Senin, 26 November 2012

Elegi Akhir 2000


28 Desember 2000
Sekali lagi kubaca undangan reuni di tanganku. Beberapa menit lalu Tania, karibku di SMU RU dulu datang ke sini. Ia mengantarkan undangan reuni angkatan 98 SMU RU. Tania masih seperti dulu. Tetap cantik dan anggun dengan kaos ketat yang dikenakannya. Kerudung kecil yang menghias kepalanya semakin mempermanis wajah ovalnya. Ada haru, ada sedih dan bermacam perasaan lain berkecamuk dalam hatiku. Haru karena bahagia bertemu dengannya lagi. Sedih karena dia masih belum hijrah, membiarkan auratnya terbuka dan membuang jilbab yang beberapa tahun lalu masih akrab bersamanya. Tadi, waktu dia kemari, mengantarkan surat undangan ini, dia diantar Riyan teman sekelas kami dulu, hanya berdua. Berboncengan lagi. Dan ia bukan muhrimnya. Ah, rupanya layangan surat-suratku selama dua tahun ini tak bisa membukakan pintu hatinya untuk menangkap cahaya hidayah-Nya. Walaupun ia masuk pesantren, toh kitab-kitab yang dikajinya tak cukup menggugah hatinya untuk melaksanakan perintah-Nya. Untuk berhijab dan menjauhi khalwat.
“Yach, aku kan masuk pesantren karena paksaan bapak sama ibu, masalah aku mau pake’ jilbab atau nggak yach terserah nanti deh kalo udah tobat”
Ya Allah, sampai kapan hidayah itu akan Kau anugerahkan padanya? Kapan dia akan terbuka pintu hatinya hingga tergugah untuk hijrah, memenuhi perintah-Mu.

30 Desember  2000
Agak ragu kumasuki pintu pagar rumah Tania. Di pekarangan rumah, di bawah rindang pohon mangga kulihat beberapa teman lamaku sedang asyik berbincang ria. Ada Fery, Dani, Alung, Esi, Ida dan Fia. Melihat kedatanganku, serentak mereka berhenti bercerita.
“Wuih…….Gile! Najwa datang juga rupanya. Tambah alim aja nich orang ” Spontan Fery berseloroh ria disusul dengan jabat erat dan peluk hangat teman-teman cewekku. Ada binar bahagia di wajah-wajah mereka. Ah, rasanya seperti bermimpi hari ini. Mereka yang lama berpisah denganku, hari ini kulihat lagi, bahkan berada dekat dalam pelukku. Esi, Ida dan Fia, mereka masih seperti dulu. Tetap cantik dan senantiasa ceria. Hanya saja miris hatiku melihat kepala-kepala mereka tak lagi berbalut jilbab seperti tiga tahun silam. Esi dan Fia hanya mengenakan kerudung kecil yang tak cukup menutupi seluruh rambutnya. Dan Ida……., ia malah memangkas habis rambut sepinggangnya dan membiarkan rambut cepaknya tergerai bebas.
Ya Allah….. ke mana mereka buang jilbab-jilbab putih yang dua tahun silam masih melekat di kepala-kepala mereka. Mengapa hanya kerudung kecil yang tersisa? Mengapa? Tanya itu mendera hatiku. Jujur, kuakui waktu di SMU RU dulu mereka, Ida, Esi, Fia aku dan teman-temanku yang lain memakai jilbab karena pihak sekolah mewajibkannya. Bukan karena kemauan dan niat tulus yang bersumber dari hati. Itu karena sekolah kami berada di bawah naungan lembaga Islam. Dan kami tetaplah anak-anak sekolah yang nakal yang suka hura-hura, tawuran dan bersaing antar geng. Tapi tidakkah pendidikan tiga tahun di SMU RU mampu membekaskan kesadaran di hati mereka. Tidakkah nasehat-nasehat pak Damalhuji, guru fiqih SMU RU dulu mereka ikat erat dalam hati. Apalagi Esi, bukankah dia masuk pesantren setelah lulus RU? Ah, aku hanya menelan ludah pahit. Tapi, biar bagaimanapun mereka tetap sahabat-sahabatku yang baik, yang senantiasa menyayangiku. Buktinya saat ini, mereka begitu bahagia bertemu denganku, antusias dengan ceritaku.
“Udah deh, acara peluk-pelukannya dilanjutin nanti. Sekarang giliran dengan kita-kita dong! Wa, maaf lahir batin ya…”Ujar Fery sambil mengulurkan tangan ke arahku diikuti oleh Dani dan Alung. Untuk sesaat aku tercekat. Agak kikuk kuangkat tanganku dan bersidekep di depan dada.
“Maaf lahir batin juga ya. Sorry, aku nggak sempat ngirim kartu sama kalian” ucapku dengan tersenyum. Serempak Fery, Dani dan Alung menarik tangan mereka. Kudengar helaan nafas kekecewaan mereka hinggap di gendang telingaku. Wajah mereka berubah masam.
“Iya, kita ngerti Wa, Kamu sekarang beda sama kita-kita. Kamu anak pesantren. Tapi jangan ekstrim gitu lah sama kita. Masak jabat tangan aja nggak mau. Kita kan dulu pernah dekat, satu kelompok malah. Kayaknya kita hina banget deh di mata kamu” ucap Alung menohokku.
Ya Allah….., aku harus bilang apa pada mereka. Aku tahu, mereka cukup paham dan mengerti kalau berjabat tangan dengan yang bukan mahrom itu haram. Tapi mengapa mereka tidak memahami prinsipku? Mengapa?
“Aduh, ko’ malah betah di sini sih! Alung, Fery, ajak tuh Najwa ke dalam. Tuh, anak-anak yang lain pada nungguin kalian datang ” kehadiran Tania yang tiba-tiba membuatku bernafas lega. Segera kami masuk ke dalam rumah. Teman-temanku banyak yang sudah hadir. Semuanya menyalamiku hangat. Keakraban yang pernah hilang dua tahun ini, kini kurasa kembali. Ah, bahagia ini tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Mereka kini ada bersamaku, berbagi cerita dan tertawa bersama seperti dua tahun silam. Tapi, keadaan ruangan yang agak glamor dengan hiasan di sana sini, campur bebas antara teman-teman cowok dan cewekku dalam satu ruangan, membuatku merasa gerah. Hatiku tidak bisa menerima dengan keadaan ini. Mengapa harus begini keadaannya? Bukankah lebih khidmatd kalau dipisah. Lebih leluasa. Hatiku berontak.
Sengaja kupilih pojok ruangan sebagai tempat dudukku. Agak jauh dari kebisingan dan tidak terlalu sesak. Tapi hatiku merasa tidak enak. Sedari tadi Alung selalu mengekor langkah kakiku. Terus terang aku merasa risih. Walau dia hanya bertanya bagaimana kabarku dan mengajakku berbagi cerita, tapi toh aku merasa tidak enak di hati. Dulu, ia memang pernah dekat denganku. Bahkan Nana bilang dia pernah menaruh hati padaku. Tapi bagiku dia hanya teman biasa. Tidak pernah lebih dari itu.  Ya Allah, ke mana lagi aku harus menghindarinya? Aku tidak ingin khalwat ini. Tapi aku juga tidak bisa menyakitinya, meninggalkannya begitu saja. Terlalu kentara, dan itu akan menyinggungnya untuk yang kesekian kali. Ya Allah, ampuni aku Gusti. Dzikirku dalam hati.

