Kamis, 08 November 2012

Yang Tercabik

Rania mempercepat langkahnya. Mengejar Salwa yang berlalu tergesa dari ruang kuliah. Kali ini dia harus berhasil bicara dengan sahabatnya itu. Harus!! Masalah yang ada harus segera diselesaikan.
“ Shasa, tunggu !” serunya ketika hampir menjajari langkah-langkah lebar Salwa.
“ Maaf Ran, aku terburu-buru. Ada janji sama Yuli ” ucap Salwa tidak peduli. Dia sama sekali tidak menoleh ke arah Rania yang ngos-ngosan di sampingnya. Rania kecewa. Semakin yakinlah dia bahwa ada sesuatu dengan Salwa. Terutama perubahan sikapnya belakangan ini. Gadis itu seakan sengaja menghindarinya di kampus. Di tempat kostnyapun gadis itu jarang sekali ada.
“Ko’ buru-buru sih? Bisa nggak aku minta waktunya bentar ”
“ Nggak bisa Ran. Dalam sepuluh menit, aku sudah harus nyampe di kostannya Yuli. Ada tugas kuliah yang mesti aku selesain hari ini juga.” ujar Salwa meminta pengertian. Mendengar jawaban itu, Rania terhenyak. Sejak kapan Salwa menjadi orang paling sibuk sedunia. Padahal selama ini, mereka berdua selalu akrab dan mengerjakan tugas bersama.
“ Oke, aku pergi dulu. Lain kali aja ngomongnya ”
Salwa hendak beranjak setelah menyelesaikan ucapannya. Tapi urung,  karena lengannya dipegangi Rania.
“ Nggak biasanya kamu bersikap begini Sha. Sesibuk-sibuknya kamu, kamu nggak pernah nyuekin aku. Ada apa? Jika ada masalah, berterus teranglah!. Kita kan sahabat ”pelan Rania berujar tapi cukup membuat Salwa menghentikan langkah. Membuat gadis itu tetap berdiri di sisinya. Ia menatap Rania sebentar. 
“ Nggak semuanya bisa dibagi Ran. Karena terkadang, ada sesuatu yang amat pribadi dan nggak bisa dibagi dengan siapapun. Mengertilah ! “ pinta Salwa pelan.
“ Tapi kamu terlalu Sha! Sesibuk apa sih kamu sampe nggak sempat menjenguk Mas Rafli di rumah sakit. Dia kecelakaan Sha, kakinya patah saat main bola kemarin” jengah Rania berucap. Suaranya meninggi. Jelas sekali gadis itu sedang marah. Apalagi tatapannya yang tajam menghujam. Membuat Salwa tercekat, tak bisa berucap. Ia hanya mendesah, menghembuskan nafas kuat-kuat.
“ Aku nggak suka kamu nelantarin saudaraku. Mas Rafli itu pacarmu Sha. Di saat seperti ini, dia sangat mengharapkan kehadiranmu. Semua teman-temannya datang menjenguk ke rumah sakit. Masak kamu nggak sih?  Ada apa sebenarnya? “ kembali Rania melontarkan tanya. Tetap tidak ada jawaban dari mulut Salwa. Gdis itu masih bungkam di tempatnya, memandang hampa lalu lalang kendaraan di hadapannya.
“ Apa karena Aldy kamu berubah Sha? Benarkah kabar yang kudengar, kamu mendua? Kamu mengkhianati kakakku? “ tajam suara Rania menohok hati. Membuat Salwa terhenyak dan terbelalak. Gadis itu memandang Rania tajam, tidak suka dengan perkataannya barusan.
“ Jangan berprasangka begitu Ran. Ada sesuatu yang nggak kamu tahu“ jawabnya agak sinis.
“ Apa?? Coba bilang ke aku! Agar aku ngerti, agar aku nggak berprasangka. Aku juga nggak suka dengan pikiran burukku tentangmu. Karena aku tahu, kamu nggak gitu “ kembali Rania memaksa Salwa untuk menjawab pertanyaannya. Tapi gadis itu hanya menggeleng. Tersenyum pahit ke arahnya.
