya semu, semu dek. Pada saatnya keindahana itu akan memudar dengan segera. Seperti itulah perasaan cinta yang hanya bersumber dari perasaan suka belaka, nggak bakalan abadi. Karena hanya cinta-Nyalah yang hakiki” panjang lebar Mbak Hanum menasehati. Dania tertunduk, galau itu semakin menjadi. Sedih itu menyergap dalam hatinya.
                Setahun lalu, Rizal Syahputra kakak seniornya di kelas II IPA, cowok macho yang jago basket dengan segudang prestasi yang diraihnya, akan tetapi begitu dingin dan pendiam pernah memikat hatinya. Apalagi setelah pemuda itu memutuskan untuk masuk rohis, semakin menambah nilai Rizal di hati Dania. Pemuda itu mampu menghadirkan getar-getar rindu dalam malam-malamnya. Dan segala perasaan yang ada waktu itu. Tak seorangpun tahu akan hal itu, termasuk juga Maya, karibnya sejak SMP. Hanya Mbak Hanum yang tahu akan hal itu, karena hanya pada kakak kostnya  itulah dia senantiasa berbagi. Sampai akhirnya Mbak Hanum mampu membawanya, meraih hidayah-Nya. Dania memutuskan untuk hijrah. Membunuh segala rasa yang  sempat mekar dalam hatinya. Dia mulai merubah diri, membenahi sikap dan perasaan serta memutuskan untuk berjilbab. Dan sekarang, setelah dia mampu menepis bayang-bayang Rizal dengan burai-burai dzikir dan tilawahnya, laki-laki itu datang. Mengusik hatinya dengan selembar surat merah jambu yang sempat menghadirkan kembali perasaan yang hampir musnah di hatinya. Dania galau. Hatinya gundah gulana, dilanda resah yang kian membingungkannya.
                “Lalu, Dania harus gimana Mbak? Dania takut nggak kuasa dengan perasaan Dania sendiri. Karena Dania tahu, perasaan itu masih menyisakan puingnya di hati ini. Dania takut nggak bisa mengendalikan perasaan, takut tergelincir godaan setan” suara Dania mulai serak. Mbak Hanum cukup mengerti akan kegalauan, keresahan dan kebimbangan yang melandanya. Direngkuhnya gadis itu sayang, seakan ingin mengalirkan kekuatan untuknya agar ia mampu menghadapi cobaan hati yang dialaminya. Dia tahu Dania masih terlalu rapuh. Karena bagaimanapun, kenangan selalu menempati ruang tersendiri dalam hati. Dan dia tidak rela kalau gadis itu kalah untuk yang kedua kalinya.
                “Dek…, sebagai manusia biasa, memang nggak bisa dipungkiri bahwa setiap orang pasti pernah mengalami perasaan sepertimu. Karena itu fitrah, fitrah kita sebagai manusia. Tapi perlu diingat dek, perasaan itu belum waktunya, belum saatnya hadir untuk saat ini. Kau harus mampu menepisnya, Mbak yakin kamu bisa. Kamu nggak ingin kan dek, mengorbankan cinta-Nya demi sebuah rasa yang hanya semu adanya. Kamu ngerti kan maksud Mbak?” Mbak Hanum kembali berujar. Dania mengangguk pelan.
                “Dania ngerti mbak, InsyaAllah Dania akan berusaha untuk tetap menjaga cinta-Nya. Lagi pula Dania nggak ingin mengotori hati ini dengan segala perasaan itu. Do’ain Dania mbak, agar tetap tegar dengan semua cobaan yang ada”. Mbak Hanum tersenyum. Hatinya bahagia mendengar ucapan gadis itu. Harapnya semoga untuk kali ini Dania mampu menepis semua godaan yang ada.