Awal Januari 1998, menjelang ujian semester
Masih dengan tas di punggungku, kumasuki kelas dengan tergesa. Di pojok ruangan kudapati teman-temanku SAMPUL, Esi, Nana, Fia, Ida dan Mila sedang terlibat konferensi meja persegi. Melihat kedatanganku mereka menggeser tempat duduk.
“Oke, Najwa sudah datang. Secepatnya kita selesain masalah ini” ujar Nana. Kuambil tempat duduk di sampingnya.
“Apaan sih ko’ kalian sewot banget?”
“Biasa, anak TRIO dan SLAM bikin ulah. Mereka nantangin kita di ujian ini. ALOECARD barusan dapet surat dari Rio. Anak SLAM nantang mereka main sepak bola. Rupanya mereka belum kapok dengan kekalahan tempo hari. Tapi tenang aja, Ipung dan Alung udah siap-siap kok dengan tantangan itu. Sekarang, gimana kita menghadapi tantangan TRIO. So, terserah kamu deh gimana ngaturnya. Yang penting kita harus menang. Pokoknya SAMPUL dan ALOECARD harus tetap jadi yang the best ” kata Nana berapi-api. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala. Berkali-kali memang TRIO menantang kami. Dan tampaknya mereka sengaja menyulut api permusuhan. Karena kalau kita bertemu dan berpapasan di jalan, mereka selalu membuang muka dan terkesan sinis. Mungkin karena anak-anak SLAM sering dikalahkan oleh ALOECARD. Sedang yang kutahu, Rio ketua SLAM adalah pacar Tiara, ketua TRIO. So, nyambung deh permusuhannya.
“ Eh, gimana nih? Ko’ Kamu malah bengog Wa? ”
“Oh iya, gini aja. Mulai nanti malam kita belajar kelompok di rumahku. Mbak Aya InsyaAllah bersedia membimbing kita. Pokoknya, kita harus bisa meningkatkan prestasi belajar kita dan memenangkan tantangan ini. Jangan sampai ALOECARD kehilangan muka di seantero SMU RU. Kita bikin mereka kapok biar nggak terlalu sok. Masak kita dibilang cuman ngekor kesuksesan ALOECARD. Biar gini-gini kita juga kan punya potensi?” 
“Oke deh, semuanya setuju kan? Kalo kita menang di semester ini dan Ipung beserta kawan-kawannya bisa bikin anak-anak SLAM bertekuk lutut, nanti pas ulang tahun ipung, yang juga ulang tahun ALOECARD kita akan merayakannya bareng-bareng di markas besar. Itu kata Ipung sama aku” Nana mengakhiri ucapannya karena setelah itu bel berbunyi pertanda masuk kelas.