“ Maaf Ran aku harus pergi “ Akhirnya Salwa berlalu dari hadapan Rania. Meski gadis itu melarang. Memegangi tangannya agar tidak pergi.. Langkahnya terus menjauh, meninggalkan Rania dengan sejuta tanya di hatinya. Sebuah angkutan umum membawanya pergi, menjauh dari Rania yang masih terpaku di tempatnya.
@@@

 “ Maaf Sha, aku udah nggak tahan dengan sikapmu. Apalagi Bunda selalu menanyakanmu. Aku nggak bisa lagi berbohong, mencari-cari alasan untuk melindungimu. Terlalu kentara kamu nelantarin Mas Rafli. Dia salah apa sama kamu? Bicaralah! Biar aku punya alasan membelamu di depan orang tuaku ” kembali sore itu Rania mencegat Salwa yang hendak berlalu lagi dari hadapannya. Seperti biasa, dengan alasan sibuk mengerjakan tugas kuliah.
“ Sha, aku bisa marah dengan sikap kamu ini. Aku bisa benar-benar percaya dengan kabar burung itu. Kamu memilih Aldy yang lebih tajir, lebih tampan dan lebih segalanya dari kakakku “
“ Cukup Ran ! Jangan buat aku terpojok seperti ini. Aku benar-benar nggak bisa jujur sama kamu. Mengertilah! Demi persahabatan kita. “ getir Salwa berucap. Matanya berkaca-kaca. Tidak bisa dipungkiri, kata-kata pedas Rania telah melukai hatinya. Karena sahabatnya itu telah menuduhnya yang bukan-bukan. Tapi sungguh, gadis manis itu tidak bisa berterus terang pada saudara kekasihnya itu tentang apa yang telah dialaminya tiga minggu terakhir ini. Karena ia tahu pasti, hal itu akan menyakiti dan melukai perasaannya.
“ Kenapa? Apa Mas Rafli pernah berbuat salah sama kamu, hingga kamu nggak bisa maafin dan nggak mau ketemu dia? “
Salwa menarik nafas dalam. Mencoba menahan rasa sakit, marah dan kecewa yang dirasakannya. Dihirupnya udara banyak-banyak. Sekedar melegakan sesak di dadanya.
“ Tanyakan sendiri padanya!  Dia lebih berhak menjelaskan apa yang telah diperbuatnya. Maaf, aku harus pergi “ Salwa beranjak  meninggalkan Rania, yang untuk kesekian kalinya harus kecewa karena tidak bisa mengorek keterangan dan membuatnya bicara. 
Rania memandang hampa kepergian Salwa. Gadis itu benar-benar berubah, pikirnya. Sikapnya yang dingin dan selalu menghindarinya, membuat Rania benar-benar tidak habis pikir. Apa yang terjadi padanya? Sejak ia tertarik dan rajin mengikuti pengajian yang diadakan Rohis, sikap dan penampilan Salwa berubah. Dia semakin sibuk dengan dunia barunya. Pakaiannya pun lebih tertutup dari sebelumnya. Tidak ada lagi Salwa dengan kaos ketat dan rok mini yang senantiasa dikenakannya dulu. Bahkan, iapun tidak lagi suka pergi ke Mall seperti kebiasaan mereka berdua sehabis pulang kuliah.
Rania berlalu, melangkah ke arah mobil panther yang senantiasa ditumpanginya berdua bersama Salwa setiap kali pulang kuliah dulu. Tapi kini, dia hanya sendiri di belakang kemudi, tanpa Salwa di sampingnya.
@@@

Rania melangkah gontai, membuka pintu pagar, memasukkan mobil ke garasi. Ada motor Mas Hamdi, teman kakaknya terparkir di halaman rumah. Sejak Rafli kecelakaan, menderita patah kaki karena permainan bola naas itu, Mas Hamdi selalu datang berkunjung setiap sore. Karena kekesalannya pada Salwa, Rania enggan menyapa Mas Hamdi seperti biasanya.
