Elegi Akhir 2000
28 Desember 2000
Sekali lagi kubaca undangan reuni di tanganku. Beberapa menit lalu Tania,
karibku di SMU RU dulu datang ke sini. Ia mengantarkan undangan reuni angkatan
98 SMU RU. Tania masih seperti dulu. Tetap cantik dan anggun dengan kaos ketat
yang dikenakannya. Kerudung kecil yang menghias kepalanya semakin mempermanis
wajah ovalnya. Ada haru, ada sedih dan bermacam perasaan lain berkecamuk dalam
hatiku. Haru karena bahagia bertemu dengannya lagi. Sedih karena dia masih
belum hijrah, membiarkan auratnya terbuka dan membuang jilbab yang beberapa
tahun lalu masih akrab bersamanya. Tadi, waktu dia kemari, mengantarkan surat
undangan ini, dia diantar Riyan teman sekelas kami dulu, hanya berdua.
Berboncengan lagi. Dan ia bukan muhrimnya. Ah, rupanya layangan surat-suratku
selama dua tahun ini tak bisa membukakan pintu hatinya untuk menangkap cahaya
hidayah-Nya. Walaupun ia masuk pesantren, toh kitab-kitab yang dikajinya tak
cukup menggugah hatinya untuk melaksanakan perintah-Nya. Untuk berhijab dan
menjauhi khalwat.
“Yach, aku kan masuk pesantren karena paksaan bapak sama ibu, masalah aku mau
pake’ jilbab atau nggak yach terserah nanti deh kalo udah tobat”
Ya Allah, sampai kapan
hidayah itu akan Kau anugerahkan padanya? Kapan dia akan terbuka pintu hatinya
hingga tergugah untuk hijrah, memenuhi perintah-Mu.
30 Desember 2000
Agak ragu kumasuki pintu pagar rumah Tania. Di pekarangan rumah, di bawah
rindang pohon mangga kulihat beberapa teman lamaku sedang asyik berbincang ria.
Ada Fery, Dani, Alung, Esi, Ida dan Fia. Melihat kedatanganku, serentak mereka
berhenti bercerita.
“Wuih…….Gile! Najwa datang juga rupanya. Tambah alim aja nich orang ” Spontan
Fery berseloroh ria disusul dengan jabat erat dan peluk hangat teman-teman
cewekku. Ada binar bahagia di wajah-wajah mereka. Ah, rasanya seperti bermimpi
hari ini. Mereka yang lama berpisah denganku, hari ini kulihat lagi, bahkan
berada dekat dalam pelukku. Esi, Ida dan Fia, mereka masih seperti dulu. Tetap
cantik dan senantiasa ceria. Hanya saja miris hatiku melihat kepala-kepala
mereka tak lagi berbalut jilbab seperti tiga tahun silam. Esi dan Fia hanya
mengenakan kerudung kecil yang tak cukup menutupi seluruh rambutnya. Dan
Ida……., ia malah memangkas habis rambut sepinggangnya dan membiarkan rambut
cepaknya tergerai bebas.
Ya Allah….. ke mana mereka buang jilbab-jilbab putih yang dua tahun silam masih
melekat di kepala-kepala mereka. Mengapa hanya kerudung kecil yang tersisa?
Mengapa? Tanya itu mendera hatiku. Jujur, kuakui waktu di SMU RU dulu mereka,
Ida, Esi, Fia aku dan teman-temanku yang lain memakai jilbab karena pihak
sekolah mewajibkannya. Bukan karena kemauan dan niat tulus yang bersumber dari
hati. Itu karena sekolah kami berada di bawah naungan lembaga Islam. Dan kami
tetaplah anak-anak sekolah yang nakal yang suka hura-hura, tawuran dan bersaing
antar geng. Tapi tidakkah pendidikan tiga tahun di SMU RU mampu membekaskan
kesadaran di hati mereka. Tidakkah nasehat-nasehat pak Damalhuji, guru fiqih
SMU RU dulu mereka ikat erat dalam hati. Apalagi Esi, bukankah dia masuk pesantren
setelah lulus RU? Ah, aku hanya menelan ludah pahit. Tapi, biar bagaimanapun
mereka tetap sahabat-sahabatku yang baik, yang senantiasa menyayangiku.
