Yang Tercabik

“ Shasa, tunggu !” serunya
ketika hampir menjajari langkah-langkah lebar Salwa.
“ Maaf Ran, aku terburu-buru.
Ada janji sama Yuli ” ucap Salwa tidak peduli. Dia sama sekali tidak menoleh ke
arah Rania yang ngos-ngosan di sampingnya. Rania kecewa. Semakin yakinlah dia
bahwa ada sesuatu dengan Salwa. Terutama perubahan sikapnya belakangan ini.
Gadis itu seakan sengaja menghindarinya di kampus. Di tempat kostnyapun gadis
itu jarang sekali ada.
“Ko’ buru-buru sih? Bisa nggak
aku minta waktunya bentar ”
“ Nggak bisa Ran. Dalam sepuluh
menit, aku sudah harus nyampe di kostannya Yuli. Ada tugas kuliah yang mesti
aku selesain hari ini juga.” ujar Salwa meminta pengertian. Mendengar jawaban
itu, Rania terhenyak. Sejak kapan Salwa menjadi orang paling sibuk sedunia.
Padahal selama ini, mereka berdua selalu akrab dan mengerjakan tugas bersama.
“ Oke, aku pergi dulu. Lain
kali aja ngomongnya ”
Salwa hendak beranjak setelah
menyelesaikan ucapannya. Tapi urung,
karena lengannya dipegangi Rania.
“ Nggak biasanya kamu bersikap
begini Sha. Sesibuk-sibuknya kamu, kamu nggak pernah nyuekin aku. Ada apa? Jika
ada masalah, berterus teranglah!. Kita kan sahabat ”pelan Rania berujar tapi
cukup membuat Salwa menghentikan langkah. Membuat gadis itu tetap berdiri di
sisinya. Ia menatap Rania sebentar.
“ Nggak semuanya bisa dibagi
Ran. Karena terkadang, ada sesuatu yang amat pribadi dan nggak bisa dibagi
dengan siapapun. Mengertilah ! “ pinta Salwa pelan.
“ Tapi kamu terlalu Sha!
Sesibuk apa sih kamu sampe nggak sempat menjenguk Mas Rafli di rumah sakit. Dia
kecelakaan Sha, kakinya patah saat main bola kemarin” jengah Rania berucap.
Suaranya meninggi. Jelas sekali gadis itu sedang marah. Apalagi tatapannya yang
tajam menghujam. Membuat Salwa tercekat, tak bisa berucap. Ia hanya mendesah,
menghembuskan nafas kuat-kuat.
“ Aku nggak suka kamu
nelantarin saudaraku. Mas Rafli itu pacarmu Sha. Di saat seperti ini, dia sangat
mengharapkan kehadiranmu. Semua teman-temannya datang menjenguk ke rumah sakit.
Masak kamu nggak sih? Ada apa
sebenarnya? “ kembali Rania melontarkan tanya. Tetap tidak ada jawaban dari
mulut Salwa. Gdis itu masih bungkam di tempatnya, memandang hampa lalu lalang
kendaraan di hadapannya.
“ Apa karena Aldy kamu berubah
Sha? Benarkah kabar yang kudengar, kamu mendua? Kamu mengkhianati kakakku? “
tajam suara Rania menohok hati. Membuat Salwa terhenyak dan terbelalak. Gadis
itu memandang Rania tajam, tidak suka dengan perkataannya barusan.
“ Jangan berprasangka begitu
Ran. Ada sesuatu yang nggak kamu tahu“ jawabnya agak sinis.
“ Apa?? Coba bilang ke aku!
Agar aku ngerti, agar aku nggak berprasangka. Aku juga nggak suka dengan
pikiran burukku tentangmu. Karena aku tahu, kamu nggak gitu “ kembali Rania
memaksa Salwa untuk menjawab pertanyaannya. Tapi gadis itu hanya menggeleng.
Tersenyum pahit ke arahnya.