“ Sudah kubilang Raf, cara itu beresiko “ galau, terdengar suara Mas Hamdi dari kamar Rafli yang berada tepat di sebelah kamarnya.
“ Tapi aku nggak punya cara lain lagi untuk mempertahankan Shasa di sisiku “ Rafli menimpali. Suaranya terdengar lesu, penuh keputus asaan. Mendengar nama Salwa disebut, Rania urung melanjutkan langkah. Perlahan ia berjinjit, mendekati pintu kamar kakaknya yang tidak tertutup rapat.
“ Tapi bagaimanapun, pengasihan tetap nggak dibenarkan Raf. Selain berbahaya bagi diri kamu sendiri, kasian Shasa. Dia akan sangat tersiksa. Apalagi jika ia tahu kamu ngelakuain itu ke dia. Dia bisa membencimu Raf “ sesal Mas Hamdi terdengar di telinga Rania. Gadis itu tercekat, tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Gemetar, Rania berpegangan pada tembok kamar. Menahan marah dan kecewa yang tiba-tiba menyerangnya.
“ Aku nggak mau kehilangan dia Ham. Sungguh! Aku nggak mau. Aku nggak ingin dia berpaling pada Aldy yang jelas-jelas memiliki segalanya dibanding aku “ lagi, terdengar suara Rafli di telinga Rania. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak bisa lagi menahan diri.
“ Tapi Raf…… kamu…..”
“ Sudah Ham, sudah! Semuanya sudah terlanjur “
 “ Mas setega itu sama Shasa. Mas Jahat ! “ teriak Rania histeris. Ia mendorong pintu kamar kakaknya dengan kasar. Memperlihatkan wajah berang dan marahnya. Membuat Hamdi dan Rafli tercekat, terpaku di tempat. Kedua pemuda itu tidak menyangka dengan kehadiran Rania yang tiba-tiba.
“ Aku nggak nyangka Mas ngelakuin itu. Aku kecewa Mas. Benar-benar kecewa “ Rania menggeleng, memandangi kakaknya yang masih gelagapan dan salah tingkah. Rafli benar-benar tidak bisa berucap. Apalagi dilihatnya Rania, memandangnya marah dengan wajah memerah.
“ Bila Mas benar-benar menyayangi Shasa, Mas nggak akan ngelakuin itu. Memaksakan hadirnya perasaan cinta dengan cara yang nggak halal. Itu bukan sayang Mas namanya. Itu bukan cinta. Tapi obsesi. Obsesi yang akan menghancurkan diri Mas sendiri “
“  Dengar dulu penjelasanku Ran! Kamu nggak ngerti posisiku “
“ Cukup Mas! Cukup! Aku ngerti dengan sakit yang dirasakan Shasa saat ini. Karena aku juga wanita, sama seperti dia. Jangan ditambah lagi dengan semua omong kosong Mas “ Rania benar-benar kecewa. Hampir saja ia menangis, menyesali perbuatan kakaknya. Menyesali apa yang telah dituduhkannya kepada Salwa selama ini. Menyesali setiap kata-kata pedas yang pernah dilontarkannya pada gadis itu. Karena pada kenyataannya, Salwa tidak bersalah. Tapi Rafli, saudaranya yang telah menyakitinya.
Rania berlalu dengan segudang kecewa yang dirasakannya. Ia ingin sekali bertemu dengan Salwa saat ini. Meminta maaf padanya, atas semua prasangka dan perlakuannya pada gadis itu. Tapi itu tidak mungkin, karena malam sudah hampir larut.
@@@

Rania memeluk Salwa dengan mata berkaca-kaca. Ia sedih, sahabatnya akan pergi. Jilbab putih yang dikenakan Salwa basah oleh air matanya.
“ Benar kamu mau pindah ke An-Nur, Sha? “serak suara Rania terdengar diantara isaknya. Salwa tidak menjawab. Hanya anggukan kecilnya yang meyakinkan Rania bahwa sahabatnya itu tidak sedang bercanda saat ini.