Buktinya saat ini, mereka begitu bahagia bertemu denganku, antusias dengan
ceritaku.
“Udah deh, acara peluk-pelukannya dilanjutin nanti. Sekarang giliran dengan
kita-kita dong! Wa, maaf lahir batin ya…”Ujar Fery sambil mengulurkan tangan ke
arahku diikuti oleh Dani dan Alung. Untuk sesaat aku tercekat. Agak kikuk
kuangkat tanganku dan bersidekep di depan dada.
“Maaf lahir batin juga ya. Sorry, aku nggak sempat ngirim kartu sama kalian”
ucapku dengan tersenyum. Serempak Fery, Dani dan Alung menarik tangan mereka.
Kudengar helaan nafas kekecewaan mereka hinggap di gendang telingaku. Wajah
mereka berubah masam.
“Iya, kita ngerti Wa, Kamu sekarang beda sama kita-kita. Kamu anak pesantren.
Tapi jangan ekstrim gitu lah sama kita. Masak jabat tangan aja nggak mau. Kita
kan dulu pernah dekat, satu kelompok malah. Kayaknya kita hina banget deh di
mata kamu” ucap Alung menohokku.
Ya Allah….., aku harus
bilang apa pada mereka. Aku tahu, mereka cukup paham dan mengerti kalau
berjabat tangan dengan yang bukan mahrom itu haram. Tapi mengapa mereka tidak
memahami prinsipku? Mengapa?
“Aduh, ko’ malah betah di sini sih! Alung, Fery, ajak tuh Najwa ke dalam. Tuh,
anak-anak yang lain pada nungguin kalian datang ” kehadiran Tania yang
tiba-tiba membuatku bernafas lega. Segera kami masuk ke dalam rumah.
Teman-temanku banyak yang sudah hadir. Semuanya menyalamiku hangat. Keakraban
yang pernah hilang dua tahun ini, kini kurasa kembali. Ah, bahagia ini tidak
dapat kulukiskan dengan kata-kata. Mereka kini ada bersamaku, berbagi cerita
dan tertawa bersama seperti dua tahun silam. Tapi, keadaan ruangan yang agak
glamor dengan hiasan di sana sini, campur bebas antara teman-teman cowok dan
cewekku dalam satu ruangan, membuatku merasa gerah. Hatiku tidak bisa menerima
dengan keadaan ini. Mengapa harus begini keadaannya? Bukankah lebih khidmatd
kalau dipisah. Lebih leluasa. Hatiku berontak.
Sengaja kupilih pojok ruangan sebagai tempat dudukku. Agak jauh dari kebisingan
dan tidak terlalu sesak. Tapi hatiku merasa tidak enak. Sedari tadi Alung
selalu mengekor langkah kakiku. Terus terang aku merasa risih. Walau dia hanya
bertanya bagaimana kabarku dan mengajakku berbagi cerita, tapi toh aku merasa
tidak enak di hati. Dulu, ia memang pernah dekat denganku. Bahkan Nana bilang
dia pernah menaruh hati padaku. Tapi bagiku dia hanya teman biasa. Tidak pernah
lebih dari itu. Ya Allah, ke mana lagi aku harus menghindarinya? Aku
tidak ingin khalwat ini. Tapi aku juga tidak bisa menyakitinya, meninggalkannya
begitu saja. Terlalu kentara, dan itu akan menyinggungnya untuk yang kesekian
kali. Ya Allah, ampuni aku Gusti. Dzikirku dalam hati.