“ Maaf Ran aku harus pergi “
Akhirnya Salwa berlalu dari hadapan Rania. Meski gadis itu melarang. Memegangi
tangannya agar tidak pergi.. Langkahnya terus menjauh, meninggalkan Rania
dengan sejuta tanya di hatinya. Sebuah angkutan umum membawanya pergi, menjauh
dari Rania yang masih terpaku di tempatnya.
@@@
“ Maaf Sha, aku udah nggak tahan dengan
sikapmu. Apalagi Bunda selalu menanyakanmu. Aku nggak bisa lagi berbohong,
mencari-cari alasan untuk melindungimu. Terlalu kentara kamu nelantarin Mas
Rafli. Dia salah apa sama kamu? Bicaralah! Biar aku punya alasan membelamu di
depan orang tuaku ” kembali sore itu Rania mencegat Salwa yang hendak berlalu
lagi dari hadapannya. Seperti biasa, dengan alasan sibuk mengerjakan tugas
kuliah.
“ Sha, aku bisa marah dengan
sikap kamu ini. Aku bisa benar-benar percaya dengan kabar burung itu. Kamu
memilih Aldy yang lebih tajir, lebih tampan dan lebih segalanya dari kakakku “
“ Cukup Ran ! Jangan buat aku
terpojok seperti ini. Aku benar-benar nggak bisa jujur sama kamu. Mengertilah!
Demi persahabatan kita. “ getir Salwa berucap. Matanya berkaca-kaca. Tidak bisa
dipungkiri, kata-kata pedas Rania telah melukai hatinya. Karena sahabatnya itu
telah menuduhnya yang bukan-bukan. Tapi sungguh, gadis manis itu tidak bisa
berterus terang pada saudara kekasihnya itu tentang apa yang telah dialaminya
tiga minggu terakhir ini. Karena ia tahu pasti, hal itu akan menyakiti dan
melukai perasaannya.
“ Kenapa? Apa Mas Rafli pernah
berbuat salah sama kamu, hingga kamu nggak bisa maafin dan nggak mau ketemu
dia? “
Salwa menarik nafas dalam.
Mencoba menahan rasa sakit, marah dan kecewa yang dirasakannya. Dihirupnya
udara banyak-banyak. Sekedar melegakan sesak di dadanya.
“ Tanyakan sendiri
padanya! Dia lebih berhak menjelaskan
apa yang telah diperbuatnya. Maaf, aku harus pergi “ Salwa beranjak meninggalkan Rania, yang untuk kesekian
kalinya harus kecewa karena tidak bisa mengorek keterangan dan membuatnya
bicara.
Rania memandang hampa kepergian
Salwa. Gadis itu benar-benar berubah, pikirnya. Sikapnya yang dingin dan selalu
menghindarinya, membuat Rania benar-benar tidak habis pikir. Apa yang terjadi
padanya? Sejak ia tertarik dan rajin mengikuti pengajian yang diadakan Rohis,
sikap dan penampilan Salwa berubah. Dia semakin sibuk dengan dunia barunya.
Pakaiannya pun lebih tertutup dari sebelumnya. Tidak ada lagi Salwa dengan kaos
ketat dan rok mini yang senantiasa dikenakannya dulu. Bahkan, iapun tidak lagi
suka pergi ke Mall seperti kebiasaan mereka berdua sehabis pulang kuliah.
Rania berlalu, melangkah ke
arah mobil panther yang senantiasa ditumpanginya berdua bersama Salwa setiap
kali pulang kuliah dulu. Tapi kini, dia hanya sendiri di belakang kemudi, tanpa
Salwa di sampingnya.
@@@
Rania melangkah gontai, membuka
pintu pagar, memasukkan mobil ke garasi. Ada motor Mas Hamdi, teman kakaknya
terparkir di halaman rumah. Sejak Rafli kecelakaan, menderita patah kaki karena
permainan bola naas itu, Mas Hamdi selalu datang berkunjung setiap sore. Karena
kekesalannya pada Salwa, Rania enggan menyapa Mas Hamdi seperti biasanya.
“ Sudah kubilang Raf, cara itu
beresiko “ galau, terdengar suara Mas Hamdi dari kamar Rafli yang berada tepat
di sebelah kamarnya.