@@@

                Sekali lagi Dania melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah dua puluh menit dia berdiri di halte depan sekolah, menunggu kedatangan Maya. Tapi sampai detik yang kesekian, Maya tidak jua muncul. Teman-temannya sudah pulang satu persatu dari tadi. Di halte bis, tempatnya berdiri kini tinggal beberapa orang saja. Dania mulai resah. Ke mana perginya Maya? Mengapa akhir-akhir ini Maya sering kali tidak datang bila ia menunggunya. Bahkan di sekolah, gadis itu sering kali menghindarinya. Seakan ada sesuatu yang disembunyikan Maya dari Dania. Dia pun jarang berkunjung ke tempat kostnya untuk belajar bersama. Dan yang lebih membuatnya heran, Maya tidak pernah lagi menunggu Dania sampai selesai dari pelajarannya. Dia selalu pulang duluan. Dan kini, saat Dania punya kesempatan untuk pulang lebih dulu dia ingin menunggu Maya, pulang bersama dan menyelesaikan permasalahan yang kini mengganjal perasaannya. Tapi sampai capek leher Dania memandangi pintu gerbang sekolahnya, Maya tidak juga kelihatan batang hidungnya. Maya seakan raib, dan entah bersembunyi di mana pikirnya (emang main petak umpet).
Untuk yang kesekian kalinya Dania menjengukkan kepala, melihat ke arah gerbang sekolah dengan harapan Maya akan muncul dan berlari ke arahnya dengan tergesa. Setelah itu gadis ceria  itu akan meminta maaf padanya dengan gaya oshinnya yang lucu. Tapi, itu semua hanya dalam angan Dania semata. Karena pada kenyataannya Maya tidak pernah datang dan berlari dengan tergesa ke arahnya serta meminta maaf kepadanya. Yang dilihatnya justru mang Adin, tukang kebun sekolah yang mulai menutup pintu gerbang dan menguncinya. Dania mendesah kecewa. Ke mana perginya Maya? Apakah dia sudah pulang? Dania mulai ragu dan bertanya-tanya ke manakah gerangan Maya?
Dania mulai putus asa. Apalagi di halte bis tempatnya berdiri kini, hanya tinggal dirinya dan seorang perempuan tua penjual buah yang kebetulan beristirahat di sana. Dania resah karena jalan raya mulai sepi. Tak ada bis kota yang lewat, sedang gumpalan-gumpalan hitam di langit semakin menebal. Sesekali guntur bergemuruh, pertanda hujan akan segera turun. Dania semakin resah. Dia berharap semoga tidak terjebak hujan di halte ini. Semoga ada bis kota yang akan segera membawanya pulang ke tempat kostnya. Dalam hati, tak henti Dania berdo’a.
                “Belum pulang Nia, nungguin siapa?” sapaan suara bariton itu mengejutkan Dania. Dilihatnya  Rizal telah berdiri tak jauh darinya, di halte bis tempatnya berdiri kini. Ada rasa berdebar dan cemas menyergapnya tiba-tiba. Dia ingat dengan surat yang dikirimkan Rizal beberapa hari lalu yang telah dijadikannya penghuni  tong sampah depan kelasnya. Bagaimana kalau tiba-tiba pemuda itu bertanya tentang surat itu. Entah apa yang akan menjadi jawabannya. Rasa bersalah, takut, cemas dan bingung tiba-tiba menyergapnya. Rasa bersalah atas perlakuan buruknya pada surat yang dikirimkan pemuda itu beberapa hari lalu. Rasa takut mempertanggung jawabkan perbuatannnya yang tidak berperasaan. Rasa cemas dengan perasaannnya sendiri, mengingat Rizal dulu pernah mengisi salah satu ruang terdalam dalam hatinya. Rasa bingung dengan apa yang mesti diperbuatnya. Dania benar-benar resah dan bingung. Serasa ia ingin berlalu saat itu juga dari halte tempatnya berdiri.
                Dania baru akan melangkahkan kakinya, ketika tiba-tiba gerimis turun dan bertambah deras. Rintik-rintik hujan semakin melebat, memaksanya untuk tetap berdiri di tempatnya. Dania hanya menghela nafas kecewa. Dia menyesal mengapa tadi pagi tidak mau mendengarkan saran Mbak Hanum untuk membawa payung sewaktu berangkat tadi.
                “Hujan cukup deras, jangan memaksakan diri, nanti kau sakit. Lagi pula, mengapa nggak pulang dari tadi, mungkin saat ini kamu nggak bakalan terjebak hujan di sini” kembali Rizal berucap sambil menatap rinai-rinai air hujan yang jatuh ke aspal jalan raya.