29 Februari, Ulang Tahun ALOECARD
Dari tadi pagi aku hanya bisa mondar-mandir di kamar. Gucci di pergelangan tanganku sudah menunjukkan jam 07.45 BBWI. Lima belas menit lagi acara di markas ALOECARD  akan dimulai. Anak-anak SAMPUL dan ALOECARD diundang untuk hadir merayakan hari jadi ALOECARD sekaligus hari jadi ketuanya. Aku semakin resah di kamar. Bagaimana caranya aku bisa ke sana? Bagaimana bilangnya sama Ummi? Aduh, jutek banget deh jadinya. Kalau aku jujur sama beliau, sudah barang tentu tidak diperbolehkan. Malah ceramah panjang lebar yang akan aku terima dari beliau. Ummi dan Abi memang agak ekstrim dan tidak setuju dengan pesta dan acara hura-hura seperti perayaan ulang tahun ALOECARD ini. Tapi, kalau aku tidak menghadiri acara ini, bagaimana tanggapan teman-temanku? Mereka akan sangat kecewa dan mengatakan aku tidak setia kawan nantinya. Tiba-tiba terlintas akal bulus di kepalaku. Terpaksa aku melakukan ini. Habis, mau bagaimana lagi. Kutemui Ummi yang sedang memasak di dapur.
“ Mi, Najwa mau ke toko buku. Ada buku baru yang harus dibeli” ujarku hati-hati.
“ Tumben mau beli buku sendiri, biasanya kan nitip sama Abi, Ada apa?” tanya beliau curiga tanpa menoleh dan terus memasukkan ikan ke dalam penggorengan.
“ Nggak ada apa-apa kok Mi, Abi kan lagi kerja. Sekali-kali kan nggak apa-apa Najwa beli sendiri. Masak, beli buku aja masih minta tolong sama Abi ” Ujarku. Semoga saja Ummi lupa kalau hari ini toko buku sedang tutup, harapku dalam hati.
“ Ya sudah, sana pergi ! tapi jangan lama-lama, hati-hati di jalan !” pesan beliau sebelum aku berlalu dari dapur.
Yes!!! Aku berhasil. Tanpa babibu lagi, aku segera berangkat. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai ke markas ALOECARD. Semoga saja belum telat.  Karena kalau sampai telat, bisa-bisa aku dikeroyok sama yang lain. Karena memang sudah menjadi tradisi kelompok, kalau ada anggota yang ngaret  alias sering telat kumpul pasti deh dikerjain. Ih, dasar jahat. Tapi nggak ko’. Mereka baik-baik. Cuma, begitulah cara kami agar anggota terbiasa tepat waktu. Because the time is money. Acara ulang tahun segera dimulai. Cukup ramai juga, walau hanya pesta kecil-kecilan.