“ Tapi aku nggak punya cara
lain lagi untuk mempertahankan Shasa di sisiku “ Rafli menimpali. Suaranya
terdengar lesu, penuh keputus asaan. Mendengar nama Salwa disebut, Rania urung
melanjutkan langkah. Perlahan ia berjinjit, mendekati pintu kamar kakaknya yang
tidak tertutup rapat.
“ Tapi bagaimanapun, pengasihan
tetap nggak dibenarkan Raf. Selain berbahaya bagi diri kamu sendiri, kasian
Shasa. Dia akan sangat tersiksa. Apalagi jika ia tahu kamu ngelakuain itu ke
dia. Dia bisa membencimu Raf “ sesal Mas Hamdi terdengar di telinga Rania.
Gadis itu tercekat, tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Gemetar, Rania
berpegangan pada tembok kamar. Menahan marah dan kecewa yang tiba-tiba
menyerangnya.
“ Aku nggak mau kehilangan dia
Ham. Sungguh! Aku nggak mau. Aku nggak ingin dia berpaling pada Aldy yang
jelas-jelas memiliki segalanya dibanding aku “ lagi, terdengar suara Rafli di
telinga Rania. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya. Matanya
berkaca-kaca. Ia tidak bisa lagi menahan diri.
“ Tapi Raf…… kamu…..”
“ Sudah Ham, sudah! Semuanya
sudah terlanjur “
“ Mas setega itu sama Shasa. Mas Jahat ! “
teriak Rania histeris. Ia mendorong pintu kamar kakaknya dengan kasar.
Memperlihatkan wajah berang dan marahnya. Membuat Hamdi dan Rafli tercekat,
terpaku di tempat. Kedua pemuda itu tidak menyangka dengan kehadiran Rania yang
tiba-tiba.
“ Aku nggak nyangka Mas
ngelakuin itu. Aku kecewa Mas. Benar-benar kecewa “ Rania menggeleng,
memandangi kakaknya yang masih gelagapan dan salah tingkah. Rafli benar-benar
tidak bisa berucap. Apalagi dilihatnya Rania, memandangnya marah dengan wajah
memerah.
“ Bila Mas benar-benar
menyayangi Shasa, Mas nggak akan ngelakuin itu. Memaksakan hadirnya perasaan
cinta dengan cara yang nggak halal. Itu bukan sayang Mas namanya. Itu bukan
cinta. Tapi obsesi. Obsesi yang akan menghancurkan diri Mas sendiri “
“ Dengar dulu penjelasanku Ran! Kamu nggak
ngerti posisiku “
“ Cukup Mas! Cukup! Aku ngerti
dengan sakit yang dirasakan Shasa saat ini. Karena aku juga wanita, sama
seperti dia. Jangan ditambah lagi dengan semua omong kosong Mas “ Rania
benar-benar kecewa. Hampir saja ia menangis, menyesali perbuatan kakaknya.
Menyesali apa yang telah dituduhkannya kepada Salwa selama ini. Menyesali
setiap kata-kata pedas yang pernah dilontarkannya pada gadis itu. Karena pada
kenyataannya, Salwa tidak bersalah. Tapi Rafli, saudaranya yang telah
menyakitinya.
Rania berlalu dengan segudang
kecewa yang dirasakannya. Ia ingin sekali bertemu dengan Salwa saat ini.
Meminta maaf padanya, atas semua prasangka dan perlakuannya pada gadis itu.
Tapi itu tidak mungkin, karena malam sudah hampir larut.
@@@
Rania memeluk Salwa dengan mata
berkaca-kaca. Ia sedih, sahabatnya akan pergi. Jilbab putih yang dikenakan
Salwa basah oleh air matanya.
“ Benar kamu mau pindah ke
An-Nur, Sha? “serak suara Rania terdengar diantara isaknya. Salwa tidak
menjawab. Hanya anggukan kecilnya yang meyakinkan Rania bahwa sahabatnya itu
tidak sedang bercanda saat ini.