Awal Januari 1998,
menjelang ujian semester
Masih dengan tas di punggungku, kumasuki kelas dengan tergesa. Di pojok ruangan
kudapati teman-temanku SAMPUL, Esi, Nana, Fia, Ida dan Mila sedang terlibat
konferensi meja persegi. Melihat kedatanganku mereka menggeser tempat duduk.
“Oke, Najwa sudah datang. Secepatnya kita selesain masalah ini” ujar Nana.
Kuambil tempat duduk di sampingnya.
“Apaan sih ko’ kalian sewot banget?”
“Biasa, anak TRIO dan SLAM bikin ulah. Mereka nantangin kita di ujian ini.
ALOECARD barusan dapet surat dari Rio. Anak SLAM nantang mereka main sepak
bola. Rupanya mereka belum kapok dengan kekalahan tempo hari. Tapi tenang aja,
Ipung dan Alung udah siap-siap kok dengan tantangan itu. Sekarang, gimana kita
menghadapi tantangan TRIO. So, terserah kamu deh gimana ngaturnya. Yang penting
kita harus menang. Pokoknya SAMPUL dan ALOECARD harus tetap jadi yang the best
” kata Nana berapi-api. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala. Berkali-kali
memang TRIO menantang kami. Dan tampaknya mereka sengaja menyulut api
permusuhan. Karena kalau kita bertemu dan berpapasan di jalan, mereka selalu
membuang muka dan terkesan sinis. Mungkin karena anak-anak SLAM sering
dikalahkan oleh ALOECARD. Sedang yang kutahu, Rio ketua SLAM adalah pacar
Tiara, ketua TRIO. So, nyambung deh permusuhannya.
“ Eh, gimana nih? Ko’ Kamu malah bengog Wa? ”
“Oh iya, gini aja. Mulai nanti malam kita belajar kelompok di rumahku. Mbak Aya
InsyaAllah bersedia membimbing kita. Pokoknya, kita harus bisa meningkatkan
prestasi belajar kita dan memenangkan tantangan ini. Jangan sampai ALOECARD
kehilangan muka di seantero SMU RU. Kita bikin mereka kapok biar nggak terlalu
sok. Masak kita dibilang cuman ngekor kesuksesan ALOECARD. Biar gini-gini kita
juga kan punya potensi?”
“Oke deh, semuanya setuju kan? Kalo kita menang di semester ini dan Ipung
beserta kawan-kawannya bisa bikin anak-anak SLAM bertekuk lutut, nanti pas
ulang tahun ipung, yang juga ulang tahun ALOECARD kita akan merayakannya
bareng-bareng di markas besar. Itu kata Ipung sama aku” Nana mengakhiri
ucapannya karena setelah itu bel berbunyi pertanda masuk kelas.
29 Februari, Ulang Tahun
ALOECARD
Dari tadi pagi aku hanya bisa mondar-mandir di kamar. Gucci di pergelangan
tanganku sudah menunjukkan jam 07.45 BBWI. Lima belas menit lagi acara di
markas ALOECARD akan dimulai. Anak-anak SAMPUL dan ALOECARD diundang
untuk hadir merayakan hari jadi ALOECARD sekaligus hari jadi ketuanya. Aku
semakin resah di kamar. Bagaimana caranya aku bisa ke sana? Bagaimana bilangnya
sama Ummi? Aduh, jutek banget deh jadinya. Kalau aku jujur sama beliau, sudah
barang tentu tidak diperbolehkan. Malah ceramah panjang lebar yang akan aku
terima dari beliau. Ummi dan Abi memang agak ekstrim dan tidak setuju dengan
pesta dan acara hura-hura seperti perayaan ulang tahun ALOECARD ini. Tapi,
kalau aku tidak menghadiri acara ini, bagaimana tanggapan teman-temanku? Mereka
akan sangat kecewa dan mengatakan aku tidak setia kawan nantinya. Tiba-tiba
terlintas akal bulus di kepalaku. Terpaksa aku melakukan ini. Habis, mau
bagaimana lagi. Kutemui Ummi yang sedang memasak di dapur.