                “ Aku menunggu Maya. Tapi dia nggak muncul”singkat Dania berucap, sekedar melerai resah yang kian membelenggunya. Hujan masih tetap turun dengan derasnya.
                “Menunggu Maya, apa nggak salah? Dia kan sudah pulang sama Ardi dari tadi”
Mendengar perkataan Rizal, Dania tidak percaya. Dia tidak yakin Maya sudah pulang. Karena sedari tadi, tidak dilihatnya Maya keluar dari pintu gerbang.
                “Masak !. Nggak ko’, aku tidak melihatnya. Kamu jangan bohong, Zal. Dari tadi aku nunggu dia di  sini, tapi aku nggak lihat Maya keluar” Dania membantah bersikeras. Rizal tersenyum mencibir.
                “Bohong katamu, heh… aku nggak akan bisa bohong sama kamu Nia. Bahkan walau aku tahu kamu  bakalan mencampakkan suratku begitu saja, toh aku tetep nggak bisa nahan perasaan untuk nggak ngirim surat itu. Dan akhirnya, begitu naif mungkin diriku di matamu” getir Rizal berucap namun cukup menohok ulu hati Dania. Gadis itu hanya bungkam. Rasa bersalah itu benar-benar membuatnya tak bisa berucap sepatah katapun. Perasaan bersalah karena telah berlaku buruk pada surat yang dikirim Rizal beberapa hari lalu. Dia merasakan kegetiran dan kekecewaan hati Rizal. Dania tahu, Rizal kecewa. Sangat. Dan itu karena sikapnya. Dari sikap Rizal yang dingin dan ucapannya yang tajam, Dania tahu hatinya terluka. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh seorang Dania. Menerimanya begitu saja? Jelas sekali  itu tidak mungkin. Meminta maaf begitu saja atas perbuatan buruknya, terasa tak sebanding sekali dengan perbuatannya tanpa memperdulikan luka yang telah ditorehkannya. Selamanya, penolakan itu akan terasa menyakitkan. Apalagi soal perasaan.
                “Zal, Maafkan aku kalo udah membuatmu terluka. Aku akui, aku salah. Tidak berperasaan. Aku jahat.  Karena itulah, lupakan aku, lupakan semua. Anggap saja nggak pernah ada cerita. Tidak usah diungkit lagi” terbata Dania berucap. Dia  berusaha menata perkataannya agar tidak melukai hati Rizal lagi. Hujan masih menderas tercurah ke bumi. Rinai-rinai hujan yang bertetesan, sesekali memercikkan air yang merembes membasahi ujung kaki Rizal. Mendengar perkataan Dania, Rizal hanya tersenyum sinis. Terdengar gelak tawanya, tawa getir yang dipaksakan.
                “Mudah memang berkata begitu, karena bukan kamu yang mengalaminya. Bukan kamu, tapi aku. Seandainya kau tahu bagaimana perasaan sakit itu menghujamku ketika kulihat dengan entengnya kau melempar surat itu ke tong sampah. Kau nggak akan pernah ngerti, nggak akan pernah. Tapi setidaknya, kau memiliki sedikit perasaan waktu itu” suara Rizal mulai meninggi. Wajahnya memerah dan rahangnya mengeras. Tampak dia berusaha menahan amarah dengan mempermainkan tetesan air hujan yang mengenai tangannya. Dania terpojok, dia seakan divonis mati. Dia bungkam tak bisa berucap. Sebutir air mata menetes di pipinya seiring dengan deras hujan yang tercurah dari langit. Perasaan bersalah itu kembali menyergap hatinya. Biar bagaimanapun Rizal adalah orang yang pernah disayanginya, pernah diharapkannya. Dulu, setahun lalu tepatnya. Tapi dia segera beristigfar dalam hati mengingat hal itu. Dia harus kuat. Kuat. Apalagi ketika perkataan Mbak Hanum kembali terngiang di telinganya. Ditariknya nafas dalam-dalam untuk menata perasaannya yang masih berkecamuk dan mulai merapuh.