“ Kuliah kamu gimana ? ”
“ Kebetulan di sana juga ada
jurusan sastra inggris. Insya Allah aku mau transfer nilai dan meneruskan
kuliah di sana ” jawaban Salwa membuat Rania semakin yakin, dia benar-benar
akan terpisah jauh dengan gadis itu. Apalagi jika iapun memutuskan untuk pindah
kuliah.
“ Bukan karena Mas Rafli kan
kamu pergi ? ” Kembali Rania bertanya. Ia memandang Salwa sedih. Tampak Salwa
tersenyum getir. Dihapusnya tetes air mata yang bersisa di pipi sahabatnya.
“ Sudah enam bulan terakhir ini
aku tertarik untuk mengenal Islam lebih dalam. Aku sadar, selama ini aku jauh
dari Allah. Nggak sepenuhnya ngelaksanain perintah-Nya. Karena itulah, aku
memutuskan untuk belajar di An-Nur. Apalagi Mbak Mia mendukung sepenuhnya
pilihanku “ ujarnya kemudian. Terdengar suaranya yang lembut, meski sedih tidak
bisa disembunyikan dalam setiap kata yang diucapkannya.
“ Mas Rafli? “
Mendengar nama Rafli, Salwa
tersenyum pahit.
“ Dalam Islam nggak pernah ada
istilah pacaran Ran. Hubungan aku dengan Masmu adalah sebuah kekeliruan. Karena
hubungan itu nggak pernah dibenarkan dalam agama, kecuali setelah pernikahan.
Apalagi atas apa yang sudah aku alami selama tiga minggu terakhir ini. Aku
semakin yakin, bahwa langkahku selama ini telah salah” panjang lebar Salwa
menjelaskan. Ingatan Rania kembali pada percakapan kakaknya dengan Mas Hamdi
beberapa malam lalu, tentang pengasihan yang dirapal kakaknya untuk Salwa.
Mungkin benar kata Mas Hamdi bahwa Salwa dapat merasakan dan mengetahui apa
yang sudah dilakukan Rafli kepadanya, pikirnya. Karena tampak sekali sahabatnya
itu kecewa dan terluka.
“ Kamu masih marah sama Masku?
kamu membencinya? “ tanya Rania pelan, ragu dia berucap. Takut menyinggung
perasaannya lagi. Tapi sungguh, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak
menanyakan hal itu. Karena bagaimanapun, Rafli adalah kakak kandungnya. Salwa
tersenyum hambar.
“ Mungkin awalnya iya. Karena
aku ngerasa tersiksa sekali dengan apa yang sudah dilakukannya. Setiap hari aku
dibayang-bayanginya. Hanya dia yang terpikir dan teringat olehku. Aku ingin
lepas, tapi nggak bisa. Ingin membenci, apalagi. Aku nggak berdaya Ran. Aku
benar-benar rapuh waktu itu. Tapi untunglah, Allah masih menyayangiku. Dia
melindungiku hingga aku bisa bertahan sampai detik ini “ getir suara Salwa
berucap. Jelas sekali gadis itu sedang menahan rasa kecewa yang dirasakannya.
Membuat Rania menahan nafas, merasa tidak enak hati pula.
“ Mungkin kami nggak jodoh Ran.
Tapi tenanglah, kita tetap sahabat selamanya. Seperti dulu, sebelum aku
mengenal Masmu. Bersama waktu, aku ingin melupakan semuanya dan belajar
melapangkan dada serta menganggap itu sebagai kekhilafannya sebagai manusia
biasa “ Salwa mengakhiri ucapannya. Di sebelahnya, Rania menarik nafas kecewa.
Kecewa akan perbuatan saudaranya. Untuk beberapa saat, keduanya hanya bungkam.
Memandangi Pak Mamat, Sopir Salwa yang tengah sibuk memasukkan barang-barang ke
bagasi.
@@@
Rania mengangsurkan sepucuk surat ke arah Rafli yang
sedang menikmati sore bersama ikan-ikan kesayangannya. Dilihatnya pemuda itu
mengerutkan dahi. Heran.