“ Mi, Najwa mau ke toko buku. Ada buku baru yang harus dibeli” ujarku
hati-hati.
“ Tumben mau beli buku sendiri, biasanya kan nitip sama Abi, Ada apa?” tanya
beliau curiga tanpa menoleh dan terus memasukkan ikan ke dalam penggorengan.
“ Nggak ada apa-apa kok Mi, Abi kan lagi kerja. Sekali-kali kan nggak apa-apa
Najwa beli sendiri. Masak, beli buku aja masih minta tolong sama Abi ” Ujarku.
Semoga saja Ummi lupa kalau hari ini toko buku sedang tutup, harapku dalam
hati.
“ Ya sudah, sana pergi ! tapi jangan lama-lama, hati-hati di jalan !” pesan
beliau sebelum aku berlalu dari dapur.
Yes!!! Aku berhasil. Tanpa
babibu lagi, aku segera berangkat. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai
ke markas ALOECARD. Semoga saja belum telat. Karena kalau sampai telat,
bisa-bisa aku dikeroyok sama yang lain. Karena memang sudah menjadi tradisi
kelompok, kalau ada anggota yang ngaret alias sering telat kumpul pasti
deh dikerjain. Ih, dasar jahat. Tapi nggak ko’. Mereka baik-baik. Cuma, begitulah
cara kami agar anggota terbiasa tepat waktu. Because the time is money. Acara
ulang tahun segera dimulai. Cukup ramai juga, walau hanya pesta kecil-kecilan.
30 Desember 2000, Jam 10.00
BBWI
Berkali-kali aku beristihgfar kala mengingat kenakalanku waktu jahiliyah dulu.
Setiap kali ada perkumpulan ALOECARD dan SAMPUL pasti aku bela-belain hadir,
walau harus berbohong pada Ummi dan Abi. Ya Allah, ampuni Najwa, pintaku tulus.
Tapi untuk kali ini, aku tidak berbohong pada Ummi. Karena aku datang atas
saran beliau.
“Tidak baik menolak
undangan orang, apalagi teman sendiri” Begitulah kata beliau sebelum aku
berangkat jam delapan tadi.
Untuk yang kesekian kalinya kulihat jarum jam di ruang tengah. Masih jam
sepuluh. Baru dua jam acara ini berlangsung. Tapi aku merasa sudah tidak betah
berlama-lama di sini. Bau asap rokok dan keringat membuat ruangan ini semakin
terasa sesak. Belum lagi aroma parfum yang beraneka ragam serasa mengulek-ulek
isi perutku. Aku memang alergi dengan bau, entah harum ataupun apek. Pokoknya,
kepalaku asli pusing saat ini. Senut-senut dari tadi. Apalagi ketika
teman-teman mendaulatku untuk menari bersama Alung. Astagfirullah! Apalagi ini.
Kalau tahu acaranya akan seburuk ini aku akan lebih memilih absen dari pada
hadir.
Buru-buru aku ke kamar kecil. Karena kebetulan ingin muntah, tidak kuat dengan
hawa panas dan pengap di ruangan. Dari kamar kecil aku segera naik ke tingkat
dua rumah Mila. Lebih leluasa dan tidak bising. Sesampainya di atas, aku bisa
dengan leluasa menarik nafas. Menghirupnya dalam-dalam, memenuhi rongga
paru-paruku dengan udara segar dan menghembuskannya. Serasa terbebas dari
himpitan beban yang sedari tadi sempat membuatku sesak bernafas.