“ Kuliah kamu gimana ? ”
“ Kebetulan di sana juga ada jurusan sastra inggris. Insya Allah aku mau transfer nilai dan meneruskan kuliah di sana ” jawaban Salwa membuat Rania semakin yakin, dia benar-benar akan terpisah jauh dengan gadis itu. Apalagi jika iapun memutuskan untuk pindah kuliah.
“ Bukan karena Mas Rafli kan kamu pergi ? ” Kembali Rania bertanya. Ia memandang Salwa sedih. Tampak Salwa tersenyum getir. Dihapusnya tetes air mata yang bersisa di pipi sahabatnya.
“ Sudah enam bulan terakhir ini aku tertarik untuk mengenal Islam lebih dalam. Aku sadar, selama ini aku jauh dari Allah. Nggak sepenuhnya ngelaksanain perintah-Nya. Karena itulah, aku memutuskan untuk belajar di An-Nur. Apalagi Mbak Mia mendukung sepenuhnya pilihanku “ ujarnya kemudian. Terdengar suaranya yang lembut, meski sedih tidak bisa disembunyikan dalam setiap kata yang diucapkannya.
“ Mas Rafli? “
Mendengar nama Rafli, Salwa tersenyum pahit.
“ Dalam Islam nggak pernah ada istilah pacaran Ran. Hubungan aku dengan Masmu adalah sebuah kekeliruan. Karena hubungan itu nggak pernah dibenarkan dalam agama, kecuali setelah pernikahan. Apalagi atas apa yang sudah aku alami selama tiga minggu terakhir ini. Aku semakin yakin, bahwa langkahku selama ini telah salah” panjang lebar Salwa menjelaskan. Ingatan Rania kembali pada percakapan kakaknya dengan Mas Hamdi beberapa malam lalu, tentang pengasihan yang dirapal kakaknya untuk Salwa. Mungkin benar kata Mas Hamdi bahwa Salwa dapat merasakan dan mengetahui apa yang sudah dilakukan Rafli kepadanya, pikirnya. Karena tampak sekali sahabatnya itu kecewa dan terluka.
“ Kamu masih marah sama Masku? kamu membencinya? “ tanya Rania pelan, ragu dia berucap. Takut menyinggung perasaannya lagi. Tapi sungguh, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakan hal itu. Karena bagaimanapun, Rafli adalah kakak kandungnya. Salwa tersenyum hambar.
“ Mungkin awalnya iya. Karena aku ngerasa tersiksa sekali dengan apa yang sudah dilakukannya. Setiap hari aku dibayang-bayanginya. Hanya dia yang terpikir dan teringat olehku. Aku ingin lepas, tapi nggak bisa. Ingin membenci, apalagi. Aku nggak berdaya Ran. Aku benar-benar rapuh waktu itu. Tapi untunglah, Allah masih menyayangiku. Dia melindungiku hingga aku bisa bertahan sampai detik ini “ getir suara Salwa berucap. Jelas sekali gadis itu sedang menahan rasa kecewa yang dirasakannya. Membuat Rania menahan nafas, merasa tidak enak hati pula.
“ Mungkin kami nggak jodoh Ran. Tapi tenanglah, kita tetap sahabat selamanya. Seperti dulu, sebelum aku mengenal Masmu. Bersama waktu, aku ingin melupakan semuanya dan belajar melapangkan dada serta menganggap itu sebagai kekhilafannya sebagai manusia biasa “ Salwa mengakhiri ucapannya. Di sebelahnya, Rania menarik nafas kecewa. Kecewa akan perbuatan saudaranya. Untuk beberapa saat, keduanya hanya bungkam. Memandangi Pak Mamat, Sopir Salwa yang tengah sibuk memasukkan barang-barang ke bagasi.
@@@

            Rania mengangsurkan sepucuk surat ke arah Rafli yang sedang menikmati sore bersama ikan-ikan kesayangannya. Dilihatnya pemuda itu mengerutkan dahi. Heran.