“ Dari siapa? “
“ Baca aja. Mas akan tahu pengirimnya “ jawab Rania agak
ketus. Ia berlalu meninggalkan saudaranya dengan keheranan yang dirasakannya..
Secepat kilat Rafli membaca. Ia terhenyak di tempat. Tangannya bergetar,
dadanya bergemuruh.
“ Ran…Rania…tunggu!! “ Rafli bangkit, hendak beranjak
mengejar adiknya yang sudah berlalu. Ia lupa dengan keadaannya yang belum
sembuh benar. Ia terjatuh karena kakinya yang patah belum kuat menopang berat
tubuhnya. Pemuda itu meringis kesakitan, menahan nyeri yang seakan
menusuk-nusuknya. Ia benar-benar merasakan sakit yang amat sangat, bukan hanya
di kakinya. Tapi juga di hatinya. Karena
surat dari Salwa yang baru saja dibacanya.
“ Mas, Ikhlaskan Shasa pergi. Bukan karena Aldy ataupun
laki-laki lain yang Mas curigai selama ini. Shasa pergi karena-Nya. Karena
Shasa ingin memperbaiki diri. Ingin benar-benar menjadi muslimah yang kaffah.
Terima kasih untuk semua kebaikan Mas selama ini. Satu pesan Shasa, jangan
pernah Mas memaksakan hadirnya sebuah rasa di hati dengan jalan yang nggak
halal. Karena hadirnya perasaan itu adalah atas kehendak-Nya. Pun bila pada
akhirnya kita nggak lagi bersama, berarti Shasa bukan yang terbaik bagi Mas
atau sebaliknya, Mas bukanlah yang terbaik bagi Shasa “
Diingatnya kembali ritual yang dijalaninya beberapa malam
lalu. Sebelum kecelakaan itu merenggut kakinya. Susah payah ia merapal mantra
untuk Salwa, agar gadis itu tidak berpaling darinya. Agar gadis itu tidak
pernah berpikiran untuk meninggalkannya. Agar gadis itu hanya menaruh hati
untuknya saja. Tapi yang terjadi, gadis itu kini telah benar-benar pergi..
Bukan karena Aldy seperti kekhawatirannya selama ini.
“ Jangan Raf! Sekali-kali jangan lakukan itu. Kasihan
Shasa. Kau hanya akan menyakitinya “ nasehat pertama Hamdi yang dibiarkannya
berlalu begitu saja. Ia tidak menggubris perkataan sahabatnya itu karena ia
telah buta. Buta karena cinta dan cemburu. Buta karena obsesinya untuk memiliki
Salwa.
“ Jika Shasa nggak bisa kamu taklukkan. Kamu sendiri yang
akan menanggung akibatnya. Ilmu itu pasti meminta korban Raf. Kalo bukan Shasa,
maka kamu yang akan jadi korbannya. Karena yang kutahu, Shasa semakin dekat
dengan tuhan-Nya. Kamu nggak akan berhasil Raf. Hentikan pengasihan itu !“
sekali lagi nasehat Hamdi diabaikannya. Dalam pikirnya, semua sudah terlanjur.
Maka biarlah ia teruskan. Mugkin saja masih ada harapan. Meskipun ia sendiri
sudah mulai ragu dan putus asa. Karena tidak ada perubahan pada sikap Salwa
terhadapnya setelah tiga minggu ia
melakukan ritualnya.
Hingga terjadilah peristiwa
naas itu. Kakinya patah karena kesalahannya menendang bola. Seharusnya tidak
terlalu parah, begitu kata dokter yang merawatnya. Tapi entah, sakit yang
dirasakannya begitu menyiksa dan tidak kunjung sembuh meskipun Bunda telah
memanggil tukang pijit berkali-kali untuk memijitnya. Bahkan yang dirasakannya,
sakit itu semakin menusuk-nusuk dan menderanya. Nyeri itu terasa makin
merajam-rajamnya. Membuatnya tidak pernah merasa nyaman apalagi tidur nyenyak.
Di tempatnya, Rafli tertunduk. Setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Ia
menangis.</div>
Semoga artikel Yang Tercabik bermanfaat bagi Anda.