30 Desember 2000, Jam 10.00 BBWI
Berkali-kali aku beristihgfar kala mengingat kenakalanku waktu jahiliyah dulu. Setiap kali ada perkumpulan ALOECARD dan SAMPUL pasti aku bela-belain hadir, walau harus berbohong pada Ummi dan Abi. Ya Allah, ampuni Najwa, pintaku tulus. Tapi untuk kali ini, aku tidak berbohong pada Ummi. Karena aku datang atas saran beliau.
“Tidak baik menolak undangan orang, apalagi teman sendiri” Begitulah kata beliau sebelum aku berangkat jam delapan tadi.
Untuk yang kesekian kalinya kulihat jarum jam di ruang tengah. Masih jam sepuluh. Baru dua jam acara ini berlangsung. Tapi aku merasa sudah tidak betah berlama-lama di sini. Bau asap rokok dan keringat membuat ruangan ini semakin terasa sesak. Belum lagi aroma parfum yang beraneka ragam serasa mengulek-ulek isi perutku. Aku memang alergi dengan bau, entah harum ataupun apek. Pokoknya, kepalaku asli pusing saat ini. Senut-senut dari tadi.  Apalagi ketika teman-teman mendaulatku untuk menari bersama Alung. Astagfirullah! Apalagi ini. Kalau tahu acaranya akan seburuk ini aku akan lebih memilih absen dari pada hadir.
Buru-buru aku ke kamar kecil. Karena kebetulan ingin muntah, tidak kuat dengan hawa panas dan pengap di ruangan. Dari kamar kecil aku segera naik ke tingkat dua rumah Mila. Lebih leluasa dan tidak bising. Sesampainya di atas, aku bisa dengan leluasa menarik nafas. Menghirupnya dalam-dalam, memenuhi rongga paru-paruku dengan udara segar dan menghembuskannya. Serasa terbebas dari himpitan beban yang sedari tadi sempat membuatku sesak bernafas.
Ya Allah, bagaimana aku menghindari acara gila-gilaan ini, tanpa harus menyinggung perasaan teman-temanku. Ya Allah, aku sayang mereka, aku juga rindu dengan kebersamaan ini. Tapi bukan begini caranya. Bukan begini. Aku ingin bersama mereka tanpa khalwat, tanpa bising suara musik, tanpa joget ria dan tanpa asap rokok yang paling kubenci. Kuhela nafas berat. Kutatap hamparan laut biru dan pasir yang memutih di bawah sana. Laut tampak begitu tenang dan damai. Dari lantai dua rumah Tania ini, dapat kulihat dengan jelas pemandangan indah di bawah sana. Tampak perahu kecil sedang berlayar menuju tepian. Langit agak cerah namun tidak panas karena sinar sang surya tertutup awan di langit sana. Cukup lama kubenamkan pandanganku di batas cakrawala yang membentuk garis horizontal, pemisah antara laut dan langit. Ada kedamaian yang mnyususp ke dalam hatiku, menatap keindahan-Nya.
“Wa, kehidupan memang laksana lautan. Luas, tenang, namun tak jarang bergolak berhias badai. Dan kita manusia, adalah perahu-perahu layar yang berusaha untuk berlabuh di dermaga dengan menerjang berjuta badai dan rintangan yang ada. Ada yang selamat sampai di dermaga, tapi tak sedikit yang karam tenggelam sebelum berlabuh. Yah, seperti itu pulalah teman-teman kita ”.
Kutoleh kebelakang. Kulihat Tania sudah berada di lantai dua bersamaku. Dia melangkah mendekatiku. Berhenti dan berdiri di sampingku. Ikut menatap laut yang masih tenang di bawah sana.
“ Aku memahami perasaanmu Wa. Kau kecewa kan dengan keadaan teman-teman kita. Tapi seperti yang aku bilang barusan. Semuanya punya keinginan untuk berlabuh di dermaga. Semuanya berkeinginan untuk taat pada perintah-Nya. Hanya saja, tak semua orang mampu melawan godaan yang ada. Termasuk juga aku.  Jujur kuakui, aku juga ingin sepertimu. Ingin mengabdi sepenuhnya pada-Nya. Termasuk berhijab. Tapi, mungkin belum waktunya. Karena aku masih rapuh, Wa. Teman-teman juga. Kuharap kau mau memahami apa adanya dan menerima perbedaan yang ada di antara kita. Doakan kami Wa agar bisa meraih hidayah itu. Bisa memenuhi janji kita, untuk bersama meraih ridha-Nya. Mungkin secercah do’amu bisa membuka pintu hati kami” perkataan Tania menyusup ke gendang telingaku, menohok hatiku, meneteskan sebutir bening air mataku. 
Ya Allah, betapa sempitnya pemikiranku selama ini. Betapa naif aku dengan kenyataan yang ada. Perkataan Tania barusan telah membuka mata hatiku. Memang tidak mudah meraih hidayah. Aku mengakuinya. Semilir angin pantai yang berhembus lembut, menerpa jilbab putih yang kukenakan. Sesakku tak lagi kurasa. Dadaku terasa lebih lapang.
Ya Allah, tunjukilah teman-temanku jalan-Mu, agar mereka kembali pada fitrahnya. Sebagai hamba-Mu yang sejati, doaku dalam hati. Aku masih tetap terpaku di tempatku, menatap laut. Mencoba meresapi dan memaknai perkataan Tania barusan. Berusaha memaknai dan memahaminya dari sudut pandang yang berbeda. Tania sudah pergi dari tadi, menemani teman-teman di bawah. Dia cukup mengerti dengan keadaanku. 

“ Mengenang teman-teman dan sahabatku di RU, Mari kita gapai Hidayah-Nya! ”

“ Kesadaran walau hanya sesaat
lebih berarti dari pengalaman seumur hidup “
(Oliver Wendel)


Semoga artikel Elegi Akhir 2000 bermanfaat bagi Anda.

Hikayat Kita - All Right Reserved.Powered By Blogger
Theme Designed Kumpulan artikel Menarik