            “ Dari siapa? “
            “ Baca aja. Mas akan tahu pengirimnya “ jawab Rania agak ketus. Ia berlalu meninggalkan saudaranya dengan keheranan yang dirasakannya.. Secepat kilat Rafli membaca. Ia terhenyak di tempat. Tangannya bergetar, dadanya bergemuruh.
            “ Ran…Rania…tunggu!! “ Rafli bangkit, hendak beranjak mengejar adiknya yang sudah berlalu. Ia lupa dengan keadaannya yang belum sembuh benar. Ia terjatuh karena kakinya yang patah belum kuat menopang berat tubuhnya. Pemuda itu meringis kesakitan, menahan nyeri yang seakan menusuk-nusuknya. Ia benar-benar merasakan sakit yang amat sangat, bukan hanya di kakinya. Tapi juga di hatinya. Karena  surat dari Salwa yang baru saja dibacanya.
            “ Mas, Ikhlaskan Shasa pergi. Bukan karena Aldy ataupun laki-laki lain yang Mas curigai selama ini. Shasa pergi karena-Nya. Karena Shasa ingin memperbaiki diri. Ingin benar-benar menjadi muslimah yang kaffah. Terima kasih untuk semua kebaikan Mas selama ini. Satu pesan Shasa, jangan pernah Mas memaksakan hadirnya sebuah rasa di hati dengan jalan yang nggak halal. Karena hadirnya perasaan itu adalah atas kehendak-Nya. Pun bila pada akhirnya kita nggak lagi bersama, berarti Shasa bukan yang terbaik bagi Mas atau sebaliknya, Mas bukanlah yang terbaik bagi Shasa “
            Diingatnya kembali ritual yang dijalaninya beberapa malam lalu. Sebelum kecelakaan itu merenggut kakinya. Susah payah ia merapal mantra untuk Salwa, agar gadis itu tidak berpaling darinya. Agar gadis itu tidak pernah berpikiran untuk meninggalkannya. Agar gadis itu hanya menaruh hati untuknya saja. Tapi yang terjadi, gadis itu kini telah benar-benar pergi.. Bukan karena Aldy seperti kekhawatirannya selama ini.
            “ Jangan Raf! Sekali-kali jangan lakukan itu. Kasihan Shasa. Kau hanya akan menyakitinya “ nasehat pertama Hamdi yang dibiarkannya berlalu begitu saja. Ia tidak menggubris perkataan sahabatnya itu karena ia telah buta. Buta karena cinta dan cemburu. Buta karena obsesinya untuk memiliki Salwa.
            “ Jika Shasa nggak bisa kamu taklukkan. Kamu sendiri yang akan menanggung akibatnya. Ilmu itu pasti meminta korban Raf. Kalo bukan Shasa, maka kamu yang akan jadi korbannya. Karena yang kutahu, Shasa semakin dekat dengan tuhan-Nya. Kamu nggak akan berhasil Raf. Hentikan pengasihan itu !“ sekali lagi nasehat Hamdi diabaikannya. Dalam pikirnya, semua sudah terlanjur. Maka biarlah ia teruskan. Mugkin saja masih ada harapan. Meskipun ia sendiri sudah mulai ragu dan putus asa. Karena tidak ada perubahan pada sikap Salwa terhadapnya  setelah tiga minggu ia melakukan ritualnya.
Hingga terjadilah peristiwa naas itu. Kakinya patah karena kesalahannya menendang bola. Seharusnya tidak terlalu parah, begitu kata dokter yang merawatnya. Tapi entah, sakit yang dirasakannya begitu menyiksa dan tidak kunjung sembuh meskipun Bunda telah memanggil tukang pijit berkali-kali untuk memijitnya. Bahkan yang dirasakannya, sakit itu semakin menusuk-nusuk dan menderanya. Nyeri itu terasa makin merajam-rajamnya. Membuatnya tidak pernah merasa nyaman apalagi tidur nyenyak. Di tempatnya, Rafli tertunduk. Setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Ia menangis.</div>

Semoga artikel Yang Tercabik bermanfaat bagi Anda.

Hikayat Kita - All Right Reserved.Powered By Blogger
Theme Designed Kumpulan artikel Menarik