                “ Zal, maafin aku kalo perkataanku menyakitimu. Tapi kau harus ingat Zal, siapa kamu dan siapa aku. Kita sama-sama anggota Rohis Zal. Kita ajari adik-adik kita untuk nahan perasaan, agar tidak berpacaran. Lalu, apakah tidak salah kamu menempatkan aku di atas cinta-Nya? Coba ingat Zal, bukan aku ingin menggurui, tapi memang begitu kenyataannnya. Kaburo maqtan ‘indallahi taqulu malaa taf’alu. Begitu firman-Nya Zal. Kuharap kau mengerti” pelan Dania berujar. Entah dari mana kekuatan itu datang. Tiba-tiba saja dia memiliki keberanian yang berlipat-lipat mengutarakan semua kata yang ingin diucapkannya.
 Getar suaranya nyaris tak terdengar oleh rinai hujan yang deras tercurah. Tapi itu sudah cukup bagi Rizal untuk sekedar membuatnya tersindir dan tersadar. Pelannya suara Dania mampu mengalahkan kerasnya suara petir dalam pendengarannya. Dengan ekor matanya, Dania melihat Rizal yang mulai resah. Dilihatnya pemuda itu berulang kali menghembuskan nafas. Dia seakan-akan ingin melerai beban di hatinya dan berusaha memahami setiap kata yang meluncur dari mulut Dania. Rizal tidak bisa mengelak. Karena ia pun tahu akan hal itu, bahkan pernah diucapkannya, ketika dia menjadi mentoring megisi pesantren kilat bebarapa bulan lalu di sekolahnya. Tapi ternyata, dia belum bisa benar-benar menghayati rangkaian petuah dan nasehat yang diucapkannya ketika itu.
                “Lagi pula, memang belum saatnya perasaan itu hadir. Perasaan semu yang kita tidak tahu di mana akan berujung. Mengingat kita masih terlalu ingusan untuk hal ini Zal. Jalan kita masih terlalu panjang. Pengabdian kita pada sang Khaliq sebagai khalifah-Nya belumlah seberapa, bahkan belum apa-apa” kembali Dania berujar.
Untuk yang kesekian kalinya perkataan Dania menerobos gendang telinga Rizal. Menggelitik hatinya, menciptakan perih yang menusuk-nusuk ulu hatinya. Rizal tidak bisa lagi bertahan untuk berlama-lama di halte itu. Cukup sudah Dania membuatnya kehabisan kata-kata yang sedari tadi dipersiapkannya untuk mebuat seorang Dania merasa bersalah dan berdosa atas perbuatannya beberapa hari lalu.
                Tanpa menoleh lagi Rizal beranjak, menerobos hujan yang masih deras.  Dia tidak perduli lagi. Entah apa yang dirasakan pemuda itu cukup dia sendiri yang mengerti dan memahami. Rizal berjalan gontai di bawah rinai-rinai hujan, tidak perduli seluruh badannya basah kuyup. Dia hanya ingin mencari ketenangan. Dia ingin mendinginkan perasaannya. Benar-benar ingin mendinginkan semuanya yang hampir saja terbakar kecewa dan dendam yang berkesumat.
                “Ya Allah, anugerahkan hidayah-Mu  padanya. Agar dia kembali pada-Mu. Pada keindahan cinta-Mu. Ampuni Dania untuk semuanya” Dania hanya bisa merangkai do’a mengiringi kepergian Rizal. Dia hanya bisa menatap hampa tubuh Rizal yang semakin menjauh dan menghilang di tikungan jalan. Dania mendesah lega. Seakan baru saja ia melepas beban berton-ton yang menghimpitnya selama ini. Dia berharap semoga hujan cepat mereda dan segera ada bis kota lewat yang akan membawanya pulang ke tempat kostnya. Dia ingin cepat bertemu Mbak Hanum, menceritakan semuanya. Dan berbagi bahagia yang dirasakannya kini.
               

“ Ya Allah, Jika cinta begitu menawan dan menggoda,
maka tawanlah aku dengan cinta-Mu,
sehingga tiada lagi tempat dan ruang di hati hamba
untuk cinta-cinta yang lain “  (Do’a Sufi)




Semoga artikel Cinta Yang Terindah bermanfaat bagi Anda.

Hikayat Kita - All Right Reserved.Powered By Blogger
Theme Designed Kumpulan artikel Menarik