Ya Allah, bagaimana aku
menghindari acara gila-gilaan ini, tanpa harus menyinggung perasaan
teman-temanku. Ya Allah, aku sayang mereka, aku juga rindu dengan kebersamaan
ini. Tapi bukan begini caranya. Bukan begini. Aku ingin bersama mereka tanpa
khalwat, tanpa bising suara musik, tanpa joget ria dan tanpa asap rokok yang
paling kubenci. Kuhela nafas berat. Kutatap hamparan laut biru dan pasir yang
memutih di bawah sana. Laut tampak begitu tenang dan damai. Dari lantai dua
rumah Tania ini, dapat kulihat dengan jelas pemandangan indah di bawah sana.
Tampak perahu kecil sedang berlayar menuju tepian. Langit agak cerah namun
tidak panas karena sinar sang surya tertutup awan di langit sana. Cukup lama
kubenamkan pandanganku di batas cakrawala yang membentuk garis horizontal,
pemisah antara laut dan langit. Ada kedamaian yang mnyususp ke dalam hatiku,
menatap keindahan-Nya.
“Wa, kehidupan memang laksana lautan. Luas, tenang, namun tak jarang bergolak
berhias badai. Dan kita manusia, adalah perahu-perahu layar yang berusaha untuk
berlabuh di dermaga dengan menerjang berjuta badai dan rintangan yang ada. Ada
yang selamat sampai di dermaga, tapi tak sedikit yang karam tenggelam sebelum
berlabuh. Yah, seperti itu pulalah teman-teman kita ”.
Kutoleh kebelakang. Kulihat
Tania sudah berada di lantai dua bersamaku. Dia melangkah mendekatiku. Berhenti
dan berdiri di sampingku. Ikut menatap laut yang masih tenang di bawah sana.
“ Aku memahami perasaanmu Wa. Kau kecewa kan dengan keadaan teman-teman kita.
Tapi seperti yang aku bilang barusan. Semuanya punya keinginan untuk berlabuh
di dermaga. Semuanya berkeinginan untuk taat pada perintah-Nya. Hanya saja, tak
semua orang mampu melawan godaan yang ada. Termasuk juga aku. Jujur
kuakui, aku juga ingin sepertimu. Ingin mengabdi sepenuhnya pada-Nya. Termasuk
berhijab. Tapi, mungkin belum waktunya. Karena aku masih rapuh, Wa. Teman-teman
juga. Kuharap kau mau memahami apa adanya dan menerima perbedaan yang ada di
antara kita. Doakan kami Wa agar bisa meraih hidayah itu. Bisa memenuhi janji kita,
untuk bersama meraih ridha-Nya. Mungkin secercah do’amu bisa membuka pintu hati
kami” perkataan Tania menyusup ke gendang telingaku, menohok hatiku, meneteskan
sebutir bening air mataku.
Ya Allah, betapa sempitnya pemikiranku selama ini. Betapa naif aku dengan
kenyataan yang ada. Perkataan Tania barusan telah membuka mata hatiku. Memang
tidak mudah meraih hidayah. Aku mengakuinya. Semilir angin pantai yang
berhembus lembut, menerpa jilbab putih yang kukenakan. Sesakku tak lagi kurasa.
Dadaku terasa lebih lapang.
Ya Allah, tunjukilah
teman-temanku jalan-Mu, agar mereka kembali pada fitrahnya. Sebagai hamba-Mu
yang sejati, doaku dalam hati. Aku masih tetap terpaku di tempatku, menatap
laut. Mencoba meresapi dan memaknai perkataan Tania barusan. Berusaha memaknai
dan memahaminya dari sudut pandang yang berbeda. Tania sudah pergi dari tadi,
menemani teman-teman di bawah. Dia cukup mengerti dengan keadaanku.
“ Mengenang teman-teman dan
sahabatku di RU, Mari kita gapai Hidayah-Nya! ”
“ Kesadaran walau hanya
sesaat
lebih berarti dari
pengalaman seumur hidup “
(Oliver Wendel)
Semoga artikel Elegi Akhir 2000 bermanfaat bagi Anda.